<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2004672938421045134</id><updated>2011-07-07T16:28:39.218-07:00</updated><title type='text'>satoe syndicate</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>satoe syndicate</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08856438899076171009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>34</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2004672938421045134.post-813508937726519165</id><published>2009-05-18T22:02:00.001-07:00</published><updated>2009-05-18T22:02:43.818-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;img style="visibility:hidden;width:0px;height:0px;" border=0 width=0 height=0 src="http://counters.gigya.com/wildfire/IMP/CXNID=2000002.11NXC/bHQ9MTI*MjcwOTI4OTM*MyZwdD*xMjQyNzA5MzUxOTUzJnA9Mzg2MzYxJmQ9Jm49YmxvZ2dlciZnPTEmdD*mb2Y9MA==.gif" /&gt;&lt;a href="http://s583.photobucket.com/albums/ss278/Larz_cavalera/?action=view&amp;current=tangkuban_Perahu.jpg" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://i583.photobucket.com/albums/ss278/Larz_cavalera/tangkuban_Perahu.jpg" border="0" alt="Gunung,Tangkuban"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2004672938421045134-813508937726519165?l=satoesyndicate.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/feeds/813508937726519165/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2004672938421045134&amp;postID=813508937726519165' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/813508937726519165'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/813508937726519165'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/2009/05/gunungtangkuban.html' title=''/><author><name>satoe syndicate</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08856438899076171009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2004672938421045134.post-6346645952548819274</id><published>2009-05-15T12:47:00.001-07:00</published><updated>2009-05-15T12:47:44.427-07:00</updated><title type='text'>Gunung Tangkubang perahu</title><content type='html'>Gunung Tangkuban Parahu atau Gunung Tangkuban Perahu adalah salah satu gunung yang terletak di provinsi Jawa Barat, Indonesia. Sekitar 20 km ke arah utara Kota Bandung, dengan rimbun pohon pinus dan hamparan kebun teh di sekitarnya, gunung Tangkuban Parahu mempunyai ketinggian setinggi 2.084 meter. Bentuk gunung ini adalah Stratovulcano dengan pusat erupsi yang berpindah dari timur ke barat. Jenis batuan yang dikeluarkan melalui letusan kebanyakan adalah lava dan sulfur, mineral yang dikeluarkan adalah sulfur belerang, mineral yang dikeluarkan saat gunung tidak aktif adalah uap belerang. Daerah Gunung Tangkuban Perahu dikelola oleh Perum Perhutanan. Suhu rata-rata hariannya adalah 17oC pada siang hari dan 2 oC pada malam hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Tangkuban Parahu mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[sunting] Legenda rakyat setempat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    !Artikel utama untuk bagian ini adalah: Legenda Sangkuriang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal-usul Gunung Tangkuban Parahu dikaitkan dengan legenda Sangkuriang, yang dikisahkan jatuh cinta kepada ibunya, Dayang Sumbi. Untuk menggagalkan niat anaknya menikahinya, Dayang Sumbi mengajukan syarat supaya Sangkuriang membuat perahu dalam semalam. Ketika usahanya gagal, Sangkuriang marah dan menendang perahu itu, sehingga mendarat dalam keadaan terbalik. Perahu inilah yang kemudian membentuk Gunung Tangkuban Parahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Tangkuban Parahu ini termasuk gunung api aktif yang statusnya diawasi terus oleh Direktorat Vulkanologi Indonesia. Beberapa kawahnya masih menunjukkan tanda tanda keaktifan gunung ini. Diantara tanda gunung berapi ini adalah munculnya gas belerang dan sumber-sumber air panas di kaki gunung nya diantaranya adalah di kasawan Ciater, Subang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan gunung ini serta bentuk topografi Bandung yang berupa cekungan dengan bukit dan gunung di setiap sisinya menguatkan teori keberadaan sebuah telaga (kawah) besar yang kini merupakan kawasan Bandung. Diyakini oleh para ahli geologi bahwa kawasan dataran tinggi Bandung dengan ketinggian kurang lebih 709 m diatas permukaan laut merupakan sisa dari letusan gunung api purba yang dikenal sebagai Gunung Sunda dan Gunung Tangkuban Parahu merupakan sisa Gunung Sunda purba yang masih aktif. Fenomena seperti ini dapat dilihat pada Gunung Krakatau di Selat Sunda dan kawasan Ngorongoro di Tanzania, Afrika. Sehingga legenda Sangkuriang yang merupakan cerita masyarakat kawasan itu diyakini merupakan sebuah dokumentasi masyarakat kawasan Gunung sunda purba terhadap peristiwa pada saat itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2004672938421045134-6346645952548819274?l=satoesyndicate.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/feeds/6346645952548819274/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2004672938421045134&amp;postID=6346645952548819274' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/6346645952548819274'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/6346645952548819274'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/2009/05/gunung-tangkubang-perahu.html' title='Gunung Tangkubang perahu'/><author><name>satoe syndicate</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08856438899076171009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2004672938421045134.post-7659243988884768037</id><published>2009-05-15T12:45:00.000-07:00</published><updated>2009-05-15T12:47:07.805-07:00</updated><title type='text'>Gunung Tambora</title><content type='html'>unung Tambora (atau Tomboro) adalah sebuah stratovolcano aktif yang terletak di pulau Sumbawa, Indonesia. Gunung ini terletak di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Dompu (sebagian kaki sisi selatan sampai barat laut, dan Kabupaten Bima (bagian lereng sisi selatan hingga barat laut, dan kaki hingga puncak sisi timur hingga utara), Provinsi Nusa Tenggara Barat, tepatnya pada 8°15' LS dan 118° BT. Gunung ini terletak baik di sisi utara dan selatan kerak oseanik. Tambora terbentuk oleh zona subduksi di bawahnya. Hal ini meningkatkan ketinggian Tambora sampai 4.300 m[2] yang membuat gunung ini pernah menjadi salah satu puncak tertinggi di Nusantara dan mengeringkan dapur magma besar di dalam gunung ini. Perlu waktu seabad untuk mengisi kembali dapur magma tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas vulkanik gunung berapi ini mencapai puncaknya pada bulan April tahun 1815 ketika meletus dalam skala tujuh pada Volcanic Explosivity Index.[3] Letusan tersebut menjadi letusan tebesar sejak letusan danau Taupo pada tahun 181.[4] Letusan gunung ini terdengar hingga pulau Sumatra (lebih dari 2.000 km). Abu vulkanik jatuh di Kalimantan, Sulawesi, Jawa dan Maluku. Letusan gunung ini menyebabkan kematian hingga tidak kurang dari 71.000 orang dengan 11.000—12.000 di antaranya terbunuh secara langsung akibat dari letusan tersebut.[4] Bahkan beberapa peneliti memperkirakan sampai 92.000 orang terbunuh, tetapi angka ini diragukan karena berdasarkan atas perkiraan yang terlalu tinggi.[5] Lebih dari itu, letusan gunung ini menyebabkan perubahan iklim dunia. Satu tahun berikutnya (1816) sering disebut sebagai Tahun tanpa musim panas karena perubahan drastis dari cuaca Amerika Utara dan Eropa karena debu yang dihasilkan dari letusan Tambora ini. Akibat perubahan iklim yang drastis ini banyak panen yang gagal dan kematian ternak di Belahan Utara yang menyebabkan terjadinya kelaparan terburuk pada abad ke-19.[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama penggalian arkeologi tahun 2004, tim arkeolog menemukan sisa kebudayaan yang terkubur oleh letusan tahun 1815 di kedalaman 3 meter pada endapan piroklastik.[6] Artifak-artifak tersebut ditemukan pada posisi yang sama ketika terjadi letusan di tahun 1815. Karena ciri-ciri yang serupa inilah, temuan tersebut sering disebut sebagai Pompeii dari timur.&lt;br /&gt;Daftar isi&lt;br /&gt;[sembunyikan]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * 1 Geografi&lt;br /&gt;    * 2 Sejarah geologis&lt;br /&gt;          o 2.1 Pembentukan&lt;br /&gt;          o 2.2 Sejarah letusan&lt;br /&gt;    * 3 Letusan tahun 1815&lt;br /&gt;          o 3.1 Kronologi letusan&lt;br /&gt;          o 3.2 Akibat&lt;br /&gt;          o 3.3 Pengaruh global&lt;br /&gt;    * 4 Bukti arkeologi&lt;br /&gt;    * 5 Ekosistem&lt;br /&gt;    * 6 Pengamatan&lt;br /&gt;    * 7 Catatan kaki&lt;br /&gt;    * 8 Daftar pustaka&lt;br /&gt;    * 9 Pranala luar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[sunting] Geografi&lt;br /&gt;Pemandangan gunung Tambora dan sekelilingnya dari udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Tambora terletak di pulau Sumbawa yang merupakan bagian dari kepulauan Nusa Tenggara. Gunung ini adalah bagian dari busur Sunda, tali dari kepulauan vulkanik yang membentuk rantai selatan kepulauan Indonesia.[7] Tambora membentuk semenanjungnya sendiri di pulau Sumbawa yang disebut semenanjung Sanggar. Di sisi utara semenanjung tersebut, terdapat laut Flores, dan di sebelah selatan terdapat teluk Saleh dengan panjang 86 km dan lebar 36 km. Pada mulut teluk Saleh, terdapat pulau kecil yang disebut Mojo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain seismologis dan vulkanologis yang mengamati aktivitas gunung tersebut, gunung Tambora adalah daerah untuk riset ilmiah arkeolog dan biologi. Gunung ini juga menarik turis untuk mendaki gunung dan aktivitas margasatwa.[8][9] Dompu dan Bima adalah kota yang letaknya paling dekat dengan gunung ini. Di lereng gunung Tambora, terdapat beberapa desa. Di sebelah timur terdapat desa Sanggar. Di sebelah barat laut, terdapat desa Doro Peti dan desa Pesanggrahan. Di sebelah barat, terdapat desa Calabai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat dua jalur pendakian untuk mencapai kaldera gunung Tambora. Rute pertama dimulai dari desa Doro Mboha yang terletak di sisi tenggara gunung Tambora. Rute ini mengikuti jalan beraspal melalui perkebunan kacang mede sampai akhirnya mencapai ketinggian 1.150 m diatas permukaan laut. Rute ini berakhir di bagian selatan kaldera dengan ketinggian 1.950 m yang dapat dicapai oleh titik pertengahan jalur pendakian.[10] Lokasi ini biasanya digunakan sebagai kemah untuk mengamati aktivitas vulkanik karena hanya memerlukan waktu satu jam untuk mencapai kaldera. Rute kedua dimulai dari desa Pancasila di sisi barat laut gunung Tambora. Jika menggunakan rute kedua, maka kaldera hanya dapat dicapai dengan berjalan kaki.[10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[sunting] Sejarah geologis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[sunting] Pembentukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tambora terbentang 340 km di sebelah utara sistem palung Jawa dan 180-190 km diatas zona subduksi. Gunung ini terletak baik di sisi utara dan selatan kerak oseanik.[11] Gunung ini memiliki laju konvergensi sebesar 7.8 cm per tahun.[12] Tambora diperkirakan telah berada di bumi sejak 57.000 BP (penanggalan radiokarbon standar).[3] Ketika gunung ini meninggi akibat proses geologi di bawahnya, dapur magma yang besar ikut terbentuk dan sekaligus mengosongkan isi magma. Pulau Mojo pun ikut terbentuk sebagai bagian dari proses geologi ini di mana teluk Saleh pada awalnya merupakan cekungan samudera (sekitar 25.000 BP).[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut penyelidikan geologi, kerucut vulkanik yang tinggi sudah terbentuk sebelum letusan tahun 1815 dengan karakteristik yang sama dengan bentuk stratovolcano.[13] Diameter lubang tersebut mencapai 60 km.[7] Lubang utama sering kali memancarkan lava yang mengalir turun secara teratur dengan deras ke lereng yang curam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak letusan tahun 1815, pada bagian paling bawah terdapat endapan lava dan material piroklastik. Kira-kira 40% dari lapisan diwakili oleh 1-4 m aliran lava tipis.[13] Scoria tipis diproduksi oleh fragmentasi aliran lava. Pada bagian atas, lava ditutup oleh scoria, tuff dan bebatuan piroklastik yang mengalir ke bawah.[13] Pada gunung Tambora, terdapat 20 kawah.[12] Beberapa kawah memiliki nama, misalnya Tahe (877 m), Molo (602 m), Kadiendinae, Kubah (1648 m) dan Doro Api Toi. Kawah tersebut juga memproduksi aliran lava basal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[sunting] Sejarah letusan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menggunakan teknik penanggalan radiokarbon, dinyatakan bahwa gunung Tambora telah meletus tiga kali sebelum letusan tahun 1815, tetapi besarnya letusan tidak diketahui.[14] Perkiraan tanggal letusannya ialah tahun 3910 SM ± 200 tahun, 3050 SM dan 740 ± 150 tahun. Ketiga letusan tersebut memiliki karakteristik letusan yang sama. Masing-masing letusan memiliki letusan di lubang utama, tetapi terdapat pengecualian untuk erupsi ketiga. Pada erupsi ketiga, tidak terdapat aliran piroklastik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1812, gunung Tambora menjadi lebih aktif, dengan puncak letusannya terjadi pada bulan April tahun 1815.[14] Besar letusan ini masuk ke dalam skala tujuh Volcanic Explosivity Index (VEI), dengan jumlah semburan tefrit sebesar 1.6 × 1011 meter kubik.[14] Karakteristik letusannya termasuk letusan di lubang utama, aliran piroklastik, korban jiwa, kerusakan tanah dan lahan, tsunami dan runtuhnya kaldera. Letusan ketiga ini mempengaruhi iklim global dalam waktu yang lama. Aktivitas Tambora setelah letusan tersebut baru berhenti pada tanggal 15 Juli 1815.[14] Aktivitas selanjutnya kemudian terjadi pada bulan Agustus tahun 1819 dengan adanya letusan-letusan kecil dengan api dan bunyi gemuruh disertai gempa susulan yang dianggap sebagai bagian dari letusan tahun 1815.[4] Letusan ini masuk dalam skala kedua pada skala VEI. Sekitar tahun 1880 ± 30 tahun, Tambora kembali meletus, tetapi hanya di dalam kaldera.[14] Letusan ini membuat aliran lava kecil dan ekstrusi kubah lava, yang kemudian membentuk kawah baru bernama Doro Api Toi di dalam kaldera.[15]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Tambora masih berstatus aktif. Kubah lava kecil dan aliran lava masih terjadi pada lantai kaldera pada abad ke-19 dan abad ke-20.[1] Letusan terakhir terjadi pada tahun 1967,[14] yang disertai dengan gempa dan terukur pada skala 0 VEI, yang berarti letusan terjadi tanpa disertai dengan ledakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[sunting] Letusan tahun 1815&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[sunting] Kronologi letusan&lt;br /&gt;Daerah yang diperkirakan terkena abu letusan Tambora tahun 1815. Daerah merah menunjukan ketebalan abu vulkanik. Abu tersebut mencapai pulau Kalimantan dan Sulawesi (ketebalan 1 cm).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Tambora mengalami ketidakaktifan selama beberapa abad sebelum tahun 1815, dikenal dengan nama gunung berapi "tidur", yang merupakan hasil dari pendinginan hydrous magma di dalam dapur magma yang tertutup.[7] Didalam dapur magma dalam kedalaman sekitar 1,5-4,5 km, larutan padat dari cairan magma bertekanan tinggi terbentuk pada saat pendinginan dan kristalisasi magma. Tekanan di kamar makma sekitar 4-5 kbar muncul dan temperatur sebesar 700 °C-850 °C.[7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1812, kaldera gunung Tambora mulai bergemuruh dan menghasilkan awan hitam.[2] Pada tanggal 5 April 1815, erupsi terjadi, diikuti dengan suara guruh yang terdengar di Makassar, Sulawesi (380 km dari gunung Tambora), Batavia (kini Jakarta) di pulau Jawa (1.260 km dari gunung Tambora), dan Ternate di Maluku (1400 km dari gunung Tambora). Suara guruh ini terdengar sampai ke pulau Sumatera pada tanggal 10-11 April 1815 (lebih dari 2.600 km dari gunung Tambora) yang awalnya dianggap sebagai suara tembakan senapan.[16] Pada pagi hari tanggal 6 April 1815, abu vulkanik mulai jatuh di Jawa Timur dengan suara guruh terdengar sampai tanggal 10 April 1815.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pukul 7:00 malam tanggal 10 April, letusan gunung ini semakin kuat.[2] Tiga lajur api terpancar dan bergabung.[16] Seluruh pegunungan berubah menjadi aliran besar api.[16] Batuan apung dengan diameter 20 cm mulai menghujani pada pukul 8:00 malam, diikuti dengan abu pada pukul 9:00-10:00 malam. Aliran piroklastik panas mengalir turun menuju laut di seluruh sisi semenanjung, memusnahkan desa Tambora. Ledakan besar terdengar sampai sore tanggal 11 April. Abu menyebar sampai Jawa Barat dan Sulawesi Selatan. Bau "nitrat" tercium di Batavia dan hujan besar yang disertai dengan abu tefrit jatuh, akhirnya reda antara tangal 11 dan 17 April 1815.[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Letusan pertama terdengar di pulau ini pada sore hari tanggal 5 April, mereka menyadarinya setiap seperempat jam, dan terus berlanjut dengan jarak waktu sampai hari selanjutnya. Suaranya, pada contoh pertama, hampir dianggap suara meriam; sangat banyak sehingga sebuah detasemen tentara bergerak dari Djocjocarta, dengan perkiraan bahwa pos terdekat diserang, dan sepanjang pesisir, perahu-perahu dikirimkan pada dua kesempatan dalam pencarian sebuah kapal yang semestinya berada dalam keadaan darurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    — Laporan Thomas Stamford Raffles.[16]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Letusan tersebut masuk dalam skala tujuh pada skala Volcanic Explosivity Index.[17] Letusan ini empat kali lebih kuat daripada letusan gunung Krakatau tahun 1883. Diperkirakan 100 km³ piroklastik trakiandesit dikeluarkan, dengan perkiraan massa 1,4×1014 kg.[4] Hal ini meninggalkan kaldera dengan ukuran 6-7 km dan kedalaman 600-700 m.[2] Massa jenis abu yang jatuh di Makassar sebesar 636 kg/m².[18] Sebelum letusan, gunung Tambora memiliki ketinggian kira-kira 4.300 m,[2] salah satu puncak tertinggi di Indonesia. Setelah letusan, tinggi gunung ini hanya setinggi 2.851 m.[19]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Letusan Tambora tahun 1815 adalah letusan terbesar di sejarah.[2][4] Letusan gunung ini terdengar sejauh 2.600 km, dan abu jatuh setidaknya sejauh 1.300 km.[2] Kegelapan terlihat sejauh 600 km dari puncak gunung selama lebih dari dua hari. Aliran piroklastik menyebar setidaknya 20 km dari puncak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[sunting] Akibat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua tumbuh-tumbuhan di pulau hancur. Pohon yang tumbang, bercampur dengan abu batu apung masuk ke laut dan membentuk rakit dengan jarak lintas melebihi 5 km .[2] Rakit batu apung lainnya ditemukan di Samudra Hindia, di dekat Kolkata pada tanggal 1 dan 3 Oktober 1815.[4] Awan dengan abu tebal masih menyelimuti puncak pada tanggal 23 April. Ledakan berhenti pada tanggal 15 Juli, walaupun emisi asab masih terlihat pada tanggal 23 Agustus. Api dan gempa susulan dilaporkan terjadi pada bulan Agustus tahun 1819, empat tahun setelah letusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dalam perjalananku menuju bagian barat pulau, aku hampir melewati seluruh Dompo dan banyak bagian dari Bima. Kesengsaraan besar-besaran terhadap penduduk yang berkurang memberikan pukulan hebat terhadap penglihatan. Masih terdapat mayat di jalan dan tanda banyak lainnya telah terkubur: desa hampir sepenuhnya ditinggalkan dan rumah-rumah rubuh, penduduk yang selamat kesulitan mencari makanan.&lt;br /&gt;    ...&lt;br /&gt;    Sejak letusan, diare menyerang warga di Bima, Dompo, dan Sang’ir, yang menyerang jumlah penduduk yang besar. Diduga penduduk minum air yang terkontaminasi abu, dan kuda juga meninggal, dalam jumlah yang besar untuk masalah yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    —Letnan Philips diperintahkan Sir Stamford Raffles untuk pergi ke Sumbawa.[16]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tsunami besar menyerang pantai beberapa pulau di Indonesia pada tanggal 10 April, dengan ketinggian di atas 4 m di Sanggar pada pukul 10:00 malam.[2] Tsunami setinggi 1-2 m dilaporkan terjadi di Besuki, Jawa Timur sebelum tengah malam dan tsunami setinggi 2 m terjadi di Maluku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggi asap letusan mencapai stratosfer, dengan ketinggian lebih dari 43 km.[4] Partikel abu jatuh 1 sampai 2 minggu setelah letusan, tetapi terdapat partikel abu yang tetap berada di atmosfer bumi selama beberapa bulan sampai beberapa tahun pada ketinggian 10-30 km.[2] Angin bujur menyebarkan partikel tersebut di sekeliling dunia, membuat terjadinya fenomena. Matahari terbenam yang berwarna dan senja terlihat di London, Inggris antara tanggal 28 Juni dan 2 Juli 1815 dan 3 September dan 7 Oktober 1815.[2] Pancaran cahaya langit senja muncul berwarna orange atau merah di dekat ufuk langit dan ungu atau merah muda di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah perkiraan kematian bervariasi, tergantung dari sumber yang ada. Zollinger (1855) memperkirakan 10.000 orang meninggal karena aliran piroklastik. Di pulau Sumbawa, terdapat 38.000 kematian karena kelaparan, dan 10.000 lainnya karena penyakit dan kelaparan di pulau Lombok.[20] Petroeschevsky (1949) memperkirakan sekitar 48.000 dan 44.000 orang terbunuh di Sumbawa dan Lombok.[21] Beberapa pengarang menggunakan figur Petroeschevsky, seperti Stothers (1984), yang menyatakan jumlah kematian sebesar 88.000 jiwa.[2] Tanguy (1998) mengklaim figur Petroeschevsky tidak dapat ditemukan dan berdasarkan referensi yang tidak dapat dilacak.[5] Tanguy merevisi jumlah kematian berdasarkan dua sumber, sumber dari Zollinger, yang menghabiskan beberapa bulan di Sumbawa setelah letusan dan catatan Raffles.[16] Tanguy menunjukan bahwa terdapat banyak korban di Bali dan Jawa Timur karena penyakit dan kelaparan. Diperkirakan 11.000 meninggal karena pengaruh gunung berapi langsung dan 49.000 oleh penyakit epidemi dan kelaparan setelah erupsi.[5] Oppenheimer (2003) menyatakan jumlah kematian lebih dari 71.000 jiwa seperti yang terlihat di tabel dibawah.[4]&lt;br /&gt;Perbandingan letusan gunung Tambora dan letusan gunung lainnya Letusan  Tahun  Tinggi asap (km)   VEI   Perubahan musim panas Belahan bumi utara (°C)  Kematian&lt;br /&gt;Taupo  181  51  7   ?  tidak diketahui&lt;br /&gt;Baekdu  969  25  6–7   ?   ?&lt;br /&gt;Kuwae  1452   ?  6  −0,5   ?&lt;br /&gt;Huaynaputina  1600  46  6  −0,8  ≈1400&lt;br /&gt;Tambora  1815  43  7  −0,5  &gt; 71.000&lt;br /&gt;Krakatau  1883  25  6  −0,3  36.600&lt;br /&gt;Santamaría  1902  34  6  tidak terdapat perubahan  7.000-13.000&lt;br /&gt;Katmai  1912  32  6  −0,4  2&lt;br /&gt;Gunung St. Helens  1980  19  5  tidak terdapat perubahan  57&lt;br /&gt;El Chichón  1982  32  4–5   ?  &gt; 2.000&lt;br /&gt;Nevado del Ruiz  1985  27  3  tidak terdapat perubahan  23.000&lt;br /&gt;Pinatubo  1991  34  6  −0,5  1202&lt;br /&gt;Sumber: Oppenheimer (2003),[4] dan Smithsonian Global Volcanism Program untuk VEI.[22]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[sunting] Pengaruh global&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Lihat pula: Tahun tanpa musim panas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah konsentrasi sulfat di inti es dari Tanah Hijau tengah, tarikh tahun dihitung dengan variasi isotop oksigen musiman. Terdapat letusan yang tidak diketahui pada tahun 1810-an. Sumber: Dai (1991).[23]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Letusan gunung Tambora tahun 1815 mengeluarkan sulfur ke stratosfer, menyebabkan penyimpangan iklim global. Metode berbeda telah memperkirakan banyaknya sulfur yang dikeluarkan selama letusan: metode petrologi, sebuah pengukuran berdasarkan pengamatan anatomi, dan metode konsentrasi sulfat inti es, menggunakan es dari Tanah Hijau dan Antartika. Figur beragam tergantung dari metode, berjarak dari 10 Tg S sampai 120 Tg S.[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada musim semi dan musim panas tahun 1816, sebuah kabut kering terlihat di timur laut Amerika Serikat. Kabut tersebut memerahkan dan mengurangi cahaya matahari, seperti bintik pada matahari yang terlihat dengan mata telanjang. Baik angin atau hujan tidak dapat menghilangkan "kabut" tersebut. "Kabut" tersebut diidentifikasikan sebagai kabut aerosol sulfat stratosfer.[4] Pada musim panas tahun 1816, negara di Belahan Utara menderita karena kondisi cuaca yang berubah, disebut sebagai Tahun tanpa musim panas. Temperatur normal dunia berkurang sekitar 0,4-0,7 °C,[2] cukup untuk menyebabkan permasalaan pertanian di dunia. Pada tanggal 4 Juni 1816, cuaca penuh es dilaporkan di Connecticut, dan dan pada hari berikutnya, hampir seluruh New England digenggam oleh dingin. Pada tanggal 6 Juni 1816, salju turun di Albany, New York, dan Dennysville, Maine.[4] Kondisi serupa muncul untuk setidaknya tiga bulan dan menyebabkan gagal panen di Amerika Utara. Kanada mengalami musim panas yang sangat dingin. Salju setebal 30 cm terhimpun didekat Kota Quebec dari tanggal 6 sampai 10 Juni 1816.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1816 adalah tahun terdingin kedua di Belahan Bumi Utara sejak tahun 1400 Masehi, setelah letusan gunung Huaynaputina di Peru tahun 1600.[17] Tahun 1810-an adalah dekade terdingin dalam rekor sebagai hasil dari letusan Tambora tahun 1815 dan lainnya menduga letusan terjadi antara tahun 1809 dan tahun 1810. Perubahan temperatur permukaan selama musim panas tahun 1816, 1817 dan tahun 1818 sebesar -0,51, -0,44 dan -0,29 °C,[17] dan juga musim panas yang lebih dingin, bagian dari Eropa mengalami badai salju yang lebih deras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latar belakang perubahan iklim disalahkan untuk terjadinya wabah tifus di tenggara Eropa dan Laut Tengah bagian timur diantara tahun 1816 dan tahun 1819.[4] Banyak ternak meninggal di New England selama musim dingin tahun 1816-1817. Suhu udara yang dingin dan hujan besar menyebabkan gagal panen di Kepulauan Britania. Keluarga-keluarga di Wales mengungsi dan mengemis untuk makanan. Kelaparan merata di Irlandia utara dan barat daya karena gandum, haver dan kentang mengalami gagal panen. Krisis terjadi di Jerman, harga makanan naik dengan tajam. Akibat kenaikan harga yang tidak diketahui menyebabkan terjadinya demonstrasi di depan pasar dan toko roti yang diikuti dengan kerusuhan, pembakaran rumah dan perampokan yang terjadi di banyak kota-kota di Eropa. Hal ini adalah kelaparan terburuk yang terjadi pada abad ke-19.[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[sunting] Bukti arkeologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada musim panas tahun 2004, tim dari Universitas Rhode Island, Universitas North Carolina di Wilmington, dan direktorat vulkanologi Indonesia, dipimpin oleh Haraldur Sigurdsson, memulai sebuah penggalian arkeologi di gunung Tambora.[6] Setelah enam minggu, tim tersebut menggali bukti adanya kebudayaan yang hilang yang musnah karena letusan gunung Tambora. Situs tersebut terletak 25 km sebelah barat kaldera, di dalam hutam, 5 km dari pantai. Tim tersebut harus melewati endapan batu apung vulkanik dan abu dengan tebal 3 m.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim tersebut menggunakan radar penembus tanah untuk mencari lokasi rumah kecil yang terkubur. Mereka menggali kembali rumah dan mereka menemukan sisa dua orang dewasa, dan juga mangkuk perunggu, peralatan besi dan artifak lainnya. Desain dan dekorasi artifak memiliki kesamaan dengan artifak dari Vietnam dan Kamboja.[6] Uji coba dilakukan menggunakan teknik karbonisasi memperjelas bahwa mereka terbentuk dari pensil arang yang dibentuk oleh panas magma. Semua orang, ruamh dan kebudayaan dibiarkan seperti saat mereka berada tahun 1815. Sigurdsson menyebut kebudayaan ini sebagai Pompeii dari timur.[24][25] Berdasarkan artifak yang ditemukan, yang mayoritas benda perunggu, tim menyatakan bahwa orang-orang tersebut tidak miskin. Bukti sejarah menunjukan bahwa orang di pulau Sumbawa terkenal di Hindia Timur untuk madu, kuda, kayu sepang (caesalpinia sappan), memproduksi dye merah, dan cendana yang digunakan untuk dupa dan pengobatan.[6] Daerah ini diketahui produktif dalam bidang pertanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penemua arkeologi memperjelas bahwa terdapat kebudayaan yang hancur karena letusan tahun 1815. Sebutan Kerajaan Tambora yang hilang disebut oleh media.[26][27] Dengan penemuan ini, Sigurdsson bermaksud untuk kembali ke Tambora tahun 2007 untuk mencari sisa desa, dan berharap dapat menemukan istana.[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[sunting] Ekosistem&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim penelitian yang dipimpin oleh ahli botani Swiss, Heinrich Zollinger, tiba di pulau Sumbawa tahun 1847.[28] Misi Zollinger adalah untuk mempelajari letusan dan pengaruhnya terhadap ekosistem lokal. Ia adalah orang pertama yang memanjat ke puncak gunung Tambora setelah letusan gunung tersebut. Gunung tersebut masih tertutup oleh asap. Ketika Zollinger memanjat, kakinya tenggelam beberapa kali melalui kerak permukaan tipis menuju lapisan hangat yang seperti sulfur. Beberapa tumbuh-tumbuhan kembali tumbuh dan beberapa pohon diamati di lereng yang lebih rendah. Hutan Casuarina dicatat pada 2.200-2.550 m.[29] Beberapa Imperata cylindrica juga dapat ditemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penduduk mulai tinggal di gunung Tambora pada tahun 1907. Penanaman kopi dimulai pada tahun 1930-an di lereng bagian barat laut gunung Tambora, di desa Pekat.[30] Hutan hujan yang disebut Duabangga moluccana telah tumbuh dengan ketinggian 1.000-2.800 m.[30] Penanaman tersebut mencakupi daerah seluas 80.000 hektar (800 km²). Hutan hujan ditemukan oleh tim Belanda, dipimpin oleh Koster dan De Voogd tahun 1933.[30] Mereka memulai perjalanan di "daerah hampir tandus, kering dan panas" dan mereka memasuki "hutam hebat" dengan "raksasa hutan yang besar dan megah". Pada ketinggian 1.100 m, mereka memasuki hutan montane. Pada ketinggian 1.800 m , mereka menemukan Dodonaea viscosa yang didominasi oleh pohon Casuarina. Di puncak, mereka menemukan sedikit Anaphalis viscida dan Wahlenbergia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;56 spesies burung ditemukan tahun 1896, termasuk Crested White-eye.[31] 12 spesies lainnya ditemukan pada tahun 1981. Beberapa penelitian ahli ilmu hewan menemukan spesies burung lainnya di gunung, menghasilkan ditemukannya lebih dari 90 spesies burung. Kakatua-kecil Jambul-kuning, Murai Asia, Tiong Emas, Ayam hutan Hijau dan Perkici Pelangi diburu untuk dijual dan dipelihara oleh penduduk setempat. Gosong berkaki-jingga diburu untuk dimakan. Eksploitasi burung menyebabkan berkurangnya populasi burung. Yellow-crested Cockatoo hampir punah di pulau Sumbawa.[31]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tahun 1972, perusahaan penebangan komersial telah beroperasi di daerah ini, yang menyebabkan ancaman terhadap hutan hujan. Perusahaan penebangan memegang izin untuk menebang kayu di daerah seluas 20.000 hektar (200 km²), atau 25% dari jumlah luas daerah.[30] Bagian hutan hujan lainnya digunakan untuk berburu. Di antara tanah berburu dan tanah penebangan, terdapat cagar alam, temat rusa, kerbau, babi hutan, kelelawar, rubah terbang, dan berbagai spesies reptil dan burung dapat ditemukan.[30]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[sunting] Pengamatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Populasi Indonesia meningkat dengan cepat sejak letusan tahun 1815. Pada tahun 2006, populasi Indonesia telah mencapai 222 juta jiwa,[32] dan 130 juta penduduk berada di pulau Jawa dan Bali.[33] Sebuah letusan gunung berapi sebesar letusan Tambora tahun 1815 akan menyebabkan kematian yang lebih besar, sehingga aktivitas vulkanik di Indonesia terus diamati, termasuk gunung Tambora.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas seismologi di Indonesia diamati oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Indonesia. Pos pengamatan untuk gunung Tambora terletak di desa Doro Peti.[34] Mereka memfokuskan aktivitas seismik dan tektonik dengan menggunakan seismometer. Sejak letusan tahun 1880, tidak terdapat peningkatan aktivitas seismik.[35] Pengamatan terus dilakukan di dalam kaldera, terutama di kawah Doro Api Toi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi telah menegaskan peta mitigasi bahaya gunung Tambora. Dua zona yang dinyatakan adalah zona bahaya dan zona waspada.[34] Zona bahaya adalah daerah yang secara langsung terpengaruh oleh letusan: aliran piroklastik, aliran lava dan jatuhnya piroklastik lainnya. Daerah ini, termasuk kaldera dan sekelilingnya, meliputi daerah seluas 58,7 km². Orang dilarang tinggal di zona berbahaya. Zona waspada termasuk daerah yang mungkin dapat secara langsung terpengaruh oleh letusan: aliran lahar dan batuan apung lainnya. Luas dari daerah waspada sebesar 185 km², termasuk desa Pasanggrahan, Doro Peti, Rao, Labuan Kenanga, Gubu Ponda, Kawindana Toi dan Hoddo. Sungai yang disebut sungai Guwu yang terletak di bagian selatan dan barat laut gunung Tambora juga dimasukan kedalam zona waspada.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2004672938421045134-7659243988884768037?l=satoesyndicate.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/feeds/7659243988884768037/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2004672938421045134&amp;postID=7659243988884768037' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/7659243988884768037'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/7659243988884768037'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/2009/05/gunung-tambora.html' title='Gunung Tambora'/><author><name>satoe syndicate</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08856438899076171009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2004672938421045134.post-1474394193019859984</id><published>2009-05-15T12:44:00.004-07:00</published><updated>2009-05-15T12:45:54.503-07:00</updated><title type='text'>Gunung selamet</title><content type='html'>Gunung Slamet merupakan sebuah gunung berapi yang terdapat di Pulau Jawa, Indonesia. Gunung Slamet mempunyai ketinggian setinggi 3,432 meter. Gunung ini berada di perbatasan Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kaki gunung ini terdapat sebuah kawasan wisata bernama Baturraden atau Batur Raden. Kawasan wisata ini biasa dicapai orang dari kota Purwokerto, ibukota Kabupaten Banyumas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Slamet merupakan salah satu gunung yang menjadi tujuan ekspedisi para pendaki, baik dari wilayah setempat maupun wilayah lainnya. Gunung ini mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Slamet terletak di perbatasan Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara, Banyumas, dan Brebes. Dengan posisi geografis [Tunjukkan letak di peta interaktif] 7°14′30″LS,109°12′30″BT serta ketinggian 3432m dpl, membuatnya merupakan gunung berapi yang tertinggi di daerah Jawa Tengah. Gunung ini mempunyai empat kawah di puncaknya. Gunung yang berada di sebelah utara kota Purwokerto dan di sebelah barat kota Purbalingga ini juga mempunyai beberapa sumber air panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[sunting] Nama Gunung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku yang berjudul "Three Old Sundanese Poems", terbitan KITLV Leiden tahun 2006, J. Noorduyn menyebutkan bahwa nama gunung Slamet adalah relatif baru yaitu saat masuknya Islam ke Jawa. Dengan merujuk kepada naskah kuno Sunda Bujangga Manik, J Noorduyn menuliskan bahwa nama lama dari gunung ini adalah Gunung Agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[sunting] Jalur pendakian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalur pendakian standar adalah dari Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Purbalingga. Jalur populer lain adalah dari Baturraden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendakian Gunung Slamet dikenal cukup sulit karena hampir di sepanjang rute pendakian tidak ditemukan air, walaupun ada itu juga merupakan genangan air. Kepada pendaki sangat disarankan untuk membawa persediaan air yang cukup dari bawah. Faktor lain adalah kabut. Kabut di Gunung Slamet sangat mudah berubah-ubah dan pekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Jika anda melewati jalur bambangan, mungkin masalah air tidak terlalu sulit. Memang para pendaki harus banyak membawa air dari bawah, tetapi sesampainya di pos v atau tepatnya di pos Samhyang rangkah akan terdapat sungai kecil yang letaknya tepat berada di bawah pos v.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain rute bambangan,ada pula rute pendakian melewati Dukuhliwung. Dari pos 1 sampai pos 5 yaitu puncak, membutuhkan waktu sekitar 8jam. Dan ada mata air di pos 2 dan 3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau bisa juga melakukan pendakian melalui obyek wisata permandian air panas Guci, rute pendakian melalui guci masih sangat terjal. namun pemandangan di sepanjang rute ini lebih istimewa dibandingkan dengan rute mana pun. Pemandangan alam di rute guci masih sangat alami dan masih sangat liar, berkesan jauh dari peradaban manusia. kedua rute ini dapat ditempuh melewati kota Tegal lalu ke selatan menuju kota Slawi, melewati Lebaksiu, Yomani dan mulai memasuki dataran tinggi Tuwel.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2004672938421045134-1474394193019859984?l=satoesyndicate.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/feeds/1474394193019859984/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2004672938421045134&amp;postID=1474394193019859984' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/1474394193019859984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/1474394193019859984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/2009/05/gunung-selamet.html' title='Gunung selamet'/><author><name>satoe syndicate</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08856438899076171009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2004672938421045134.post-7584710568552988481</id><published>2009-05-15T12:44:00.003-07:00</published><updated>2009-05-15T12:44:51.580-07:00</updated><title type='text'>Gunung Semeru</title><content type='html'>Gunung Semeru atau Sumeru adalah gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa, dengan puncaknya Mahameru, 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl). Kawah di puncak Gunung Semeru dikenal dengan nama Jonggring Saloko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semeru mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi gunung ini terletak diantara wilayah administrasi Kabupaten Malang dan Lumajang, dengan posisi geografis antara 8°06' LS dan 120°55' BT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1913 dan 1946 Kawah Jonggring Saloka memiliki kubah dengan ketinggian 3.744,8 M hingga akhir November 1973. Disebelah selatan, kubah ini mendobrak tepi kawah menyebabkan aliran lava mengarah ke sisi selatan meliputi daerah Pronojiwo dan Candipuro di Lumajang.&lt;br /&gt;Daftar isi&lt;br /&gt;[sembunyikan]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * 1 Perjalanan&lt;br /&gt;    * 2 Gas beracun&lt;br /&gt;    * 3 Iklim&lt;br /&gt;    * 4 Taman nasional&lt;br /&gt;    * 5 Pendaki pertama&lt;br /&gt;    * 6 Legenda gunung Semeru&lt;br /&gt;    * 7 Aktivitas&lt;br /&gt;    * 8 Rujukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[sunting] Perjalanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperlukan waktu sekitar empat hari untuk mendaki puncak gunung Semeru pulang-pergi. Untuk mendaki gunung semeru dapat ditempuh lewat kota Malang atau Lumajang. Dari terminal kota malang kita naik angkutan umum menuju desa Tumpang. Disambung lagi dengan Jip atau Truk Sayuran yang banyak terdapat di belakang pasar terminal Tumpang dengan biaya per orang Rp.20.000,- hingga Pos Ranu Pani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya kita mampir di Gubugklakah untuk memperoleh surat ijin, dengan perincian, biaya surat ijin Rp.6.000,- untuk maksimal 10 orang, Karcis masuk taman Rp.2.000,- per orang, Asuransi per orang Rp.2.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menggunakan Truk sayuran atau Jip perjalanan dimulai dari Tumpang menuju Ranu Pani, desa terakhir di kaki semeru. Di sini terdapat Pos pemeriksaan, terdapat juga warung dan pondok penginapan. Bagi pendaki yang membawa tenda dikenakan biaya Rp 20.000,-/tenda dan apabila membawa kamera juga dikenakan biaya Rp 5.000,-/buah. Di pos ini pun kita dapat mencari porter (warga lokal untuk membantu menunjukkan arah pendakian, mengangkat barang dan memasak). Pendaki juga dapat bermalam di Pos penjagaan. Di Pos Ranu Pani juga terdapat dua buah danau yakni danau Ranu Pani (1 ha) dan danau Ranu Regulo (0,75 ha). Terletak pada ketinggian 2.200 mdpl.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sampai di gapura "selamat datang", perhatikan terus ke kiri ke arah bukit, jangan mengikuti jalanan yang lebar ke arah kebun penduduk. Selain jalur yang biasa dilewati para pendaki, juga ada jalur pintas yang biasa dipakai para pendaki lokal, jalur ini sangat curam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalur awal landai, menyusuri lereng bukit yang didominasi dengan tumbuhan alang-alang. Tidak ada tanda penunjuk arah jalan, tetapi terdapat tanda ukuran jarak pada setiap 100m. Banyak terdapat pohon tumbang, dan ranting-ranting diatas kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berjalan sekitar 5 Km menyusuri lereng bukit yang banyak ditumbuhi Edelweis, lalu akan sampai di Watu Rejeng. Disini terdapat batu terjal yang sangat indah. Pemandangan sangat indah ke arah lembah dan bukit-bukit, yang ditumbuhi hutan cemara dan pinus. Kadang kala dapat menyaksikan kepulan asap dari puncak semeru. Untuk menuju Ranu Kumbolo masih harus menempuh jarak sekitar 4,5 Km.&lt;br /&gt;Ranu Kumbolo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Ranu Kumbolo dapat mendirikan tenda. Juga terdapat pondok pendaki (shelter). Terdapat danau dengan air yang bersih dan memiliki pemandangan indah terutama di pagi hari dapat menyaksikan matahari terbit disela-sela bukit. Banyak terdapat ikan, kadang burung belibis liar. Ranu Kumbolo berada pada ketinggian 2.400 m dengan luas 14 ha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ranu Kumbolo sebaiknya menyiapkan air sebanyak mungkin. Meninggalkan Ranu Kumbolo kemudian mendaki bukit terjal, dengan pemandangan yang sangat indah di belakang ke arah danau. Di depan bukit terbentang padang rumput yang luas yang dinamakan oro-oro ombo. Oro-oro ombo dikelilingi bukit dan gunung dengan pemandangan yang sangat indah, padang rumput luas dengan lereng yang ditumbuhi pohon pinus seperti di Eropa. Dari balik Gn. Kepolo tampak puncak Gn. Semeru menyemburkan asap wedus gembel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya memasuki hutan Cemara dimana kadang dijumpai burung dan kijang. Daerah ini dinamakan Cemoro Kandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pos Kalimati berada pada ketinggian 2.700 m, disini dapat mendirikan tenda untuk beristirahat. Pos ini berupa padang rumput luas di tepi hutan cemara, sehingga banyak tersedia ranting untuk membuat api unggun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat mata air Sumber Mani, ke arah barat (kanan) menelusuri pinggiran hutan Kalimati dengan menempuh jarak 1 jam pulang pergi. Di Kalimati dan di Arcopodo banyak terdapat tikus gunung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menuju Arcopodo berbelok ke kiri (Timur) berjalan sekitar 500 meter, kemudian berbelok ke kanan (Selatan) sedikit menuruni padang rumput Kalimati. Arcopodo berjarak 1 jam dari Kalimati melewati hutan cemara yang sangat curam, dengan tanah yang mudah longsor dan berdebu. Dapat juga kita berkemah di Arcopodo, tetapi kondisi tanahnya kurang stabil dan sering longsor. Sebaiknya menggunakan kacamata dan penutup hidung karena banyak abu beterbangan. Arcopodo berada pada ketinggian 2.900m, Arcopodo adalah wilayah vegetasi terakhir di Gunung Semeru, selebihnya akan melewati bukit pasir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Arcopodo menuju puncak Semeru diperlukan waktu 3-4 jam, melewati bukit pasir yang sangat curam dan mudah merosot. Sebagai panduan perjalanan, di jalur ini juga terdapat beberapa bendera segitiga kecil berwarna merah. Semua barang bawaan sebaiknya tinggal di Arcopodo atau di Kalimati. Pendakian menuju puncak dilakukan pagi-pagi sekali sekitar pukul 02.00 pagi dari Arcopodo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang hari angin cendurung ke arah utara menuju puncak membawa gas beracun dari Kawah Jonggring Saloka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendakian sebaiknya dilakukan pada musim kemarau yaitu bulan Juni, Juli, Agustus, dan September. Sebaiknya tidak mendaki pada musim hujan karena sering terjadi badai dan tanah longsor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[sunting] Gas beracun&lt;br /&gt;Puncak Mahameru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di puncak Gunung Semeru (Puncak Mahameru) pendaki disarankan untuk tidak menuju kawah Jonggring Saloko, juga dilarang mendaki dari sisi sebelah selatan, karena adanya gas beracun dan aliran lahar. Suhu dipuncak Mahameru berkisar 4 - 10 derajad Celsius, pada puncak musim kemarau minus 0 derajad Celsius, dan dijumpai kristal-kristal es. Cuaca sering berkabut terutama pada siang, sore dan malam hari. Angin bertiup kencang, pada bulan Desember - Januari sering ada badai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjadi letusan Wedus Gembel setiap 15-30 menit pada puncak gunung Semeru yang masih aktif. Pada bulan Nopember 1997 Gn.Semeru meletus sebanyak 2990 kali. Siang hari arah angin menuju puncak, untuk itu hindari datang siang hari di puncak, karena gas beracun dan letusan mengarah ke puncak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Letusan berupa asap putih, kelabu sampai hitam dengan tinggi letusan 300-800 meter. Materi yang keluar pada setiap letusan berupa abu, pasir, kerikil, bahkan batu-batu panas menyala yang sangat berbahaya apabila pendaki terlalu dekat. Pada awal tahun 1994 lahar panas mengaliri lereng selatan Gn.Semeru dan meminta beberapa korban jiwa, pemandangan sungai panas yang berkelok- kelok menuju ke laut ini menjadi tontonan yang sangat menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[sunting] Iklim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum iklim di wilayah gunung Semeru termasuk type iklim B (Schmidt dan Ferguson) dengan curah hujan 927 mm - 5.498 mm per tahun dengan jumlah hari hujan 136 hari/tahun dan musim hujan jatuh pada bulan November - April. Suhu udara dipuncak Semeru berkisar antara 0 - 4 derajat celsius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suhu rata-rata berkisar antara 3°c - 8°c pada malam dan dini hari, sedangkan pada siang hari berkisar antara 15°c - 21°c. Kadang-kadang pada beberapa daerah terjadi hujan salju kecil yang terjadi pada saat perubahan musim hujan ke musim kemarau atau sebaliknya. Suhu yang dingin disepanjang rute perjalanan ini bukan semata-mata disebabkan oleh udara diam tetapi didukung oleh kencangnya angin yang berhembus ke daerah ini menyebabkan udara semakin dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[sunting] Taman nasional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung ini masuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Taman Nasional ini terdiri dari pegunungan dan lembah seluas 50.273,3 Hektar. Terdapat beberapa gunung di dalam Kaldera Gn.Tengger antara lain; Gn.Bromo (2.392m) Gn. Batok (2.470m) Gn.Kursi (2,581m) Gn.Watangan (2.662m) Gn.Widodaren (2.650m). Terdapat empat buah danau (ranu): Ranu Pani, Ranu Regulo, Ranu Kumbolo, Ranu Darungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Flora yang berada di Wilayah Gunung Semeru beraneka ragam jenisnya tetapi banyak didominir oleh pohon cemara, akasia, pinus, dan jenis Jamuju. Sedangkan untuk tumbuhan bawah didominir oleh Kirinyuh, alang-alang, tembelekan, harendong dan Edelwiss putih, Edelwiss yang banyak terdapat di lereng-lereng menuju Puncak Semeru. Dan juga ditemukan beberapa jenis anggrek endemik yang hidup di sekitar Semeru Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak fauna yang menghuni gunung Semeru antara lain : Macan Kumbang, Budeng, Luwak, Kijang, Kancil, dll. Sedangkan di Ranu Kumbolo terdapat Belibis yang masih hidup liar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[sunting] Pendaki pertama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang pertama yang mendaki gunung ini adalah Clignet (1838) seorang ahli geologi berkebangsaan Belanda dari sebelah barat daya lewat Widodaren, selanjutnya Junhuhn (1945) seorang ahli botani berkebangsaan Belanda dari utara lewat gunung Ayek-ayek, gunung Inder-inder dan gunung Kepolo. Tahun 1911 Van Gogh dan Heim lewat lereng utara dan setelah 1945 umumnya pendakian dilakukan lewat lereng utara melalui Ranupane dan Ranu Kumbolo seperti sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[sunting] Legenda gunung Semeru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut kepercayaan masyarakat Jawa yang ditulis pada kitab kuna Tantu Pagelaran yang berasal dari abad ke-15, Pulau Jawa pada suatu saat mengambang di lautan luas, dipermainkan ombak kesana-kemari. Para Dewa memutuskan untuk memakukan Pulau Jawa dengan cara memindahkan Gunung Meru di India ke atas Pulau Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut orang Bali Gunung Mahameru dipercayai sebagai Bapak Gunung Agung di Bali dan dihormati oleh masyarakat Bali. Upacara sesaji kepada para dewa-dewa Gunung Mahameru dilakukan oleh orang Bali. Betapapun upacara tersebut hanya dilakukan setiap 8-12 tahun sekali hanya pada waktu orang menerima suara gaib dari dewa Gunung Mahameru. Selain upacara sesaji itu orang Bali sering datang ke daerah Gua Widodaren untuk mendapat Tirta suci.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2004672938421045134-7584710568552988481?l=satoesyndicate.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/feeds/7584710568552988481/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2004672938421045134&amp;postID=7584710568552988481' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/7584710568552988481'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/7584710568552988481'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/2009/05/gunung-semeru.html' title='Gunung Semeru'/><author><name>satoe syndicate</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08856438899076171009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2004672938421045134.post-760092668014017925</id><published>2009-05-15T12:44:00.001-07:00</published><updated>2009-05-15T12:44:11.717-07:00</updated><title type='text'>Gunung Salak</title><content type='html'>Gunung Salak merupakan sebuah gunung berapi yang terdapat di pulau Jawa, Indonesia. Gunung ini mempunyai beberapa puncak, di antaranya Puncak Salak I dan Salak II. Letak geografis puncak gunung ini ialah pada 6°43' LS dan 106°44' BT. Tinggi puncak Salak I 2.211 m dan Salak II 2.180 m dpl. Ada satu puncak lagi bernama Puncak Sumbul dengan ketinggian 1.926 m dpl.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara administratif, G. Salak termasuk dalam wilayah Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pengelolaan kawasan hutannya semula berada di bawah Perum Perhutani KPH Bogor, namun sejak 2003 menjadi wilayah perluasan Taman Nasional Gunung Halimun, kini bernama Taman Nasional Gunung Halimun-Salak.&lt;br /&gt;Daftar isi&lt;br /&gt;[sembunyikan]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * 1 Vulkanologi dan geologi&lt;br /&gt;    * 2 Jalur pendakian&lt;br /&gt;    * 3 Tutupan hutan&lt;br /&gt;    * 4 Margasatwa&lt;br /&gt;    * 5 Lihat pula&lt;br /&gt;    * 6 Pranala luar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[sunting] Vulkanologi dan geologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Salak merupakan gunung api strato tipe A. Semenjak tahun 1600-an tercatat terjadi beberapa kali letusan, di antaranya rangkaian letusan antara 1668-1699, 1780, 1902-1903, dan 1935. Letusan terakhir terjadi pada tahun 1938, berupa erupsi freatik yang terjadi di Kawah Cikuluwung Putri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Hartman (1938) G. Salak I merupakan bagian gunung yang paling tua. Disusul oleh G. Salak II dan kemudian muncul G. Sumbul. Sedangkan Kawah Ratu diperkirakan merupakan produk akhir dari G. Salak. Kawah Cikuluwung Putri dan Kawah Hirup masih merupakan bagian dari Kawah Ratu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[sunting] Jalur pendakian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Salak dapat didaki dari beberapa jalur pendakian. Puncak yang paling sering didaki adalah puncak II dan I. Jalur yang paling ramai adalah melalui Curug Nangka, di sebelah utara gunung. Melalui jalur ini, orang akan sampai pada puncak Salak II.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncak Salak I biasanya didaki dari arah timur, yakni Cimelati dekat Cicurug. Salak I bisa juga dicapai dari Salak II, dan dengan banyak kesulitan, dari Sukamantri, Ciapus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalur lain adalah ‘jalan belakang’ lewat Cidahu, Sukabumi, atau dari Kawah Ratu dekat G. Bunder.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu Gunung Salak lebih populer sebagai ajang tempat pendidikan bagi klub-klub pecinta alam, terutama sekali daerah punggungan Salak II. Ini dikarenakan medan hutannya yang rapat dan juga jarang pendaki yang mengunjungi gunung ini. Juga memiliki jalur yang cukup sulit bagi para pendaki pemula dikarenakan jalur yang dilewati jarang kita temukan cadangan air kecuali di Pos I jalur pendakian Kawah Ratu, beruntung di puncak Gunung ( 2211 Mdpl ) ditemukan kubangan mata air.Gunung Salak meskipun tergolong sebagai gunung yang rendah, akan tetapi memiliki keunikan tersendiri baik karakteristik hutannya maupun medannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[sunting] Tutupan hutan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hutan-hutan di Gunung Salak terdiri dari hutan pegunungan bawah (submontane forest) dan hutan pegunungan atas (montane forest).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian bawah kawasan hutan, semula merupakan hutan produksi yang ditanami Perum Perhutani. Beberapa jenis pohon yang ditanam di sini adalah tusam (Pinus merkusii) dan rasamala (Altingia excelsa). Kemudian, sebagaimana umumnya hutan pegunungan bawah di Jawa, terdapat pula jenis-jenis pohon puspa (Schima wallichii), saninten (Castanopsis sp.), pasang (Lithocarpus sp.) dan aneka jenis huru (suku Lauraceae).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hutan ini, pada beberapa lokasi, terutama di arah Cidahu, Sukabumi, ditemukan pula jenis tumbuhan langka raflesia (Rafflesia rochussenii) yang menyebar terbatas sampai Gunung Gede dan Gunung Pangrango di dekatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada daerah-daerah perbatasan dengan hutan, atau di dekat-dekat sungai, orang menanam jenis-jenis kaliandra merah (Calliandra calothyrsus), dadap cangkring (Erythrina variegata), kayu afrika (Maesopsis eminii), jeunjing (Paraserianthes falcataria) dan berbagai macam bambu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[sunting] Margasatwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneka margasatwa ditemukan di lingkungan G. Salak, mulai dari kodok dan katak, reptil, burung hingga mamalia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil penelitian D.M. Nasir (2003) dari Jurusan KSH Fakultas Kehutanan IPB, mendapatkan 11 jenis kodok dan katak di lingkungan S. Ciapus Leutik, Desa Tamansari, Kab. Bogor. Jenis-jenis itu ialah Bufo asper, B. melanostictus, Leptobrachium hasseltii, Fejervarya limnocharis, Huia masonii, Limnonectes kuhlii, L. macrodon, L. microdiscus, Rana chalconota, R. erythraea dan R. hosii. Hasil ini belum mencakup jenis-jenis katak pohon, dan jenis-jenis katak pegunungan lainnya yang masih mungkin dijumpai. Di Cidahu juga tercatat adanya jenis bangkong bertanduk (Megophrys montana) dan katak terbang (Rhacophorus reinwardtii).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai jenis reptil, terutama kadal dan ular, terdapat di gunung ini. Beberapa contohnya adalah bunglon Bronchocela jubata dan B. cristatella, kadal kebun Mabuya multifasciata dan biawak sungai Varanus salvator. Jenis-jenis ular di G. Salak belum banyak diketahui, namun beberapa di antaranya tercatat mulai dari ular tangkai (Calamaria sp.) yang kecil pemalu, ular siput (Pareas carinatus) hingga ular sanca kembang (Python reticulatus) sepanjang beberapa meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. Salak telah dikenal lama sebelumnya sebagai daerah yang kaya burung, sebagaimana dicatat oleh Vorderman (1885). Hoogerwerf (1948) mendapatkan tidak kurang dari 232 jenis burung di gunung ini (total Jawa: 494 jenis, 368 jenis penetap). Beberapa jenis yang cukup penting dari gunung ini ialah elang jawa (Spizaetus bartelsi) dan beberapa jenis elang lain, ayam-hutan merah (Gallus gallus), Cuculus micropterus, Phaenicophaeus javanicus dan P. curvirostris, Sasia abnormis, Dicrurus remifer, Cissa thalassina, Crypsirina temia, burung kuda Garrulax rufifrons, Hypothymis azurea, Aethopyga eximia dan A. mystacalis, serta Lophozosterops javanica.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana halnya reptil dan kodok, catatan mengenai mamalia G. Salak pun tidak terlalu banyak. Akan tetapi di gunung ini jelas ditemukan beberapa jenis penting seperti macan tutul (Panthera pardus), owa jawa (Hylobates moloch), lutung surili (Presbytis comata) dan tenggiling (Manis javanica).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2004672938421045134-760092668014017925?l=satoesyndicate.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/feeds/760092668014017925/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2004672938421045134&amp;postID=760092668014017925' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/760092668014017925'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/760092668014017925'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/2009/05/gunung-salak.html' title='Gunung Salak'/><author><name>satoe syndicate</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08856438899076171009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2004672938421045134.post-37877005449055532</id><published>2009-05-15T12:42:00.000-07:00</published><updated>2009-05-15T12:43:12.073-07:00</updated><title type='text'>Gunung Rinjani</title><content type='html'>Gunung Rinjani adalah gunung yang berlokasi di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Gunung yang merupakan gunung berapi kedua tertinggi di Indonesia dengan ketinggian 3.726 m dpl serta terletak pada lintang 8º25' LS dan 116º28' BT ini merupakan gunung favorit bagi pendaki Indonesia karena keindahan pemandangannya. Gunung ini merupakan bagian dari Taman Nasional Gunung Rinjani yang memiliki luas sekitar 41.330 ha dan ini akan diusulkan penambahannya sehingga menjadi 76.000 ha ke arah barat dan timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara administratif gunung ini berada dibawah tiga kabupaten yaitu: Lombok Timur, Lombok Tengah dan Lombok Barat. Di sebelah barat kerucut Rinjani terdapat kaldera dengan luas sekitar 3.500 m × 4.800 m, memanjang kearah timur anda barat. Di kaldera ini terdapat Segara Anak (segara= laut, danau) seluas 11.000.000 m persegi dengan kedalaman 230 m. Air yang mengalir dari danau ini membentuk air terjun yang sangat indah, mengalir melewati jurang yang curam. Di Segara Anak banyak terdapat ikan mas dan mujair sehingga sering digunakan untuk memancing. Dengan warna airnya yang membiru, danau ini bagaikan anak lautan, karena itulah disebut "Segara Anak". Bagian selatan danau ini disebut dengan Segara Endut. Di sisi timur kaldera terdapat Gunung Baru (atau Gunung Barujari) yang memiliki kawah berukuran 170m×200 m dengan ketinggian 2.296 - 2376 m dpl. Gunung kecil ini terakhir meletus pada tanggal 2 Mei 2009, setelah sebelumnya meletus pula tahun 2004.[1] Kedua letusan ini tidak memakan korban jiwa, karena G. Barujari berposisi terkungkung dinding kaldera yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;Daftar isi&lt;br /&gt;[sembunyikan]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * 1 Geografi&lt;br /&gt;    * 2 Pendakian&lt;br /&gt;    * 3 Lihat pula&lt;br /&gt;    * 4 Catatan kaki&lt;br /&gt;    * 5 Pranala luar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[sunting] Geografi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Rinjani dengan ketinggian 3.726 m dpl, mendominasi sebagian besar luas pulau Lombok. Terletak disebelah timur pulau Bali, dapat ditempuh dengan bus langsung Jakarta-Mataram dengan menyeberang menggunakan feri dua kali (selat bali dan selat lombok). Dapat juga ditempuh dengan menggunakan pesawat terbang dari Jakarta, Surabaya dan Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[sunting] Pendakian&lt;br /&gt;Rinjani saat meletus pada tahun 1994&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rinjani memiliki panaroma yang bisa dibilang paling bagus di antara gunung-gunung di Indonesia. Setiap tahunnya (Juni-Agustus) banyak dikunjungi pencinta alam mulai dari penduduk lokal, mahasiswa, pecinta alam. Suhu udara rata-rata sekitar 20°C; terendah 12°C. Angin kencang di puncak biasa terjadi di bulan Agustus. Beruntung akhir Juli ini, angin masih cukup lemah dan cuaca cukup cerah, sehingga pendakian ke puncak bisa dilakukan kapan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain puncak, tempat yang sering dikunjungi adalah Segara Anakan, sebuah danau kawah di ketinggian 2.000 mdpl. Untuk mencapai lokasi ini kita bisa mendaki dari desa Senaru atau desa Sembalun Lawang (dua entry point terdekat di ketinggian 500 mdpl dan 1.200 mdpl). Kebanyakan pendaki menyukai start entry dari arah Sembalun, karena bisa menghemat 700m ketinggian. Rute Sembalun agak panjang tetapi datar, dan cuaca lebih panas karena melalui padang savana yang terik (suhu dingin tetapi radiasi matahari langsung membakar kulit). krim penahan panas matahari sangat dianjurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari arah Senaru tanjakan tanpa jeda, tetapi cuaca lembut karena melalui hutan. Dari kedua lokasi ini membutuhkan waktu jalan kaki sekitar 9 jam menuju bibir punggungan di ketinggian 2.700 mdpl (tiba di Plawangan Senaru ataupun Plawangan Sembalun). Di tempat ini pemandangan ke arah danau, maupun ke arah luar sangat bagus. Dari Plawangan Senaru (jika naik dari arah Senaru) turun ke danau melalui dinding curam ke ketinggian 2.000 mdpl) yang bisa ditempuh dalam 2 jam. Di danau kita bisa berkemah, mancing (Carper, Mujair) yang banyak sekali. Penduduk Lombok mempunyai tradisi berkunjung ke segara anakan utk berendam di kolam air panas dan mancing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencapai puncak (dari arah danau) harus berjalan kaki mendaki dinding sebelah barat setinggi 700m dan menaiki punggungan setinggi 1.000m yang ditempuh dlm 2 tahap 3 jam dan 4 jam. Tahap pertama menuju Plawangan Sembalun, camp terakhir untuk menunggu pagi hari. Summit attack biasa dilakukan pada jam 3 dinihari untuk mencari momen indah - matahari terbit di puncak Rinjani. Perjalanan menuju Puncak tergolong lumayan; karena meniti di bibir kawah dengan margin safety yang pas-pasan. Medan pasir, batu, tanah. 200 meter ketinggian terakhir harus ditempuh dengan susah payah, karena satu langkah maju diikuti setengah langkah turun (terperosok batuan kerikil). Buat highlander - ini tempat yang paling menantang dan disukai karena beratnya medan terbayar dgn pemandangan alamnya yang indah. Gunung Agung di Bali, Gunung Ijen-Merapi di Banyuwangi dan Gunung Tambora di Sumbawa terlihat jelas saat cuaca bagus di pagi hari. Untuk mendaki Rinjani tidak diperlukan alat bantu, cukup stamina, kesabaran dan "passion".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keseluruhan perjalanan dapat dicapai dalam program tiga hari dua malam, atau jika hendak melihat dua objek lain: Gua Susu dan gunung Baru Jari (anak gunung Rinjani dengan kawah baru di tengah danau) perlu tambahan waktu dua hari perjalanan. Persiapan logistik sangat diperlukan, tetapi untungnya segala sesuatu bisa diperoleh di desa terdekat. Tenda, sleeping bag, peralatan makan, bahan makanan dan apa saja yang diperlukan (termasuk radio komunikasi) bisa disewa dari homestay-homestay yang menjamur di desa Senaru.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2004672938421045134-37877005449055532?l=satoesyndicate.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/feeds/37877005449055532/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2004672938421045134&amp;postID=37877005449055532' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/37877005449055532'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/37877005449055532'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/2009/05/gunung-rinjani.html' title='Gunung Rinjani'/><author><name>satoe syndicate</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08856438899076171009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2004672938421045134.post-1221628945834355874</id><published>2009-05-14T10:27:00.001-07:00</published><updated>2009-05-14T10:27:48.093-07:00</updated><title type='text'>List Gunung di Jawa</title><content type='html'>* Gunung Anjasmara (2.277 m)&lt;br /&gt;    * Gunung Argapura (3.088 m)&lt;br /&gt;    * Gunung Arjuno (3.339 m)&lt;br /&gt;    * Gunung Bromo (2.392 m)&lt;br /&gt;    * Gunung Bukit Tunggul (2.208 m)&lt;br /&gt;    * Burangrang (2.057 m)&lt;br /&gt;    * Gunung Cereme (3.078 m)&lt;br /&gt;    * Gunung Cikuray (2.818 m)&lt;br /&gt;    * Gunung Galunggung (2.167 m)&lt;br /&gt;    * Gunung Gede (2.958 m)&lt;br /&gt;    * Gunung Guntur (2.249 m)&lt;br /&gt;    * Gunung Karang (1.245 m) sekitar 40 KM selatan Pandeglang&lt;br /&gt;    * Gunung Kembar I (3.052 m)&lt;br /&gt;    * Gunung Kembar II (3.126 m)&lt;br /&gt;    * Gunung Lasem (806 m) Rembang Jawa Tengah&lt;br /&gt;    * Gunung Lawu (3.245 m)&lt;br /&gt;    * Gunung Semeru (3.676m) gunung tertinggi di pulau Jawa dan gunung berapi ketiga tertinggi di Indonesia&lt;br /&gt;    * Gunung Malabar (2.343 m)&lt;br /&gt;    * Gunung Masigit (2.078 m)&lt;br /&gt;    * Gunung Merapi (2.911 m)&lt;br /&gt;    * Gunung Merbabu (3.145 m)&lt;br /&gt;    * Gunung Muria (1.602 m)&lt;br /&gt;    * Gunung Pangrango (3.019 m)&lt;br /&gt;    * Gunung Papandayan (2.665 m)&lt;br /&gt;    * Gunung Patuha (2.386 m)&lt;br /&gt;    * Gunung Penanggungan (1.653 m)&lt;br /&gt;    * Gunung Raung (3.332 m)&lt;br /&gt;    * Gunung Salak (2.211 m)&lt;br /&gt;    * Gunung Slamet (3.432 m)&lt;br /&gt;    * Gunung Sumbing (3.336 m)&lt;br /&gt;    * Gunung Sundara (3.150 m)&lt;br /&gt;    * Gunung Tangkuban Perahu (2.084 m)&lt;br /&gt;    * Gunung Ungaran (2,050 m)&lt;br /&gt;    * Gunung Wayang (2.181 m)&lt;br /&gt;    * Gunung Welirang (3.156 m)&lt;br /&gt;    * Gunung Wilis (2.552 m)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2004672938421045134-1221628945834355874?l=satoesyndicate.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/feeds/1221628945834355874/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2004672938421045134&amp;postID=1221628945834355874' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/1221628945834355874'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/1221628945834355874'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/2009/05/list-gunung-di-jawa.html' title='List Gunung di Jawa'/><author><name>satoe syndicate</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08856438899076171009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2004672938421045134.post-4663264173613484183</id><published>2009-05-14T10:26:00.001-07:00</published><updated>2009-05-14T10:26:27.038-07:00</updated><title type='text'>Gunung Merbabu</title><content type='html'>Gunung Merbabu adalah gunung api yang bertipe Strato (lihat Gunung Berapi) yang terletak secara geografis pada 7,5° LS dan 110,4° BT. Secara administratif gunung ini berada di wilayah Kabupaten Magelang di lereng sebelah barat dan Kabupaten Boyolali di lereng sebelah timur, Propinsi Jawa Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Merbabu dikenal melalui naskah-naskah masa pra-Islam sebagai Gunung Damalung. Di lerengnya pernah terdapat pertapaan terkenal dan pernah disinggahi oleh Bujangga Manik pada abad ke-15. Menurut etimologi, "merbabu" berasal dari gabungan kata "meru" (gunung) dan "abu" (abu). Nama ini baru muncul pada catatan-catatan Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung ini pernah meletus pada tahun 1560 dan 1797. Dilaporkan juga pada tahun 1570 pernah meletus, akan tetapi belum dilakukan konfirmasi dan penelitian lebih lanjut. Puncak gunung Merbabu berada pada ketinggian 3.145 meter di atas permukaan air laut.&lt;br /&gt;Merbabu dari arah Selo, Boyolali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Merbabu mempunyai kawasan Hutan Dipterokarp Bukit, Hutan Dipterokarp Atas, Hutan Montane, dan hutan Ericaceous atau hutan gunung.&lt;br /&gt;Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia&lt;br /&gt;Merapikan artikel bisa berupa membagi artikel ke dalam paragraf atau wikifikasi artikel. Setelah dirapikan, tolong hapus pesan ini.&lt;br /&gt;1. Jalur Pendakian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Merbabu cukup populer sebagai ajang kegiatan pendakian. Medannya tidak terlalu berat namun potensi bahaya yang harus diperhatikan pendaki adalah udara dingin, kabut tebal, hutan yang lebat namun homogen (hutan tumbuhan runjung, yang tidak cukup mendukung sarana bertahan hidup atau survival), serta ketiadaan sumber air. Penghormatan terhadap tradisi warga setempat juga perlu menjadi pertimbangan.&lt;br /&gt;1. 1. Kopeng Thekelan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Jakarta bisa naik kereta api atau bus ke Semarang, Yogya, atau Solo. Dilanjutkan dengan bus jurusan Solo-Semarang turun di kota Salatiga, dilanjutkan dengan bus kecil ke Kopeng. Dari Yogya naik bus ke Magelang, dilanjutkan dengan bus kecil ke Kopeng. Dari kopeng terdapat banyak jalur menuju ke Puncak, namun lebih baik melewati desa tekelan karena terdapat Pos yang dapat memberikan informasi maupun berbagai bantuan yang diperlukan. Pos Tekelan dapat ditempuh melalui bumi perkemahan Umbul Songo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bumi perkemahan Umbul Songo Anda dapat beristirahat menunggu malam tiba, karena pendakian akan lebih baik dilakukan malam hari tiba dipuncak menjelang matahari terbit. Andapun dapat beristirahat di Pos Thekelan yang menyediakan tempat untuk tidur, terutama bila tidak membawa tenda. Dapat juga berkemah di Pos Pending karena di tiga tempat ini kita bisa memperoleh air bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat di sekitar Merbabu mayoritas beragama Budha sehingga akan kita temui beberapa Vihara disekitar Kopeng. Penduduk sering melakukan meditasi atau bertapa dan banyak tempat-tempat menuju puncak yang dikeramatkan. Pantangan bagi pendaki untuk tidak buang air di Watu Gubug dan sekitar Kawah. Juga pendaki tidak diperkenankan mengenakan pakaian warna merah dan hijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun baru jawa 1 suro penduduk melakukan upacara tradisional di kawah Gn. Merbabu. Pada bulan Sapar penduduk Selo (lereng Selatan Merbabu) mengadakan upacara tradisional. Anak-anak wanita di desa tekelan dibiarkan berambut gimbal untuk melindungi diri dan agar memperoleh keselamatan. Perjalanan dari Pos Tekelan yang berada ditengah perkampungan penduduk, dimulai dengan melewati kebun penduduk dan hutan pinus. Dari sini kita dapat menyaksikan pemandangan yang sangat indah ke arah gunung Telomoyo dan Rawa Pening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Pos Pending kita dapat menemukan mata air, juga kita akan menemukan sungai kecil (Kali Sowo). Sebelum mencapai Pos I kita akan melewati Pereng Putih kita harus berhati-hati karena sangat terjal. Kemudian kita melewati sungai kering, dari sini pemandangan sangat indah ke bawah melihat kota Salatiga terutama di malam hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Pos I kita akan melewati hutan campuran menuju Pos II, menuju Pos III jalur mulai terbuka dan jalan mulai menanjak curam. Kita mendaki gunung Pertapan, hempasan angin yang kencang sangat terasa, apalagi berada di tempat terbuka. Kita dapat berlindung di Watu Gubug, sebuah batu berlobang yang dapat dimasuki 5 orang. Konon merupakan pintu gerbang menuju kerajaan makhluk ghaib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ada badai sebaiknya tidak melanjutkan perjalanan karena sangat berbahaya. Mendekati pos empat kita mendaki Gn. Watu tulis jalur agak curam dan banyak pasir maupun kerikil kecil sehingga licin, angin kencang membawa debu dan pasir sehingga harus siap menutup mata bila ada angin kencang. Pos IV yang berada di puncak Gn. Watu Tulis dengan ketinggian mencapai 2.896 mdpl ini, disebut juga Pos Pemancar karena di puncaknya terdapat sebuah Pemancar Radio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menuju Pos V jalur menurun, pos ini dikelilingi bukit dan tebing yang indah. Kita dapat turun menuju kawah Condrodimuko. Dan disini terdapat mata air, bedakan antara air minum dan air belerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan dilanjutkan dengan melewati tanjakan yang sangat terjal serta jurang disisi kiri dan kanannya. Tanjakan ini dinamakan Jembatan Setan. Kemudian kita akan sampai di persimpangan, ke kiri menuju Puncak Syarif (Gunung Pregodalem) dan ke kanan menuju puncak Kenteng Songo ( Gunung Kenteng Songo) yang memanjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari puncak Kenteng songo kita dapat memandang Gn.Merapi dengan puncaknya yang mengepulkan asap setiap saat, nampak dekat sekali. Ke arah barat tampak Gn.Sumbing dan Sundoro yang kelihatan sangat jelas dan indah, seolah-olah menantang untuk di daki. Lebih dekat lagi tampak Gn.Telomoyo dan Gn.Ungaran. Dari kejauhan ke arah timur tampak Gn.Lawu dengan puncaknya yang memanjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menuju Puncak Kenteng Songo ini jalurnya sangat berbahaya, selain sempit hanya berkisar 1 meter lebarnya dengan sisi kiri kanan jurang bebatuan tanpa pohon, juga angin sangat kencang siap mendorong kita setiap saat. Di puncak ini terdapat batu kenteng / lumpang / berlubang dengan jumlah 9 menurut penglihatan paranormal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menuruni gunung Merbabu lewat jalur menuju Selo menjadi pilihan yang menarik. Kita akan melewati padang rumput dan hutan edelweis, juga bukit-bukit berbunga yang sangat indah dan menyenangkan seperti di film India yang sangat menghibur kita sehingga lupa akan segala kelelahan, kedinginan dan rasa lapar. Disepanjang jalan kita dapat menyaksikan Gn.Merapi yang kelihatan sangat dekat dengan puncak yang selalu mengeluarkan Asap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita akan menuruni dan mendaki beberapa gunung kecil yang dilapisi rumput hijau tanpa pepohonan untuk berlindung dari hempasan angin. Disepanjang jalur tidak terdapat mata air dan pos peristirahatan. Kabut dan badai sering muncul dengan tiba-tiba, sehingga sangat berbahaya untuk mendirikan tenda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalur menuju Selo ini sangat banyak dan tidak ada rambu penunjuk jalan, sehingga sangat membingungkan pendaki. Banyak jalur yang sering dilalui penduduk untuk mencari rumput dipuncak gunung, sehingga pendaki akan sampai diperkampungan penduduk. Sambutan yang sangat ramah dan meriah diberikan oleh penduduk Selo bagi setiap pendaki yang baru saja turun Gn.Merbabu. Apabila Anda tidak bisa berbahasa jawa ucapkan saja terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Selo dapat dilanjutkan dengan bus kecil jurusan Boyolali-Magelang, bila ingin ke yogya ambil jurusan Magelang, dan bila hendak ke Semarang atau Solo ambil jurusan Boyolali.&lt;br /&gt;1. 2. Jalur Wekas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim Skrekanek yang berjumlah lima orang ( Steve, Sigit, Bowo, Hari, Bayu) pertengahan Maret 2005 melakukan pendakian Gunung Merbabu melalui Jalur Wekas. Untuk menuju ke Desa Wekas kita harus naik mobil Jurusan Kopeng - Magelang turun di Kaponan, yakni sekitar 9 Km dari Kopeng, tepatnya di depan gapura Desa Wekas. Dari Kaponan pendaki berjalan kaki melewati jalanan berbatu sejauh sekitar 3 Km menuju pos Pendakian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalur ini sangat populer dikalangan para Remaja dan Pecinta Alam kota Magelang, karena lebih dekat dan banyak terdapat sumber air, sehingga banyak remaja yang suka berkemah di Pos II terutama di hari libur. Wekas merupakan desa terakhir menuju puncak yang memakan waktu kira-kira 6-7 jam. Jalur wekas merupakan jalur pendek sehingga jarang terdapat lintasan yang datar membentang. Lintasan pos I cukup lebar dengan bebatuan yang mendasarinya. Sepanjang perjalanan akan menemui ladang penduduk khas dataran tinggi yang ditanami Bawang, Kubis, Wortel, dan Tembakau, juga dapat ditemui ternak kelinci yang kotorannya digunakan sebagai pupuk. Rute menuju pos I cukup menanjak dengan waktu tempuh 2 jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pos I merupakan sebuah dataran dengan sebuah balai sebagai tempat peristirahatan. Di sekitar area ini masih banyak terdapat warung dan rumah penduduk. Selepas pos I, perjalanan masih melewati ladang penduduk, kemudian masuk hutan pinus. Waktu tempuh menuju pos II adalah 2 jam, dengan jalur yang terus menanjak curam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pos II merupakan sebuah tempat yang terbuka dan datar, yang biasa didirikan hingga beberapa puluhan tenda. Pada hari Sabtu, Minggu dan hari libur Pos II ini banyak digunakan oleh para remaja untuk berkemah. Sehingga pada hari-hari tersebut banyak penduduk yang berdagang makanan. Pada area ini terdapat sumber air yang di salurkan melalui pipa-pipa besar yang ditampung pada sebuah bak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Pos II terdapat jalur buntu yang menuju ke sebuah sungai yang dijadikan sumber air bagi masyarakat sekitar Wekas hingga desa-desa di sekitarnya. Jalur ini mengikuti aliran pipa air menyusuri tepian jurang yang mengarah ke aliran sungai dibawah kawah. Terdapat dua buah aliran sungai yang sangat curam yang membentuk air terjun yang bertingkat-tingkat, sehingga menjadi suatu pemandangan yang sangat luar biasa dengan latar belakang kumpulan puncak - puncak Gn. Merbabu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas pos II jalur mulai terbuka hingga bertemu dengan persimpangan jalur Kopeng yang berada di atas pos V (Watu Tulis), jalur Kopeng. Dari persimpangan ini menuju pos Helipad hanya memerlukan waktu tempuh 15 menit. Perjalanan dilanjutkan dengan melewati tanjakan yang sangat terjal serta jurang disisi kiri dan kanannya. Tanjakan ini dinamakan Jembatan Setan. Kemudian kita akan sampai di persimpangan, ke kiri menuju Puncak Syarif (Gunung Pregodalem) dan ke kanan menuju puncak Kenteng Songo ( Gunung Kenteng Songo) yang memanjang.&lt;br /&gt;1. 3. Jalur Kopeng Cunthel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim Skrekanek yang berjumlah lima orang (Maulana, Steve, Iwi, Ardy, Sigit) pertengahan September 2004 melakukan pendakian Gunung Merbabu berangkat melalui jalur Kopeng - Cunthel, dan turun mengambil jalur Kopeng Thekelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menuju ke desa Cuntel dapat ditempuh dari kota Salatiga menggunakan mini bus jurusan Salatiga Magelang turun di areal wisata Kopeng, tepatnya di Bumi perkemahan Umbul Songo. Perjalanan dimulai dengan berjalan kaki menyusuri Jalan setapak berbatu yang agak lebar sejauh 2,5 km, di sebelah kiri adalah Bumi Perkemahan Umbul Songo. Setelah melewati Umbul Songo berbelok ke arah kiri, di sebelah kiri adalah hutan pinus setelah berjalan kira-kira 500 meter di sebelah kiri ada jalan setapak ke arah hutan pinus, jalur ini menuju ke desa Thekelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menuju ke Desa Cuntel berjalan terus mengikuti jalan berbatu hingga ujung. Banyak tanda penunjuk arah baik di sekitar desa maupun di jalur pendakian. Di Basecamp Desa Cuntel yang berada di tengah perkampungan ini, pendaki dapat beristirahat dan mengisi persediaan air. Pendaki juga dapat membeli berbagai barang-barang kenangan berupa stiker maupun kaos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah meninggalkan perkampungan, perjalanan dilanjutkan dengan melintasi perkebunan penduduk. Jalur sudah mulai menanjak mendaki perbukitan yang banyak ditumbuhi pohon pinus. Jalan setapak berupa tanah kering yang berdebu terutama di musim kemarau, sehingga mengganggu mata dan pernafasan. Untuk itu sebaiknya pendaki menggunakan masker pelindung dan kacamata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berjalan sekitar 30 menit dengan menyusuri bukit yang berliku-liku pendaki akan sampai di pos Bayangan I. Di tempat ini pendaki dapat berteduh dari sengatan matahari maupun air hujan. Dengan melintasi jalur yang masih serupa yakni menyusuri jalan berdebu yang diselingi dengan pohon-pohon pinus, sekitar 30 menit akan sampai di Pos Bayangan II. Di pos ini juga terdapat banguanan beratap untuk beristirahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Pos I hingga pos Pemancar jalur mulai terbuka, di kiri kanan jalur banyak ditumbuhi alang-alang. Sementara itu beberapa pohon pinus masih tumbuh dalam jarak yang berjauhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pos Pemancar atau sering juga di sebut gunung Watu Tulis berada di ketinggian 2.896 mdpl. Di puncaknya terdapat stasiun pemancar relay. Di Pos ini banyak terdapat batu-batu besar sehingga dapat digunakan untuk berlindung dari angin kencang. Namun angin kencang kadang datang dari bawah membawa debu-debu yang beterbangan. Pendakian di siang hari akan terasa sangat panas. Dari lokasi ini pemandangan ke arah bawah sangat indah, tampak di kejauhan Gn.Sumbing dan Gn.Sundoro, tampak Gn.Ungaran di belakang Gn. Telomoyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalur selanjutnya berupa turunan menuju Pos Helipad, suasana dan pemandangan di sekitar Pos Helipad ini sungguh sangat luar biasa. Di sebelah kanan terbentang Gn. Kukusan yang di puncaknya berwarna putih seperti muntahan belerang yang telah mengering. Di depan mata terbentang kawah yang berwarna keputihan. Di sebelah kanan di dekat kawah terdapat sebuah mata air, pendaki harus dapat membedakan antara air minum dan air belerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan dilanjutkan dengan melewati tanjakan yang sangat terjal serta jurang disisi kiri dan kanannya. Tanjakan ini dinamakan Jembatan Setan. Kemudian kita akan sampai di persimpangan, ke kiri menuju Puncak Syarif (Gunung Pregodalem) dan ke kanan menuju puncak Kenteng Songo ( Gunung Kenteng Songo) yang memanjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari puncak Kenteng songo kita dapat memandang Gn.Merapi dengan puncaknya yang mengepulkan asap setiap saat, nampak dekat sekali. Ke arah barat tampak Gn.Sumbing dan Sundoro yang kelihatan sangat jelas dan indah, seolah-olah menantang untuk di daki. Lebih dekat lagi tampak Gn.Telomoyo dan Gn.Ungaran. Dari kejauhan ke arah timur tampak Gn.Lawu dengan puncaknya yang memanjang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2004672938421045134-4663264173613484183?l=satoesyndicate.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/feeds/4663264173613484183/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2004672938421045134&amp;postID=4663264173613484183' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/4663264173613484183'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/4663264173613484183'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/2009/05/gunung-merbabu.html' title='Gunung Merbabu'/><author><name>satoe syndicate</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08856438899076171009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2004672938421045134.post-9077037734758263272</id><published>2009-05-14T10:25:00.001-07:00</published><updated>2009-05-14T10:25:48.904-07:00</updated><title type='text'>Gunung Merapi</title><content type='html'>Merapi adalah nama sebuah gunung berapi di provinsi Jawa Tengah dan Yogyakarta, Indonesia yang masih sangat aktif hingga saat ini. Sejak tahun 1548, gunung ini sudah meletus sebanyak 68 kali. Letaknya cukup dekat dengan Kota Yogyakarta dan masih terdapat desa-desa di lerengnya sampai ketinggian 1700 m. Bagi masyarakat di tempat tersebut, Merapi membawa berkah material pasir, sedangkan bagi pemerintah daerah, Gunung Merapi menjadi obyek wisata bagi para wisatawan. Kini Merapi termasuk ke dalam kawasan Taman Nasional Gunung Merapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar isi:&lt;br /&gt;1. Sejarah Geologis&lt;br /&gt;2. Rute Pendakian&lt;br /&gt;3. Status terkini&lt;br /&gt;4. Lihat pula&lt;br /&gt;5. Galeri&lt;br /&gt;6. Pranala luar&lt;br /&gt;Merapi&lt;br /&gt;Lokasi Klaten, Boyolali, Magelang (Jawa Tengah), Sleman (DI Yogyakarta)&lt;br /&gt;Kota terdekat Yogyakarta&lt;br /&gt;Negara Indonesia&lt;br /&gt;Tipe stratovolcano&lt;br /&gt;Letusan terakhir 2006&lt;br /&gt;Ketinggian 2.968 m (9.737 kaki)&lt;br /&gt;Koordinat 7°32'30" LS 110°26'30" BT&lt;br /&gt;1. Sejarah Geologis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Merapi adalah yang termuda dalam kumpulan gunung berapi di bagian selatan Pulau Jawa. Gunung ini terletak di zona subduksi, dimana Lempeng Indo-Australia terus bergerak ke bawah Lempeng Eurasia. Letusan di daerah tersebut berlangsung sejak 400.000 tahun lalu, dan sampai 10.000 tahun lalu jenis letusannya adalah efusif. Setelah itu, letusannya menjadi eksplosif, dengan lava kental yang menimbulkan kubah-kubah lava.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Letusan-letusan kecil terjadi tiap 2-3 tahun, dan yang lebih besar sekitar 10-15 tahun sekali. Letusan-letusan Merapi yang dampaknya besar antara lain di tahun 1006, 1786, 1822, 1872, dan 1930. Letusan besar pada tahun 1006 membuat seluruh bagian tengah Pulau Jawa diselubungi abu. Diperkirakan, letusan tersebut menyebabkan kerajaan Mataram Kuno harus berpindah ke Jawa Timur. Letusannya di tahun 1930 menghancurkan 13 desa dan menewaskan 1400 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Letusan pada November 1994 menyebabkan hembusan awan panas ke bawah hingga menjangkau beberapa desa dan memakan korban puluhan jiwa manusia. Letusan 19 Juli 1998 cukup besar namun mengarah ke atas sehingga tidak memakan korban jiwa. Catatan letusan terakhir gunung ini adalah pada tahun 2001-2003 berupa aktivitas tinggi yang berlangsung terus-menerus.&lt;br /&gt;2. Rute Pendakian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Merapi merupakan obyek pendakian yang popular. Jalur pendakian yang paling umum dan dekat adalah melalui sisi utara dari Sèlo, satu kecamatan di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, yang terletak di antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Pendakian melalui Selo memakan waktu rata-rata 5 jam hingga ke puncak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalur populer lain adalah melalui Kaliurang, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Yogyakarta di sisi selatan. Jalur ini lebih terjal dan memakan waktu sekitar 6-7 jam hingga ke puncak. Jalur alternatif yang lain adalah melalui sisi barat laut, dimulai dari Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah dan melalui sisi tenggara, dari arah Deles, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.&lt;br /&gt;3. Status terkini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bulan April dan Mei 2006, mulai muncul tanda-tanda bahwa Merapi akan meletus kembali, ditandai dengan gempa-gempa dan deformasi. Pemerintah daerah Jawa Tengah dan DI Yogyakarta sudah mempersiapkan upaya-upaya evakuasi. Instruksi juga sudah dikeluarkan oleh kedua pemda tersebut agar penduduk yang tinggal di dekat Merapi segera mengungsi ke tempat-tempat yang telah disediakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 15 Mei 2006 akhirnya Merapi meletus. Lalu pada 4 Juni, dilaporkan bahwa aktivitas Gunung Merapi telah melampaui status awas. Kepala BPPTK Daerah Istimewa Yogyakarta, Ratdomo Purbo menjelaskan bahwa sekitar 2-4 Juni volume lava di kubah Merapi sudah mencapai 4 juta meter kubik - artinya lava telah memenuhi seluruh kapasitas kubah Merapi sehingga tambahan semburan lava terbaru akan langsung keluar dari kubah Merapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 Juni, Hujan abu vulkanik dari luncuran awan panas Gunung Merapi yang lebat, tiga hari belakangan ini terjadi di Kota Magelang dan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Muntilan sekitar 14 kilometer dari Puncak Merapi, paling merasakan hujan abu ini. [1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8 Juni, Gunung Merapi pada pukul 09:03 WIB meletus dengan semburan awan panas yang membuat ribuan warga di wilayah lereng Gunung Merapi panik dan berusaha melarikan diri ke tempat aman. Hari ini tercatat dua letusan Merapi, letusan kedua terjadi sekitar pukul 09:40 WIB. Semburan awam panas sejauh 5 km lebih mengarah ke hulu Kali Gendol (lereng selatan) dan menghanguskan sebagian kawasan hutan di utara Kaliadem di wilayah Kabupaten Sleman. [2] [3]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2004672938421045134-9077037734758263272?l=satoesyndicate.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/feeds/9077037734758263272/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2004672938421045134&amp;postID=9077037734758263272' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/9077037734758263272'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/9077037734758263272'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/2009/05/gunung-merapi.html' title='Gunung Merapi'/><author><name>satoe syndicate</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08856438899076171009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2004672938421045134.post-7691176642090974803</id><published>2009-05-14T10:24:00.001-07:00</published><updated>2009-05-14T10:24:19.445-07:00</updated><title type='text'>Gunung Lawu</title><content type='html'>Gunung Lawu (3.265 m) terletak di Pulau Jawa, Indonesia, tepatnya di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Status gunung ini adalah gunung api "istirahat" dan telah lama tidak aktif, terlihat dari rapatnya vegetasi serta puncaknya yang tererosi. Di lerengnya terdapat kepundan kecil yang masih mengeluarkan uap air (fumarol) dan belerang (solfatara). Gunung Lawu mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan hutan Ericaceous.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Lawu memiliki tiga puncak, Puncak Hargo Dalem, Hargo Dumiling dan Hargo Dumilah. Yang terakhir ini adalah puncak tertinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lereng gunung ini terdapat sejumlah tempat yang populer sebagai tujuan wisata, terutama di daerah Tawangmangu, Cemorosewu, dan Sarangan. Agak ke bawah, di sisi barat terdapat dua komplek percandian dari masa akhir Majapahit: Candi Sukuh dan Candi Cetho. Di kaki gunung ini juga terletak komplek pemakaman kerabat Praja Mangkunagaran: Astana Girilayu dan Astana Mangadeg. Di dekat komplek ini terletak Astana Giribangun, mausoleum untuk keluarga presiden kedua Indonesia, Suharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar isi:&lt;br /&gt;1. Pendakian&lt;br /&gt;2. Misteri gunung Lawu&lt;br /&gt;3. Legenda gunung Lawu&lt;br /&gt;4. Obyek wisata&lt;br /&gt;5. Lihat pula&lt;br /&gt;6. Pranala luar&lt;br /&gt;1. Pendakian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Lawu sangat populer untuk kegiatan pendakian. Setiap malam 1 Sura banyak orang berziarah dengan mendaki hingga ke puncak. Karena populernya, di puncak gunung bahkan dapat dijumpai pedagang makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendakian standar dapat dimulai dari dua tempat (basecamp): Cemorokandang di Tawangmangu, Jawa Tengah, serta Cemorosewu, di Sarangan, Jawa Timur. Gerbang masuk keduanya terpisah hanya 200 m.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendakian dari Cemorosewu melalui dua sumber mata air: Sendang (kolam) Panguripan terletak antara Cemorosewu dan Pos 1 dan Sendang Drajat di antara Pos 4 dan Pos 5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendakian melalui Cemorokandang akan melewati 5 selter dengan jalur yang relatif telah tertata dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendakian melalui cemorosewu akan melewati 5 pos. Jalur melalui Cemorosewu lebih nge-track. Akan tetapi jika kita lewat jalur ini kita akan sampai puncak lebih cepat daripada lewat jalur Cemorokandang. Pendakian melalui Cemorosewu jalannya cukup tertata dengan baik. Jalannya terbuat dari batu-batuan yang sudah ditata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalur dari pos 3 menuju pos 4 berupa tangga yang terbuat dari batu alam. Pos ke4 baru direnovasi,jadi untuk saat ini di pos4 tidak ada bangunan untuk berteduh. Biasanya kita tidak sadar telah sampai di pos 4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dekat pos 4 ini kita bisa melihat telaga Sarangan dari kejahuan. Jalur dari pos 4 ke pos 5 sangat nyaman, tidak nge-track seperti jalur yang menuju pos 4. Di pos2 terdapat watu gedhe yang kami namai watu iris(karena seperti di iris).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dekat pintu masuk Cemorosewu terdapat suatu bangunan seperti masjid yang ternyata adalah makam.Untuk mendaki melalui Cemorosewu(bagi pemula) janganlah mendaki di siang hari karena medannya gag nguatin untuk pemula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas puncak Hargo Dumilah terdapat satu tugu.&lt;br /&gt;2. Misteri gunung Lawu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Lawu menyimpan misteri pada masing-masing dari tiga puncak utamanya dan menjadi tempat yang dimitoskan sebagai tempat sakral di Tanah Jawa. Harga Dalem diyakini sebagai tempat pamoksan Prabu Bhrawijaya Pamungkas, Harga Dumiling diyakini sebagai tempat pamoksan Ki Sabdopalon, dan Harga Dumilah merupakan tempat yang penuh misteri yang sering dipergunakan sebagai ajang menjadi kemampuan olah batin dan meditasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon gunung Lawu merupakan pusat kegiatan spiritual di Tanah Jawa dan berhubungan erat dengan tradisi dan budaya Keraton Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang yang hendak pergi ke puncaknya harus memahami berbagai larangan tidak tertulis untuk tidak melakukan sesuatu, baik bersifat perbuatan maupun perkataan. Bila pantangan itu dilanggar di pelaku diyakini bakal bernasib naas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat-tempat lain yang diyakini misterius oleh penduduk setempat yakni: Sendang Inten, Sendang Drajat, Sendang Panguripan, Sumur Jalatunda, Kawah Candradimuka, Repat Kepanasan/Cakrasurya, dan Pringgodani.&lt;br /&gt;3. Legenda gunung Lawu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita dimulai dari masa akhir kerajaan Majapahit (1400 M) pada masa pemerintahan Sinuwun Bumi Nata Bhrawijaya Ingkang Jumeneng kaping 5 (Pamungkas). Dua istrinya yang terkenal ialah Dara Petak putri dari daratan Tiongkok dan Dara Jingga. Dari Dara Petak lahir putra Raden Fatah, dari Dara Jingga lahir putra Pangeran Katong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raden Fatah setelah dewasa agama islam berbeda dengan ayahandanya yang beragama Budha. Dan bersamaan dengan pudarnya Majapahit, Raden Fatah mendirikan Kerajaan di Glagah Wangi (Demak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kondisi yang demikian itu , masygullah hati Sang Prabu. Sebagai raja yang bijak, pada suatu malam, dia pun akhirnya bermeditasi memohon petunjuk Sang Maha Kuasa. Dalam semedinya didapatkannya wangsit yang menyatakan bahwa sudah saatnya cahaya Majapahit memudar dan wahyu kedaton akan berpindah ke kerajaan Demak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada malam itu pulalah Sang Prabu dengan hanya disertai pemomongnya yang setia Sabdopalon diam-diam meninggalkan keraton dan melanglang praja dan pada akhirnya naik ke Puncak Lawu. Sebelum sampai di puncak, dia bertemu dengan dua orang kepala dusun yakni Dipa Menggala dan Wangsa Menggala. Sebagai abdi dalem yang setia dua orang itu pun tak tega membiarkan tuannya begitu saja. Merekapun pergi bersama ke puncak Harga Dalem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu Sang Prabu bertitah, "Wahai para abdiku yang setia sudah saatnya aku harus mundur, aku harus muksa dan meninggalkan dunia ramai ini. Dipa Menggala, karena kesetiaanmu kuangkat kau menjadi penguasa gunung Lawu dan membawahi semua mahluk gaib dengan wilayah ke barat hingga wilayah gunung Merapi/gunung Merbabu, ke timur hingga gunung Wilis, ke selatan hingga Pantai selatan , dan ke utara sampai dengan pantai utara dengan gelar Sunan Gunung Lawu. Dan kepada Wangsa Menggala, kau kuangkat sebagai patihnya, dengan gelar Kyai Jalak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kuasa menahan gejolak di hatinya, Sabdopalon pun memberanikan diri berkata kepada Sang Prabu: Bila demikian adanya hamba pun juga pamit berpisah dengan Sang Prabu, hamba akan naik ke Harga Dumiling dan meninggalkan Sang Prabu di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita Sang Prabu Brawijaya pun muksa di Harga Dalem, dan Sabdopalon moksa di Harga Dumiling. Tinggalah Sunan Lawu Sang Penguasa gunung dan Kyai Jalak yang karena kesaktian dan kesempurnaan ilmunya kemudian menjadi mahluk gaib yang hingga kini masih setia melaksanakan tugas sesuai amanat Sang Prabu Brawijaya.&lt;br /&gt;4. Obyek wisata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obyek wisata di sekitar gunung Lawu antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Telaga Sarangan&lt;br /&gt;    * Kawah Telaga Kuning&lt;br /&gt;    * Kawah Telaga Lembung Selayur.&lt;br /&gt;    * Wana wisata sekitar Gunung Lawu&lt;br /&gt;    * Air Terjun Pondok Kiwo&lt;br /&gt;    * Air Terjun Kakek Bodo-Tretes&lt;br /&gt;    * Air Panas Padusan-Pacet&lt;br /&gt;    * Tawangmangu&lt;br /&gt;    * Cemorosewu&lt;br /&gt;    * Candi Sukuh&lt;br /&gt;    * Candi Cetho&lt;br /&gt;    * Komplek pemakaman kerabat Praja Mangkunagaran:&lt;br /&gt;          o Astana Girilayu&lt;br /&gt;          o Astana Mangadeg&lt;br /&gt;    * Astana Giribangun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Lihat pula&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2004672938421045134-7691176642090974803?l=satoesyndicate.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/feeds/7691176642090974803/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2004672938421045134&amp;postID=7691176642090974803' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/7691176642090974803'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/7691176642090974803'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/2009/05/gunung-lawu.html' title='Gunung Lawu'/><author><name>satoe syndicate</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08856438899076171009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2004672938421045134.post-94009961291096424</id><published>2009-05-14T10:23:00.001-07:00</published><updated>2009-05-14T10:23:27.445-07:00</updated><title type='text'>Gunung Krakatau</title><content type='html'>Krakatau adalah kepulauan vulkanik yang masih aktif dan berada di Selat Sunda antara pulau Jawa dan Sumatra. Nama ini pernah disematkan pada satu puncak gunung berapi di sana yang, karena letusan pada tanggal 26-27 Agustus 1883, kemudian sirna. Letusannya sangat dahsyat dan tsunami yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Sampai tanggal 26 Desember 2004, tsunami ini adalah yang terdahsyat di kawasan Samudera Hindia. Suara letusan itu terdengar sampai di Alice Springs, Australia dan Pulau Rodrigues dekat Afrika, 4.653 kilometer. Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Letusan Krakatau menyebabkan perubahan iklim global. Dunia sempat gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya. Hamburan debu tampak di langit Norwegia hingga New York.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ledakan Krakatau ini sebenarnya masih kalah dibandingkan dengan letusan Gunung Toba dan Gunung Tambora di Indonesia, Gunung Tanpo di Selandia Baru dan Gunung Katmal di Alaska. Namun gunung-gunung tersebut meletus jauh di masa populasi manusia masih sangat sedikit. Sementara ketika Gunung Krakatau meletus, populasi manusia sudah cukup padat, sains dan teknologi telah berkembang, telegraf sudah ditemukan, dan kabel bawah laut sudah dipasang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa saat itu teknologi informasi sedang tumbuh dan berkembang pesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tercatat bahwa letusan Gunung Krakatau adalah bencana besar pertama di dunia setelah penemuan telegraf bawah laut. Kemajuan tersebut, sayangnya belum diimbangi dengan kemajuan di bidang geologi. Para ahli geologi saat itu bahkan belum mampu memberikan penjelasan mengenai letusan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar isi:&lt;br /&gt;1. Perkembangan Gunung Krakatau&lt;br /&gt;2. Krakatau dalam karya seni&lt;br /&gt;3. Lihat pula&lt;br /&gt;4. Pranala luar&lt;br /&gt;Krakatau&lt;br /&gt;Krakatoa (bahasa Inggris)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Krakatau pada lukisan abad ke-19.&lt;br /&gt;Tinggi  813 m (2,667 kaki)&lt;br /&gt;Letak  Selat Sunda, Indonesia&lt;br /&gt;Koordinat  6°6′27″LS,105°25′3″BT&lt;br /&gt;Jenis  Kaldera vulkanik&lt;br /&gt;Letusan terakhir  2007-2008&lt;br /&gt;1. Perkembangan Gunung Krakatau&lt;br /&gt;1. 1. Gunung Krakatau Purba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kawasan Gunung Krakatau di Selat Sunda, para ahli memperkirakan bahwa pada masa purba terdapat gunung yang sangat besar di Selat Sunda yang akhirnya meletus dahsyat yang menyisakan sebuah kaldera (kawah besar) yang disebut Gunung Krakatau Purba, yang merupakan induk dari Gunung Krakatau yang meletus pada 1883. Gunung ini disusun dari bebatuan andesitik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan mengenai letusan Krakatau Purba yang diambil dari sebuah teks Jawa Kuno yang berjudul Pustaka Raja Parwa yang diperkirakan berasal dari tahun 416 Masehi. Isinya antara lain menyatakan:&lt;br /&gt;“ Ada suara guntur yang menggelegar berasal dari Gunung Batuwara. Ada pula goncangan bumi yang menakutkan, kegelapan total, petir dan kilat. Kemudian datanglah badai angin dan hujan yang mengerikan dan seluruh badai menggelapkan seluruh dunia. Sebuah banjir besar datang dari Gunung Batuwara dan mengalir ke timur menuju Gunung Kamula.... Ketika air menenggelamkannya, pulau Jawa terpisah menjadi dua, menciptakan pulau Sumatera ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakar geologi Berend George Escher dan beberapa ahli lainnya berpendapat bahwa kejadian alam yang diceritakan berasal dari Gunung Krakatau Purba, yang dalam teks tersebut disebut Gunung Batuwara. Menurut buku Pustaka Raja Parwa tersebut, tinggi Krakatau Purba ini mencapai 2.000 meter di atas permukaan laut, dan lingkaran pantainya mencapai 11 kilometer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat ledakan yang hebat itu, tiga perempat tubuh Krakatau Purba hancur menyisakan kaldera (kawah besar) di Selat Sunda. Sisi-sisi atau tepi kawahnya dikenal sebagai Pulau Rakata, Pulau Panjang dan Pulau Sertung, dalam catatan lain disebut sebagai Pulau Rakata, Pulau Rakata Kecil dan Pulau Sertung. Letusan gunung ini disinyalir bertanggung- jawab atas terjadinya abad kegelapan di muka bumi. Penyakit sampar bubonic terjadi karena temperatur mendingin. Sampar ini secara signifikan mengurangi jumlah penduduk di muka bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Letusan ini juga dianggap turut andil atas berakhirnya masa kejayaan Persia purba, transmutasi Kerajaan Romawi ke Kerajaan Byzantium, berakhirnya peradaban Arabia Selatan, punahnya kota besar Maya, Tikal dan jatuhnya peradaban Nazca di Amerika Selatan yang penuh teka-teki. Ledakan Krakatau Purba diperkirakan berlangsung selama 10 hari dengan perkiraan kecepatan muntahan massa mencapai 1 juta ton per detik. Ledakan tersebut telah membentuk perisai atmosfer setebal 20-150 meter, menurunkan temperatur sebesar 5-10 derajat selama 10-20 tahun.&lt;br /&gt;1. 2. Munculnya Gunung Krakatau&lt;br /&gt;Perkembangan Gunung Krakatau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulau Rakata, yang merupakan satu dari tiga pulau sisa Gunung Krakatau Purba kemudian tumbuh sesuai dengan dorongan vulkanik dari dalam perut bumi yang dikenal sebagai Gunung Krakatau (atau Gunung Rakata) yang terbuat dari batuan basaltik. Kemudian, dua gunung api muncul dari tengah kawah, bernama Gunung Danan dan Gunung Perbuwatan yang kemudian menyatu dengan Gunung Rakata yang muncul terlebih dahulu. Persatuan ketiga gunung api inilah yang disebut Gunung Krakatau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Krakatau pernah meletus pada tahun 1680 menghasilkan lava andesitik asam. Lalu pada tahun 1880, Gunung Perbuwatan aktif mengeluarkan lava meskipun tidak meletus. Setelah masa itu, tidak ada lagi aktivitas vulkanis di Krakatau hingga 20 Mei 1883. Pada hari itu, setelah 200 tahun tertidur, terjadi ledakan kecil pada Gunung Krakatau. Itulah tanda-tanda awal bakal terjadinya letusan dahsyat di Selat Sunda. Ledakan kecil ini kemudian disusul dengan letusan-letusan kecil yang puncaknya terjadi pada 26-27 Agustus 1883.&lt;br /&gt;1. 3. Erupsi 1883&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari Senin, 27 Agustus 1883, tepat jam 10.20, meledaklah gunung itu. Menurut Simon Winchester, ahli geologi lulusan Universitas Oxford Inggris yang juga penulis National Geographic mengatakan bahwa ledakan itu adalah yang paling besar, suara paling keras dan peristiwa vulkanik yang paling meluluhlantakkan dalam sejarah manusia modern. Suara letusannya terdengar sampai 4.600 km dari pusat letusan dan bahkan dapat didengar oleh 1/8 penduduk bumi saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut para peneliti di University of North Dakota, ledakan Krakatau bersama ledakan Tambora (1815) mencatatkan nilai Volcanic Explosivity Index (VEI) terbesar dalam sejarah modern. The Guiness Book of Records mencatat ledakan Krakatau sebagai ledakan yang paling hebat yang terekam dalam sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ledakan Krakatau telah melemparkan batu-batu apung dan abu vulkanik dengan volume 18 kilometer kubik. Semburan debu vulkanisnya mencavai 80 km. Benda-benda keras yang berhamburan ke udara itu jatuh di dataran pulau Jawa dan Sumatera bahkan sampai ke Sri Lanka, India, Pakistan, Australia dan Selandia Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Letusan itu menghancurkan Gunung Danan, Gunung Perbuwatan serta sebagian Gunung Rakata dimana setengah kerucutnya hilang, membuat cekungan selebar 7 km dan sedalam 250 meter. Gelombang laut naik setinggi 40 meter menghancurkan desa-desa dan apa saja yang berada di pesisir pantai. Tsunami ini timbul bukan hanya karena letusan tetapi juga longsoran bawah laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tercatat jumlah korban yang tewas mencapai 36.417 orang berasal dari 295 kampung kawasan pantai mulai dari Merak (Serang) hingga Cilamaya di Karawang, pantai barat Banten hingga Tanjung Layar di Pulau Panaitan (Ujung Kulon serta Sumatera Bagian selatan. Di Ujungkulon, air bah masuk sampai 15 km ke arah barat. Keesokan harinya sampai beberapa hari kemudian, penduduk Jakarta dan Lampung pedalaman tidak lagi melihat matahari. Gelombang Tsunami yang ditimbulkan bahkan merambat hingga ke pantai Hawaii, pantai barat Amerika Tengah dan Semenanjung Arab yang jauhnya 7 ribu kilometer.&lt;br /&gt;1. 4. Anak Krakatau&lt;br /&gt;Anak Krakatau, Februari 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai pada tahun 1927 atau kurang lebih 40 tahun setelah meletusnya Gunung Krakatau, muncul gunung api yang dikenal sebagai Anak Krakatau dari kawasan kaldera purba tersebut yang masih aktif dan tetap bertambah tingginya. Kecepatan pertumbuhan tingginya sekitar 20 inci per bulan. Setiap tahun ia menjadi lebih tinggi sekitar 20 kaki dan lebih lebar 40 kaki. Catatan lain menyebutkan penambahan tinggi sekitar 4 cm per tahun dan jika dihitung, maka dalam waktu 25 tahun penambahan tinggi anak Rakata mencapai 7.500 inci atau 500 kaki lebih tinggi dari 25 tahun sebelumnya. Penyebab tingginya gunung itu disebabkan oleh material yang keluar dari perut gunung baru itu. Saat ini ketinggian Anak Krakatau mencapai sekitar 230 meter di atas permukaan laut, sementara Gunung Krakatau sebelumnya memiliki tinggi 813 meter dari permukaan laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Simon Winchester, sekalipun apa yang terjadi dalam kehidupan Krakatau yang dulu sangat menakutkan, realita-realita geologi, seismik serta tektonik di Jawa dan Sumatera yang aneh akan memastikan bahwa apa yang dulu terjadi pada suatu ketika akan terjadi kembali. Tak ada yang tahu pasti kapan Anak Krakatau akan meletus. Beberapa ahli geologi memprediksi letusan in bakal terjadi antara 2015-2083. Namun pengaruh dari gempa di dasar Samudera Hindia pada 26 Desember 2004 juga tidak bisa diabaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Profesor Ueda Nakayama salah seorang ahli gunung api berkebangsaan Jepang, Anak Krakatau masih relatif aman meski aktif dan sering ada letusan kecil, hanya ada saat-saat tertentu para turis dilarang mendekati kawasan ini karena bahaya lava pijar yang dimuntahkan gunung api ini. Para pakar lain menyatakan tidak ada teori yang masuk akal tentang Anak Krakatau yang akan kembali meletus. Kalaupun ada minimal 3 abad lagi atau sesudah 2325 M. Namun yang jelas, angka korban yang ditimbulkan lebih dahsyat dari letusan sebelumnya.&lt;br /&gt;2. Krakatau dalam karya seni&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. 1. Film&lt;br /&gt;    * Krakatoa, East of Java Drama, AS, 1969, Sutradara: Bernard Kowalski, bersama pemeran utama Maximilian Schell&lt;br /&gt;    * Krakatau - Ein Vulkan verändert die Welt. Doku-Drama, 2006, 45 Min., Sutradara dan naskah: Jeremy Hall, Produksi: ZDF, Laman di ZDF&lt;br /&gt;    * Krakatoa. The Last Days, Dokudrama, Britania Raya, 2006, 87 Min., Sutradara: Sam Miller, Produksi BBC, dengan Olivia Williams sebagai pemeran utama. Laman di BBC&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2004672938421045134-94009961291096424?l=satoesyndicate.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/feeds/94009961291096424/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2004672938421045134&amp;postID=94009961291096424' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/94009961291096424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/94009961291096424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/2009/05/gunung-krakatau.html' title='Gunung Krakatau'/><author><name>satoe syndicate</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08856438899076171009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2004672938421045134.post-5557158862501193160</id><published>2009-05-14T10:22:00.001-07:00</published><updated>2009-05-14T10:22:31.409-07:00</updated><title type='text'>Gunung Kerinci</title><content type='html'>Gunung Kerinci (juga dieja "Kerintji", dan dikenal sebagai Gunung Kerenci, Gadang, Berapi Kurinci, Korinci, atau Puncak Indrapura) adalah gunung tertinggi di Sumatra, dan puncak tertinggi di Indonesia di luar Papua. Gunung Kerinci terletak di Bukit Barisan, dekat pantai barat, dan terletak sekitar 130 km sebelah selatan Padang. Ia adalah fitur paling terkenal dari Taman Nasional Kerinci Seblat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerinci masih aktif dan terakhir kali meletus pada tahun 1970.&lt;br /&gt;Gunung Kerinci&lt;br /&gt;Ketinggian  3.805 meter (12.467 kaki)&lt;br /&gt;Garis Lintang  1° 69′ LS&lt;br /&gt;Garis Bujur  101° 27′ BT&lt;br /&gt;Lokasi  Sumatra, Indonesia&lt;br /&gt;Pegunungan  Bukit Barisan&lt;br /&gt;Jenis  Stratovolcano&lt;br /&gt;Pendakian pertama  1877 oleh von Hasselt and Veth&lt;br /&gt;Rute paling mudah  ???&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2004672938421045134-5557158862501193160?l=satoesyndicate.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/feeds/5557158862501193160/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2004672938421045134&amp;postID=5557158862501193160' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/5557158862501193160'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/5557158862501193160'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/2009/05/gunung-kerinci.html' title='Gunung Kerinci'/><author><name>satoe syndicate</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08856438899076171009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2004672938421045134.post-771704002176313812</id><published>2009-05-14T10:21:00.001-07:00</published><updated>2009-05-14T10:21:39.032-07:00</updated><title type='text'>Gunung Kelud</title><content type='html'>Gunung Kelut (Kelud, berarti "sapu" dalam bahasa Jawa) adalah sebuah gunung berapi di Provinsi Jawa Timur, Indonesia, yang masih aktif. Gunung ini berada di perbatasan antara Kabupaten Kediri dan Kabupaten Blitar, atau sekitar 27 km sebelah timur Kota Kediri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar isi:&lt;br /&gt;1. Aktivitas Gunung Kelud&lt;br /&gt;2. Obyek wisata Gunung Kelud&lt;br /&gt;3. Lihat pula&lt;br /&gt;4. Rujukan&lt;br /&gt;5. Pranala luar&lt;br /&gt;Kelut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelut sebelum letusan 2007&lt;br /&gt;Tinggi  1.731 m (5,679&lt;/noinclude&gt; kaki)&lt;br /&gt;Letak  Jawa Timur, Indonesia&lt;br /&gt;Koordinat  ﻿, Koordinat: ﻿,&lt;br /&gt;Jenis  Stratovolcano&lt;br /&gt;Lengkung/sabuk vulkanik  Cincin Api Pasifik&lt;br /&gt;Letusan terakhir  2007&lt;br /&gt;Listing  Daftar gunung berapi di Indonesia&lt;br /&gt;1. Aktivitas Gunung Kelud&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak abad ke-15, Gunung Kelut telah memakan korban lebih dari 15.000 jiwa. Letusan gunung ini pada tahun 1586 merenggut korban lebih dari 10.000 jiwa.[1] Sebuah sistem untuk mengalihkan aliran lahar telah dibuat secara ekstensif pada tahun 1926 dan masih berfungsi hingga kini setelah letusan pada tahun 1919 memakan korban hingga ribuan jiwa akibat banjir lahar dingin menyapu pemukiman penduduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada abad ke-20, Gunung Kelut tercatat meletus pada tahun 1901, 1919 (1 Mei[2]), 1951, 1966, dan 1990. Tahun 2007 gunung ini kembali meningkat aktivitasnya. Pola ini membawa para ahli gunung api pada siklus 15 tahunan bagi letusan gunung ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas gunung ini meningkat pada akhir September 2007 dan masih terus berlanjut hingga November tahun yang sama, ditandai dengan meningkatnya suhu air danau kawah, peningkatan kegempaan tremor, serta perubahan warna danau kawah dari kehijauan menjadi putih keruh. Status "awas" (tertinggi) dikeluarkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi sejak 16 Oktober 2007 yang berimplikasi penduduk dalam radius 10 km dari gunung (lebih kurang 135.000 jiwa) yang tinggal di lereng gunung tersebut harus mengungsi. Namun letusan tidak terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sempat agak mereda, aktivitas Gunung Kelut kembali meningkat sejak 30 Oktober 2007 dengan peningkatan pesat suhu air danau kawah dan kegempaan vulkanik dangkal. Pada tanggal 3 November 2007 sekitar pukul 16.00 suhu air danau melebihi 74 derajat Celsius, jauh di atas normal gejala letusan sebesar 40 derajat Celsius, sehingga menyebabkan alat pengukur suhu rusak. Getaran gempa tremor dengan amplitudo besar (lebih dari 35mm) menyebabkan petugas pengawas harus mengungsi, namun kembali tidak terjadi letusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat aktivitas tinggi tersebut terjdi gejala unik yang baru terjadi dalam sejarah Kelut dengan munculnya asap putih dari tengah danau diikuti dengan kubah lava dari tengah-tengah danau kawah sejak tanggal 5 November 2007 dan terus "tumbuh" hingga berukuran selebar 100m. Para ahli menganggap kubah lava inilah yang menyumbat saluran magma sehingga letusan tidak segera terjadi. Energi untuk letusan dipakai untuk mendorong kubah lava sisa letusan tahun 1990.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak peristiwa tersebut aktivitas pelepasan energi semakin berkurang dan pada tanggal 8 November 2007 status Gunung Kelud diturunkan menjadi "siaga" (tingkat 3).&lt;br /&gt;2. Obyek wisata Gunung Kelud&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada lereng Gunung Kelut sejak tahun 2004 telah dibuka sarana jalan darat untuk mempermudah para wisatawan serta penduduk sekitar menuju pucak Gunung Kelud. Gunung Kelud juga telah menjadi obyek wisata Kabupaten Kediri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2004672938421045134-771704002176313812?l=satoesyndicate.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/feeds/771704002176313812/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2004672938421045134&amp;postID=771704002176313812' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/771704002176313812'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/771704002176313812'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/2009/05/gunung-kelud.html' title='Gunung Kelud'/><author><name>satoe syndicate</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08856438899076171009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2004672938421045134.post-1868527825285064857</id><published>2009-05-14T10:20:00.001-07:00</published><updated>2009-05-14T10:20:55.306-07:00</updated><title type='text'>Gunung Carstensz</title><content type='html'>Puncak Jaya atau Gunung Jaya ialah sebuah gunung yang terdapat di provinsi Papua, Indonesia. Puncak Jaya mempunyai ketinggian setinggi 4884 m sehingga terdapat salju di puncaknya. Gunung ini terletak di Barisan Sudirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung ini dulu pernah bernama Poentjak Soekarno dan merupakan gunung yang tertinggi di Oceania. Puncak Jaya adalah salah satu dari Tujuh Puncak Utama dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama-nama/ejaan lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Ngga Pulu&lt;br /&gt;    * Gunung Carstensz&lt;br /&gt;    * Piramida Carstensz&lt;br /&gt;    * Puncak Carstensz&lt;br /&gt;    * Puncak Jayakesuma&lt;br /&gt;    * Puncak Piramida Carstensz&lt;br /&gt;    * Ndugundugu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2004672938421045134-1868527825285064857?l=satoesyndicate.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/feeds/1868527825285064857/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2004672938421045134&amp;postID=1868527825285064857' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/1868527825285064857'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/1868527825285064857'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/2009/05/gunung-carstensz.html' title='Gunung Carstensz'/><author><name>satoe syndicate</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08856438899076171009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2004672938421045134.post-1835785980411969992</id><published>2009-05-14T10:19:00.001-07:00</published><updated>2009-05-14T10:19:23.721-07:00</updated><title type='text'>Gunung Gede</title><content type='html'>Gunung Gede merupakan sebuah gunung yang berada di pulau Jawa, Indonesia. Gunung Gede berada dalam ruang lingkup Taman Nasional Gede Pangarango, yang merupakan salah satu dari lima taman nasional yang pertama kali diumumkan di Indonesia pada tahun 1980. Terletak diantara tiga kabupaten yaitu Kabupaten Bogor, Cianjur dan Sukabumi, dengan ketinggian 1.000 - 3.000 m. dpl, dan berada pada lintang 106°51' - 107°02' BT dan 64°1' - 65°1 LS. Suhu rata-rata di puncak gunung Gede 18°c dan di malam hari suhu puncak berkisar 5°c, dengan curah hujan rata-rata 3.600 mm/tahun. Gerbang utama menuju gunung ini adalah dari Cibodas dan Cipanas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Gede mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar isi:&lt;br /&gt;1. Objek Penelitian&lt;br /&gt;2. Objek Pariwisata&lt;br /&gt;3. Legenda Rakyat&lt;br /&gt;4. Rute Pencapaian&lt;br /&gt;5. Pranala luar&lt;br /&gt;6. Referensi&lt;br /&gt;Gunung Gede&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggi  2.958 meter (9.705 kaki)[1]&lt;br /&gt;Letak  sukabumi Jawa barat , Indonesia&lt;br /&gt;Koordinat  6.78° LS 106.98° BT&lt;br /&gt;Jenis  Stratovolcano&lt;br /&gt;Letusan terakhir  1957&lt;br /&gt;1. Objek Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Gede mempunyai keadaan alam yang khas dan unik, hal ini menjadikan Gunung Gede sebagai salah satu laboratorium alam yang menarik minat para peneliti sejak lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tercatat pada tahun 1819, C.G.C. Reinwardt sebagai orang yang pertama yang mendaki Gunung Gede, kemudian disusul oleh F.W. Junghuhn (1839-1861), J.E. Teysmann (1839), A.R. Wallace (1861), S.H. Koorders (1890), M. Treub (1891), W.M. van Leeuen (1911); dan C.G.G.J. van Steenis (1920-1952) telah membuat koleksi tumbuhan sebagai dasar penyusunan buku The Mountain Flora of Java yang diterbitkan tahun 1972.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Gede juga memiliki keanekaragaman ekosistem yang terdiri dari ekosistem sub-montana, montana, sub-alpin, danau, rawa, dan savana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Gede terkenal kaya akan berbagai jenis burung yaitu sebanyak 251 jenis dari 450 jenis yang terdapat di Pulau Jawa. Beberapa jenis di antaranya burung langka yaitu elang Jawa (Spizaetus bartelsi) dan burung hantu (Otus angelinae).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango ditetapkan oleh UNESCO sebagai Cagar Biosfir pada tahun 1977, dan sebagai Sister Park dengan Taman Negara di Malaysia pada tahun 1995.&lt;br /&gt;2. Objek Pariwisata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gudung Gede maupun kawasan Taman Nasional Gede Pangrango juga merupakan objek wisata alam yang menarik dan banyak dikunjungi oleh wisatawan baik domestik maupun internasional.&lt;br /&gt;2. 1. Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Telaga Biru. Danau kecil berukuran lima hektar (1.575 meter dpl.) terletak 1,5 km dari pintu masuk Cibodas. Danau ini selalu tampak biru diterpa sinar matahari, karena ditutupi oleh ganggang biru.&lt;br /&gt;    * Air terjun Cibeureum. Air terjun yang mempunyai ketinggian sekitar 50 meter terletak sekitar 2,8 km dari Cibodas. Di sekitar air terjun tersebut dapat melihat sejenis lumut merah yang endemik di Jawa Barat.&lt;br /&gt;    * Air Panas. Terletak sekitar 5,3 km atau 2 jam perjalanan dari Cibodas.&lt;br /&gt;    * Kandang Batu dan Kandang Badak. Untuk kegiatan berkemah dan pengamatan tumbuhan/satwa. Berada pada ketinggian 2.220 m. dpl dengan jarak 7,8 km atau 3,5 jam perjalanan dari Cibodas.&lt;br /&gt;    * Puncak dan Kawah Gunung Gede. Panorama berupa pemandangan matahari terbenam/terbit, hamparan kota Cianjur-Sukabumi-Bogor terlihat dengan jelas, atraksi geologi yang menarik dan pengamatan tumbuhan khas sekitar kawah. Di puncak ini terdapat tiga kawah yang masih aktif dalam satu kompleks yaitu kawah Lanang, Ratu dan Wadon. Berada pada ketinggian 2.958 m. dpl dengan jarak 9,7 km atau 5 jam perjalanan dari Cibodas.&lt;br /&gt;    * Alun-alun Suryakencana. Dataran seluas 50 hektar yang ditutupi hamparan bunga edelweiss. Berada pada ketinggian 2.750 m. dpl dengan jarak 11,8 km atau 6 jam perjalanan dari Cibodas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Legenda Rakyat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah dan legenda yang merupakan kepercayaan masyarakat setempat yaitu tentang keberadaan Eyang Suryakencana dan Prabu Siliwangi di Gunung Gede. Masyarakat percaya bahwa roh Eyang Suryakencana dan Prabu Siliwangi akan tetap menjaga Gunung Gede agar tidak meletus. Pada saat tertentu, banyak orang yang masuk ke goa-goa sekitar Gunung Gede untuk semedhi / bertapa maupun melakukan upacara religius.&lt;br /&gt;4. Rute Pencapaian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencapai lokasi Taman Nasional Gede Pangrango bisa ditempuh melalui rute Jakarta-Bogor-Cibodas dengan waktu sekitar 2,5 jam (± 100 km) menggunakan mobil, atau Bandung-Cipanas-Cibodas dengan waktu 2 jam (± 89 km), dan Bogor-Salabintana dengan waktu 2 jam (52 km).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2004672938421045134-1835785980411969992?l=satoesyndicate.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/feeds/1835785980411969992/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2004672938421045134&amp;postID=1835785980411969992' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/1835785980411969992'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/1835785980411969992'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/2009/05/gunung-gede.html' title='Gunung Gede'/><author><name>satoe syndicate</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08856438899076171009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2004672938421045134.post-8434397727387556829</id><published>2009-05-14T10:18:00.001-07:00</published><updated>2009-05-14T10:18:23.932-07:00</updated><title type='text'>Gunung Galunggung</title><content type='html'>Gunung Galunggung merupakan gunung berapi dengan ketinggian 2.167 meter di atas permukaan laut, terletak sekitar 17 km dari pusat kota Tasikmalaya. Terdapat beberapa daya tarik wisata yang ditawarkan antara lain obyek wisata dan daya tarik wanawisata dengan areal seluas kurang lebih 120 hektar di bawah pengelolaan Perum Perhutani. Obyek yang lainnya seluas kurang lebih 3 hektar berupa pemandian air panas (Cipanas) lengkap dengan fasilitas kolam renang, kamar mandi dan bak rendam air panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Galunggung mempunyai Hutan Montane 1.200 - 1.500 meter dan Hutan Ericaceous &gt; 1.500 meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar isi:&lt;br /&gt;1. Letusan Gunung Galunggung&lt;br /&gt;2. Gunung Galunggung sebagai obyek wisata&lt;br /&gt;3. Lihat pula&lt;br /&gt;4. Pranala luar&lt;br /&gt;Galunggung&lt;br /&gt;Lokasi Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat&lt;br /&gt;Kota terdekat Tasikmalaya&lt;br /&gt;Negara Indonesia&lt;br /&gt;Tipe Stratovolcano&lt;br /&gt;Letusan terakhir 1984&lt;br /&gt;Ketinggian 2.168 m&lt;br /&gt;Koordinat 7.25°LS-7°15'0"LS; 108.058°BT-108°3'30"BT&lt;br /&gt;1. Letusan Gunung Galunggung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Galunggung tercatat pernah meletus pada tahun 1882 (VEI=5). Tanda-tanda awal letusan diketahui pada bulan Juli 1822, di mana air Cikunir menjadi keruh dan berlumpur. Hasil pemeriksaan kawah menunjukkan bahwa air keruh tersebut panas dan kadang muncul kolom asap dari dalam kawah. Kemudian pada tanggal 8 Oktober s.d. 12 Oktober, letusan menghasilkan hujan pasir kemerahan yang sangat panas, abu halus, awan panas, serta lahar. Aliran lahar bergerak ke arah tenggara mengikuti aliran-aliran sungai. Letusan ini menewaskan 4.011 jiwa dan menghancurkan 114 desa, dengan kerusakan lahan ke arah timur dan selatan sejauh 40 km dari puncak gunung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Letusan berikutnya terjadi pada tahun 1894. Di antara tanggal 7-9 Oktober, terjadi letusan yang menghasilkan awan panas. Lalu tanggal 27 dan 30 Oktober, terjadi lahar yang mengalir pada alur sungai yang sama dengan lahar yang dihasilkan pada letusan 1822. Letusan kali ini menghancurkan 50 desa, sebagian rumah ambruk karena tertimpa hujan abu.&lt;br /&gt;Letusan Galunggung 1982, disertai petir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1918, di awal bulan Juli, letusan berikutnya terjadi, diawali gempa bumi. Letusan tanggal 6 Juli ini menghasilkan hujan abu setebal 2-5mm yang terbatas di dalam kawah dan lereng selatan. Dan pada tanggal 9 Juli, tercatat pemunculan kubah lava di dalam danau kawah setinggi 85m dengan ukuran 560x440m yang kemudian dinamakan gunung Jadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Letusan terakhir terjadi pada tanggal 5 Mei 1982 (VEI=4) disertai suara dentuman, pijaran api, dan kilatan halilintar. Kegiatan letusan berlangsung selama 9 bulan dan berakhir pada 8 Januari 1983. Selama periode letusan ini, sekitar 18 orang meninggal, sebagian besar karena sebab tidak langsung (kecelakaan lalu lintas, usia tua, kedinginan dan kekurangan pangan). Perkiraan kerugian sekitar Rp 1 milyar dan 22 desa ditinggal tanpa penghuni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Letusan pada periode ini juga telah menyebabkan berubahnya peta wilayah pada radius sekitar 20 km dari kawah Galunggung, yaitu mencakup Kecamatan Indihiang, Kecamatan Sukaratu dan Kecamatan Leuwisari. Perubahan peta wilayah tersebut lebih banyak disebabkan oleh terputusnya jaringan jalan dan aliran sungai serta areal perkampungan akibat melimpahnya aliran lava dingin berupa material batuan-kerikil-pasir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada periode pasca letusan (yaitu sekitar tahun 1984-1990) merupakan masa rehabilitasi kawasan bencana, yaitu dengan menata kembali jaringan jalan yang terputus, pengerukan lumpur/pasir pada beberapa aliran sungai dan saluran irigasi (khususnya Cikunten I), kemudian dibangunnya check dam (kantong lahar dingin) di daerah Sinagar sebagai 'benteng' pengaman melimpahnya banjir lahar dingin ke kawasan Kota Tasikmalaya. Pada masa tersebut juga dilakukan eksploitasi pemanfaatan pasir galunggung yang dianggap berkualitas untuk bahan material bangunan maupun konstruksi jalan raya. Pada tahun-tahun kemudian hingga saat ini usaha pengerukan pasir galunggung tersebut semakin berkembang, bahkan pada awal perkembangannya (sekitar 1984-1985) dibangun jaringan jalan Kereta Api dari dekat Station KA Indihiang (Kp. Cibungkul-Parakanhonje) ke check dam sinagar sebagai jalur khusus untuk mengangkut pasir dari galungung ke Jakarta.&lt;br /&gt;2. Gunung Galunggung sebagai obyek wisata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan pengunjung obyek wisata Galunggung adalah wisatawan lokal, sementara wisatawan dari mancanegara masih di bawah hitungan 100 orang rata-rata per tahun. Rata-rata wisatawan dalam maupun luar negeri yang berkunjung ke Gunung Galunggung berjumlah 213.382 orang per tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat potensi daya tarik yang mungkin digali, serta posisi geografis yang cukup strategis, serta memiliki kekhasan dari kondisi alamnya obyek wisata Gunung Galunggung cukup potensial untuk dijual kepada wisatawan mancanegara. Namun obyek wisata tersebut belum dikemas dalam paket wisata yang profesional.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2004672938421045134-8434397727387556829?l=satoesyndicate.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/feeds/8434397727387556829/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2004672938421045134&amp;postID=8434397727387556829' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/8434397727387556829'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/8434397727387556829'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/2009/05/gunung-galunggung.html' title='Gunung Galunggung'/><author><name>satoe syndicate</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08856438899076171009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2004672938421045134.post-1716663778156609884</id><published>2009-05-14T10:17:00.001-07:00</published><updated>2009-05-14T10:17:35.743-07:00</updated><title type='text'>Gunung Dempo</title><content type='html'>Gunung Dempo (3159 mdpl) terletak di perbatasan propinsi Sumatera Selatan dan propinsi Bengkulu. Untuk mencapai desa terdekat, terlebih dahulu anda harus mencapai kota Pagar Alam, kurang lebih 7 jam perjalanan darat dari Palembang. Dari ibukota Sumatera Selatan ini tersedia banyak bus ke arah Pagar Alam. Atau apabila anda dari Jakarta, sebelumnya dapat menumpang bus jurusan Bengkulu atau Padang, dan turun di Lahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Pagar Alam, memang sesuai dengan namanya, kota ini jelas dikelilingi oleh pegunungan Bukit Barisan dan yang tertinggi dari barisan tersebut adalah Gunung Dempo. Gunung ini sangat indah menjulang tegak menggapai langit nan biru apabila dilihat pada pagi hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu sangat tepat bila bermalam dulu di kota ini, disini banyak tersedia losmen atau motel, berkisar Rp. 20.000 semalam. Budaya kota yang sudah berbaur dari berbagai suku baik pendatang maupun asli menciptakan kedamaian yang anda tidak peroleh di kota-kota besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari terminal Pagar Alam, terlebih dulu mencarter mobil/taksi untuk jurusan Pabrik Teh PTPN III yang jaraknya mencapai 15 km dari terminal. Di pabrik ini ada baiknya anda berkenalan dengan seseorang yang biasa dipanggil pak Anton, beliau termasuk yang dituakan oleh para pencinta alam seantero Sumsel-Lampung. Dengan meminta bantuannya, mobil carteran akan membawa anda ke desa terdekat dari kaki gunung Dempo, yang dapat memakan waktu lebih dari 20 menit, karena jalannya cukup terjal, berkelok dengan melewati hamparan kebun teh nan hijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalur menuju ke puncak gunung inipun sudah sangat jelas dan bahkan di hari-hari biasa pun banyak orang desa yang sengaja naik ke puncak baik itu untuk mencari kayu ataupun sekedar berhiking.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski gunung ini cukup tinggi, tetapi air jernih yang ada terdapat sampai setengah perjalanan ke gunung ini sehingga para pendaki tidak perlu khawatir kehabisan air minum selama perjalanan. Sebuah sungai kecil yang jernih, mengalir di perbatasan hutan pertanda kita mulai memasuki daerah hutan yang ditumbuhi dengan tumbuhan yang mirip seperti yang kita dapati di gunung Gede-Pangrango, yaitu hutan montana. Jalan setapak penuh dengan akar-akar yang melintang, kemiringan lereng sendiri cukup curam untuk memeras keringat. Tidak ada tanda-tanda khusus, keadaan hutan ini hampir homogen dan sangat hening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat atau lima jam kemudian, kita akan memasuki daerah dengan vegetasi tumbuhan berpohon rendah dan semakin rendah, beberapa daerah agak terbuka, pandangan pun menjadi luas. Gunung Dempo memiliki dua puncak yang satunya bernama Puncak Api. Menjelang puncak pertama Dempo yang merupakan dataran masif, Puncak pertama ditumbuhi tanaman yang rendah mirip perdu. Dari puncak pertama ini kita turun kembali ke lembah yang diapit oleh puncak pertama dan puncak utama. Dilembah ini terdapat sebuah sumber mata air mengalir di sini. Hanya airnya yang jernih ini sedikit kecut rasanya, mungkin pengaruh rembesan belerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendakian kepuncak utama tidak terlalu sulit. Lerengnya terdiri dari kerikil dan batu-batu dengan kemitingan lereng sekitar 40°, cukup stabil untuk didaki. Puncak utama gunung Dempo (3158 m), Merupakan kawah gunung berapi yang masih bergejolak dengan diameter sekitar seratus meter persegi. Dinding kawah cukup terjal dan tidak mungkin bisa dituruni tanpa batuan tali temali. Pemandangan dari puncak cukup mengasyikan. Selain kawah yang memberikan kesan khusus, tampak juga terhamparan propinsi Bengkulu dengan Lautan Hindia dengan hamparan lembah yang sunyi dan hening. Perjalanan turun hanya memakan waktu dua jam. Bila kemalaman anda bisa menginap di Dusuun VI, dengan terlebih dahulu minta izin kepala keamanan di sana.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2004672938421045134-1716663778156609884?l=satoesyndicate.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/feeds/1716663778156609884/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2004672938421045134&amp;postID=1716663778156609884' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/1716663778156609884'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/1716663778156609884'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/2009/05/gunung-dempo.html' title='Gunung Dempo'/><author><name>satoe syndicate</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08856438899076171009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2004672938421045134.post-9170295417399998208</id><published>2009-05-14T10:16:00.000-07:00</published><updated>2009-05-14T10:17:00.916-07:00</updated><title type='text'>Gunung Ciremai</title><content type='html'>Gunung Ceremai (seringkali secara salah kaprah dinamakan "Ciremai") secara administratif termasuk dalam wilayah tiga kabupaten, yakni Kabupaten Cirebon, Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat. Posisi geografis puncaknya terletak pada 6° 53' 30" LS dan 108° 24' 00" BT, dengan ketinggian 3.078 m di atas permukaan laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung ini memiliki kawah ganda. Kawah barat yang beradius 400 m terpotong oleh kawah timur yang beradius 600 m. Pada ketinggian sekitar 2.900 m dpl di lereng selatan terdapat bekas titik letusan yang dinamakan Gowa Walet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini G. Ceremai termasuk ke dalam kawasan Taman Nasional Gunung Ceremai (TNGC), yang memiliki luas total sekitar 15.000 hektare.&lt;br /&gt;Gunung Ceremai dari arah Cigugur, Kuningan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama gunung ini berasal dari kata cereme (Phyllanthus acidus, sejenis tumbuhan perdu berbuah kecil dengan rada masam), namun seringkali disebut Ciremai, suatu gejala hiperkorek akibat banyaknya nama tempat di wilayah Pasundan yang menggunakan awalan 'ci-' untuk penamaan tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar isi:&lt;br /&gt;1. Vulkanologi dan geologi&lt;br /&gt;2. Jalur pendakian&lt;br /&gt;3. Keanekaragaman hayati&lt;br /&gt;1. Vulkanologi dan geologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Ceremai termasuk gunungapi Kuarter aktif, tipe A (yakni, gunungapi magmatik yang masih aktif semenjak tahun 1600), dan berbentuk strato. Gunung ini merupakan gunungapi soliter, yang dipisahkan oleh Zona Sesar Cilacap - Kuningan dari kelompok gunungapi Jawa Barat bagian timur (yakni deretan Gunung Galunggung, Gunung Guntur, Gunung Papandayan, Gunung Patuha hingga Gunung Tangkuban Perahu) yang terletak pada Zona Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceremai merupakan gunungapi generasi ketiga. Generasi pertama ialah suatu gunungapi Plistosen yang terletak di sebelah G. Ceremai, sebagai lanjutan vulkanisma Plio-Plistosen di atas batuan Tersier. Vulkanisma generasi kedua adalah Gunung Gegerhalang, yang sebelum runtuh membentuk Kaldera Gegerhalang. Dan vulkanisma generasi ketiga pada kala Holosen berupa G. Ceremai yang tumbuh di sisi utara Kaldera Gegerhalang, yang diperkirakan terjadi pada sekitar 7.000 tahun yang lalu (Situmorang 1991).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Letusan G. Ceremai tercatat sejak 1698 dan terakhir kali terjadi tahun 1937 dengan selang waktu istirahat terpendek 3 tahun dan terpanjang 112 tahun. Tiga letusan 1772, 1775 dan 1805 terjadi di kawah pusat tetapi tidak menimbulkan kerusakan yang berarti. Letusan uap belerang serta tembusan fumarola baru di dinding kawah pusat terjadi tahun 1917 dan 1924. Pada 24 Juni 1937 - 7 Januari 1938 terjadi letusan freatik di kawah pusat dan celah radial. Sebaran abu mencapai daerah seluas 52,500 km bujursangkar (Kusumadinata, 1971). Pada tahun 1947, 1955 dan 1973 terjadi gempa tektonik yang melanda daerah baratdaya G. Ciremai, yang diduga berkaitan dengan struktur sesar berarah tenggara - barat laut. Kejadian gempa yang merusak sejumlah bangunan di daerah Maja dan Talaga sebelah barat G. Ceremai terjadi tahun 1990 dan tahun 2001. Getarannya terasa hingga Desa Cilimus di timur G. Ceremai.&lt;br /&gt;2. Jalur pendakian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncak gunung Ceremai dapat dicapai melalui banyak jalur pendakian. Akan tetapi yang populer dan mudah diakses adalah melalui Desa Palutungan dan Desa Linggarjati di Kab. Kuningan, dan Desa Apuy di Kab. Majalengka. Satu lagi jalur pendakian yang jarang digunakan ialah melalui Desa Padabeunghar di perbatasan Kuningan dengan Majalengka di utara. Di kota Kuningan terdapat kelompok pecinta alam "Akar (Aktivitas Anak Rimba)" yang dapat membantu menyediakan berbagai informasi dan pemanduan mengenai pendakian Gunung Ceremai.&lt;br /&gt;3. Keanekaragaman hayati&lt;br /&gt;3. 1. Vegetasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hutan-hutan yang masih alami di Gunung Ceremai tinggal lagi di bagian atas. Di sebelah bawah, terutama di wilayah yang pada masa lalu dikelola sebagai kawasan hutan produksi Perum Perhutani, hutan-hutan ini telah diubah menjadi hutan pinus (Pinus merkusii), atau semak belukar, yang terbentuk akibat kebakaran berulang-ulang dan penggembalaan. Kini, sebagian besar hutan-hutan di bawah ketinggian … m dpl. dikelola dalam bentuk wanatani (agroforest) oleh masyarakat setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana lazimnya di pegunungan di Jawa, semakin seseorang mendaki ke atas di Gunung Ciremai ini dijumpai berturut-turut tipe-tipe hutan pegunungan bawah (submontane forest), hutan pegunungan atas (montane forest) dan hutan subalpin (subalpine forest), dan kemudian wilayah-wilayah terbuka tak berpohon di sekitar puncak dan kawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh, berdasarkan keadaan iklim mikronya, LIPI (2001) membedakan lingkungan Ciremai atas dataran tinggi basah dan dataran tinggi kering. Sebagai contoh, hutan di wilayah Resort Cigugur (jalur Palutungan, bagian selatan gunung) termasuk beriklim mikro basah, dan di Resort Setianegara (sebelah utara jalur Linggarjati) beriklim mikro kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, jalur-jalur pendakian Palutungan (di bagian selatan Gunung Ciremai), Apuy (barat), dan Linggarjati (timur) berturut-turut dari bawah ke atas akan melalui lahan-lahan pemukiman, ladang dan kebun milik penduduk, hutan tanaman pinus bercampur dengan ladang garapan dalam wilayah hutan (tumpangsari), dan terakhir hutan hujan pegunungan. Sedangkan di jalur Padabeunghar (utara) vegetasi itu ditambah dengan semak belukar yang berasosiasi dengan padang ilalang. Pada keempat jalur pendakian, hutan hujan pegunungannya dapat dibedakan lagi atas tiga tipe yaitu hutan pegunungan bawah, hutan pegunungan atas dan vegetasi subalpin di sekitar kawah. Kecuali vegetasi subalpin yang diduga telah terganggu oleh kebakaran, hutan-hutan hujan pegunungan ini kondisinya masih relatif utuh, hijau dan menampakkan stratifikasi tajuk yang cukup jelas.&lt;br /&gt;3. 2. Margasatwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keanekaragaman satwa di Ceremai cukup tinggi. Penelitian kelompok pecinta alam Lawalata IPB di bulan April 2005 mendapatkan 12 spesies amfibia (kodok dan katak), berbagai jenis reptil seperti bunglon, cecak, kadal dan ular, lebih dari 95 spesies burung, dan lebih dari 20 spesies mamalia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa jenis satwa itu, di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;          o Bangkong bertanduk (Megophrys montana)&lt;br /&gt;          o Percil Jawa (Microhyla achatina)&lt;br /&gt;          o Kongkang Jangkrik (Rana nicobariensis)&lt;br /&gt;          o Kongkang kolam (Rana chalconota)&lt;br /&gt;          o Katak-pohon Emas (Philautus aurifasciatus)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;          o Bunglon Hutan (Gonocephalus chamaeleontinus)&lt;br /&gt;          o Cecak Batu (Cyrtodactylus sp.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;          o Elang Hitam (Ictinaetus malayensis)&lt;br /&gt;          o Elang Brontok (Spizaetus cirrhatus)&lt;br /&gt;          o Elang Jawa (Spizaetus bartelsi)&lt;br /&gt;          o Puyuh-gonggong Jawa (Arborophila javanica)&lt;br /&gt;          o Walet Gunung (Collocalia vulcanorum) [masih perlu dikonfirmasi]&lt;br /&gt;          o Takur Bultok (Megalaima lineata)&lt;br /&gt;          o Takur Tulung-tumpuk (Megalaima javensis)&lt;br /&gt;          o Berencet Kerdil (Pnoepyga pusilla)&lt;br /&gt;          o Anis Gunung (Turdus poliochepalus)&lt;br /&gt;          o Tesia Jawa (Tesia superciliaris)&lt;br /&gt;          o Ceret Gunung (Cettia vulcania)&lt;br /&gt;          o Kipasan Ekor-merah (Rhipidura phoenicura)&lt;br /&gt;          o Burung-madu Gunung (Aethopyga eximia)&lt;br /&gt;          o Burung-madu Jawa (Aethopyga mystacalis)&lt;br /&gt;          o Kacamata Gunung (Zosterops montanus)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;          o Tenggiling (Manis javanica)&lt;br /&gt;          o Tupai kekes (Tupaia javanica)&lt;br /&gt;          o Kukang (Nycticebus coucang)&lt;br /&gt;          o Lutung Surili (Presbytis comata)&lt;br /&gt;          o Lutung Budeng (Trachypithecus auratus)&lt;br /&gt;          o Ajag (Cuon alpinus)&lt;br /&gt;          o Teledu Sigung (Mydaus javanensis)&lt;br /&gt;          o Kucing Hutan (Prionailurus bengalensis)&lt;br /&gt;          o Macan Tutul (Panthera pardus)&lt;br /&gt;          o Kancil (Tragulus javanicus)&lt;br /&gt;          o Kijang (Muntiacus muntjak)&lt;br /&gt;          o Jelarang Hitam (Ratufa bicolor)&lt;br /&gt;          o Landak Jawa (Hystrix javanica)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2004672938421045134-9170295417399998208?l=satoesyndicate.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/feeds/9170295417399998208/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2004672938421045134&amp;postID=9170295417399998208' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/9170295417399998208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/9170295417399998208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/2009/05/gunung-ciremai.html' title='Gunung Ciremai'/><author><name>satoe syndicate</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08856438899076171009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2004672938421045134.post-2214545494367959763</id><published>2009-05-14T10:15:00.000-07:00</published><updated>2009-05-14T10:16:02.202-07:00</updated><title type='text'>Gunung Cikurai</title><content type='html'>Gunung Cikurai adalah sebuah gunung yang terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat, Indonesia. Gunung Cikurai mempunyai ketinggian sebesar 2.818 meter di atas permukaan laut dan merupakan gunung tertinggi keempat di Jawa Barat setelah Gunung Gede. Gunung ini berada di perbatasan kecamatan Bayongbong, Cikajang, dan Dayeuh Manggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencapai Cikuray dapat ditempuh dengan naik kendaraan umum dari Bandung atau dari Tasikmalaya menuju terminal Guntur. Dari sana diteruskan dengan angkutan kota menuju jalur pendakian, (Cikajang, Bayongbong atau Dayeuh Manggung). Ketiga jalur tersebut menawarkan medan yang sangat menarik dengan karakteristik masing-masing. Jalur bayongbong adalah jalur yang paling terjal, tetapi dapat cepat sampai di puncak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda bukan warga Jabar, mendaki Cikurai mesti satu paket dengan Gunung Guntur dan Gunung Papandayan. Keduanya menawarkan medan pendakian yang menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena letaknya paling tinggi di kabupaten Garut, kaki gunung Cikuray dipakai untuk stasiun pemancar TV swasta dan TVRI. Gunung Cikurai mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, Hutan Montane dan Hutan Ericaceous.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2004672938421045134-2214545494367959763?l=satoesyndicate.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/feeds/2214545494367959763/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2004672938421045134&amp;postID=2214545494367959763' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/2214545494367959763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/2214545494367959763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/2009/05/gunung-cikurai.html' title='Gunung Cikurai'/><author><name>satoe syndicate</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08856438899076171009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2004672938421045134.post-6761209020697358394</id><published>2009-05-14T10:14:00.002-07:00</published><updated>2009-05-14T10:15:03.512-07:00</updated><title type='text'>Gunung Bromo</title><content type='html'>Gunung Bromo (dari bahasa Sansekerta/Jawa Kuna: Brahma, salah seorang Dewa Utama Hindu), merupakan gunung berapi yang masih aktif dan paling terkenal sebagai obyek wisata di Jawa Timur. Sebagai sebuah obyek wisata, Gunung Bromo menjadi menarik karena statusnya sebagai gunung berapi yang masih aktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bromo mempunyai ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut itu berada dalam empat wilayah, yakni Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Kabupaten Malang. Bentuk tubuh Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Bromo mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo.&lt;br /&gt;Gambar Gunung Bromo dari NASA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar isi:&lt;br /&gt;1. Sejarah letusan&lt;br /&gt;2. Bromo sebagai gunung suci&lt;br /&gt;3. Lihat pula&lt;br /&gt;1. Sejarah letusan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama abad ke-20, gunung yang terkenal sebagai tempat wisata itu meletus sebanyak tiga kali, dengan interval waktu yang teratur, yaitu 30 tahun. Letusan terbesar terjadi 1974, sedangkan letusan terakhir terjadi pada 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah letusan Bromo: 2004, 2001, 1995, 1984, 1983, 1980, 1972, 1956, 1955, 1950, 1948, 1040, 1939, 1935, 1930, 1929, 1928, 1922, 1921, 1915, 1916, 1910, 1909, 1907, 1908, 1907, 1906, 1907, 1896, 1893, 1890, 1888, 1886, 1887, 1886, 1885, 1886, 1885, 1877, 1867, 1868, 1866, 1865, 1865, 1860, 1859, 1858, 1858, 1857, 1856, 1844, 1843, 1843, 1835, 1830, 1830, 1829, 1825, 1822, 1823, 1820, 1815, 1804, 1775, dan 1767.&lt;br /&gt;2. Bromo sebagai gunung suci&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi penduduk Bromo, suku Tengger, Gunung Brahma (Bromo) dipercaya sebagai gunung suci. Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2004672938421045134-6761209020697358394?l=satoesyndicate.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/feeds/6761209020697358394/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2004672938421045134&amp;postID=6761209020697358394' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/6761209020697358394'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/6761209020697358394'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/2009/05/gunung-bromo.html' title='Gunung Bromo'/><author><name>satoe syndicate</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08856438899076171009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2004672938421045134.post-8470530498973548724</id><published>2009-05-14T10:14:00.001-07:00</published><updated>2009-05-14T10:14:17.037-07:00</updated><title type='text'>Gunung Bawakaraeng</title><content type='html'>Gunung Bawakaraeng berada di wilayah Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Di lereng gunung ini terdapat wilayah ketinggian, Malino, tempat wisata terkenal di Sulawesi Selatan. Secara ekologis gunung ini memiliki posisi penting karena menjadi sumber penyimpan air untuk Kabupaten Gowa, Kota Makassar, Kabupaten Bantaeng, Kabupaten Bulukumba dan Kabupaten Sinjai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar isi:&lt;br /&gt;1. Mitos&lt;br /&gt;2. Tragedi longsor&lt;br /&gt;3. Lihat pula&lt;br /&gt;1. Mitos&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bawakaraeng bagi masyarakat sekitar memiliki arti sendiri. Bawa artinya Mulut, Karaeng artinya Tuhan. Jadi Gunung Bawakaraeng diartikan sebagai Gunung Mulut Tuhan.Penganut sinkretisme di wilayah sekitar gunung ini meyakini Gunung Bawakaraeng sebagai tempat pertemuan para wali. Para penganut keyakinan ini juga menjalankan ibadah haji di puncak Gunung Bawakaraeng setiap musim haji atau bulan Zulhijjah, bersamaan dengan pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci. Tepat tanggal 10 Zulhijjah, mereka melakukan salat Idul Adha di puncak Gunung Bawakaraeng atau di puncak Gunung Lompobattang.&lt;br /&gt;2. Tragedi longsor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 26 Mei 2004, terjadi tragedi longsor di kaki Gunung Bawakaraeng, tepatnya di Kecamatan Tinggimoncong. Musibah longsor ini menewaskan 30 warga dan menimbum ribuan areal sawah dan perkebunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eks wilayah longsor tersebut mengakibatkan daerah aliran sungai (DAS) menjadi labil. Setiap musim hujan, lumpur di kaki Gunung Bawakaraeng mengalir masuk ke Bendungan Bilibili, bedungan terbesar di Sulawesi Selatan yang ada di Kabupaten Gowa, yang menjadi sumber air baku di Gowa dan Makassar. Lumpur juga mengalir masuk ke Sungai Jeneberang, sungai terbesar di Gowa yang membelah Sungguminasa ibukota Kabupaten Gowa serta membendung Kota Makassar di wilayah selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung yang tingginya sekitar 2.705 meter dari permukaan laut ini juga menjadi arena pendakian. Namun, sudah banyak menelan korban akibat mati kedinginan bila mendaki pada musim hujan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2004672938421045134-8470530498973548724?l=satoesyndicate.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/feeds/8470530498973548724/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2004672938421045134&amp;postID=8470530498973548724' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/8470530498973548724'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/8470530498973548724'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/2009/05/gunung-bawakaraeng.html' title='Gunung Bawakaraeng'/><author><name>satoe syndicate</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08856438899076171009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2004672938421045134.post-251734340012920283</id><published>2009-05-14T10:13:00.001-07:00</published><updated>2009-05-14T10:13:40.383-07:00</updated><title type='text'>Gunung Batur</title><content type='html'>Gunung Batur merupakan sebuah gunung berapi aktif di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, Indonesia. Terletak di barat laut Gunung Agung, gunung ini memiliki kaldera berukuran 13,8 x 10 km dan merupakan salah satu yang terbesar dan terindah di dunia (van Bemmelen, 1949). Pematang kaldera tingginya berkisar antara 1267 m - 2152 m (puncak G. Abang). Di dalam kaldera I terbentuk kaldera II yang berbentuk melingkar dengan garis tengah lebih kurang 7 km. Dasar kaldera II terletak antara 120 - 300 m lebih rendah dari Undak Kintamani (dasar Kaldera I). Di dalam kaldera tersebut terdapat danau yang berbentuk bulan sabit yang menempati bagian tenggara yang panjangnya sekitar 7,5 km, lebar maksimum 2,5 km, kelilingnya sekitar 22 km dan luasnya sekitar 16 km2 yang yang dinamakan Danau Batur. Kaldera Gunung Batur diperkirakan terbentuk akibat dua letusan besar, 29.300 dan 20.150 tahun yang lalu [1].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Batur terdiri dari tiga kerucut gunung api dengan masing-masing kawahnya, Batur I, Batur II dan Batur III.&lt;br /&gt;Gunung Batur.&lt;br /&gt;Gunung Batur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar isi:&lt;br /&gt;1. Letusan&lt;br /&gt;2. Objek wisata&lt;br /&gt;3. Galeri Gambar&lt;br /&gt;4. Lihat pula&lt;br /&gt;5. Referensi&lt;br /&gt;Batur&lt;br /&gt;Lokasi Kabupaten Bangli, Bali&lt;br /&gt;Kota terdekat -&lt;br /&gt;Negara Indonesia&lt;br /&gt;Tipe Strato di dalam kaldera&lt;br /&gt;Letusan terakhir 2000&lt;br /&gt;Ketinggian 1.717 m (5.633 kaki)&lt;br /&gt;Koordinat 8°14'5" LS 115°22'5" BT&lt;br /&gt;1. Letusan&lt;br /&gt;Gunung Agung di kiri; Gunung Batur dengan kalderanya terlihat di kanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Batur telah berkali-kali meletus. Kegiatan letusan G. Batur yang tercatat dalam sejarah dimulai sejak tahun 1804 dan letusan terakhir terjadi tahun 2000. Sejak tahun 1804 hingga 2005, Gunung Batur telah meletus sebanyak 26 kali[2] dan paling dahsyat terjadi tanggal 2 Agustus dan berakhir 21 September 1926. Letusan Gunung Batur itu membuat aliran lahar panas menimbun Desa Batur dan Pura Ulun Danu Batur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desa Batur yang baru, dibangun kembali di pinggir kaldera sebelah selatan Kintamani. Pura Ulun Danu dibangun kembali, hingga saat ini masih terkenal sebagai pura yang paling indah di Bali. Pura ini dipersembahkan untuk menghormati "Dewi Danu" yakni dewi penguasa air, seperti halnya pura yang terdapat di Danau Bratan juga dipersembahkan untuk memuja "Dewi Danu".&lt;br /&gt;2. Objek wisata&lt;br /&gt;Danau Batur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawasan Gunung Batur terkenal sebagai obyek wisata andalan Kabupaten Bangli. Konon menurut cerita dalam Lontar Susana Bali, Gunung Batur merupakan puncak dari Gunung Mahameru yang dipindahkan Batara Pasupati untuik dijadikan Sthana Betari Danuh (istana Dewi Danu). Pada waktu tertentu, seluruh umat Hindu dari berbagai daerah di Bali datang ke Batur menghaturkan Suwinih untuk mengusir bencana hama yang menimpa ladang mereka. Dengan menghantarkan suminih ini maka kawasan gunung Batur menjadi daerah yang subur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah yang dapat ditonjolkan sebagai obyek wisata adalah kawah, kaldera dan danau. Terdapat aliran air dalam tanah yang mengalirkan air Danau Batur, yang muncul menjadi mata air di beberapa tempat di Bali dan dianggap sebagai "Tirta Suci"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wisata budaya yang terdapat di kawasan Gunung Batur adalah Trunyan. Meskipun seluruh penduduk Trunyan beragama Hindu seperti umumnya masyarakat Bali, mereka menyatakan bahwa Hindu Trunyan merupakan Hindu asli warisan kerajaan Majapahit. Di sebelah utara Trunyan terdapat kuban, sebuah tempat makam desa, namun jenazah tidak dikuburkan atau dibakar, melainkan diletakkan di bawah pohon setelah dilakukan upacara kematian yang rumit. Tempat pemakamanan ini dipenuhi oleh tulang-tulang, dan bisa jadi kita menemukan mayat yang masih baru.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2004672938421045134-251734340012920283?l=satoesyndicate.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/feeds/251734340012920283/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2004672938421045134&amp;postID=251734340012920283' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/251734340012920283'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/251734340012920283'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/2009/05/gunung-batur.html' title='Gunung Batur'/><author><name>satoe syndicate</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08856438899076171009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2004672938421045134.post-9060985615687785424</id><published>2009-05-14T10:12:00.001-07:00</published><updated>2009-05-14T10:12:32.495-07:00</updated><title type='text'>Gunung Arjuno</title><content type='html'>Gunung Arjuno terletak di Malang, Jawa Timur, bertype Strato dengan ketinggian 3.339 m dpl dan berada di bawah Pengelolaan Tahura Raden Soeryo. Biasanya gunung ini dicapai dari tiga titik pendakian yang cukup dikenal yaitu dari Lawang, Tretes dan Batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Arjuno bersebelahan dengan Gunung Welirang. Puncak gunung Arjuno terletak pada satu punggungan yang sama dengan puncak gunung Welirang. Selain dari dua tempat diatas Gunung Arjuno dapat didaki dari berbagai arah yang lain. Gunung yang terletak di sebelah barat Batu, Malang - Jawa Timur ini juga merupakan salah satu tujuan pendakian. Disamping tingginya yang telah mencapai lebih dari 3000 meter, di gunung ini terdapat beberapa objek wisata. Salah satunya adalah objek wisata air terjun Kakek Bodo yang juga merupakan salah satu jalur pendakian menuju puncak Gunung Arjuna. Meskipun selain objek wisata air terjun Kakek Bodo terdapat pula air terjun lain, tetapi para wisatawan jarang yang mendatangi air terjun lainnya, mungkin karena letak dan sarana wisatanya kurang mendukung.&lt;br /&gt;Gunung Arjuno&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Arjuno mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.&lt;br /&gt;Hutan di lereng gunung Arjuna dengan latar belakang puncak Mahameru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Arjuno dapat didaki dan berbagai arah, arah Utara (Tretes) melalui Gunung Welirang,dan arah Timur (Lawang) dan dari arah Barat (Batu-Selecta), dan arah selatan (Karangploso), juga dari kecamatan Singosari melalui desa Sumberawan. Desa Sumberawan adalah desa pusat kerajinan tangan di kecamatan Singosari merupakan desa terakhir untuk mempersiapkan diri sebelum memulai pendakian.&lt;br /&gt;Lereng gunung Arjuna di wilayah Sumberawan, kecamatan Singosari, kabupaten Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2004672938421045134-9060985615687785424?l=satoesyndicate.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/feeds/9060985615687785424/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2004672938421045134&amp;postID=9060985615687785424' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/9060985615687785424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/9060985615687785424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/2009/05/gunung-arjuno.html' title='Gunung Arjuno'/><author><name>satoe syndicate</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08856438899076171009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2004672938421045134.post-2917204051262741025</id><published>2009-05-14T09:52:00.000-07:00</published><updated>2009-05-14T09:53:06.145-07:00</updated><title type='text'>Gunung Argopuro</title><content type='html'>Gunung Argapura merupakan sebuah gunung yang terdapat di pulau Jawa, Indonesia. Gunung Argapura mempunyai ketinggian setinggi 3.088 meter. Gunung ini sering juga disebut dengan Argopuro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Argapura merupakan bekas gunung berapi yang sudah tidak aktif lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung ini termasuk bagian dari pegunungan Iyang yang terletak di kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Berada pada posisi di antara Gunung Semeru dan Gunung Raung. Ada beberapa puncak yang dimiliki oleh gunung ini. Puncak yang terkenal bernama Puncak Rengganis/gunung Welirang(topografichen Dienst 1928). Sedangkan puncak tertingginya berada pada jarak ± 200 m di arah selatan puncak Rengganis. Puncak tertinggi ini bernama Argapoera dan ditandai dengan sebuah tugu ketinggian (triangulasi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Argapura mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2004672938421045134-2917204051262741025?l=satoesyndicate.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/feeds/2917204051262741025/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2004672938421045134&amp;postID=2917204051262741025' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/2917204051262741025'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/2917204051262741025'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/2009/05/gunung-argopuro.html' title='Gunung Argopuro'/><author><name>satoe syndicate</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08856438899076171009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2004672938421045134.post-2058456711530229475</id><published>2009-05-14T09:30:00.000-07:00</published><updated>2009-05-14T09:31:17.573-07:00</updated><title type='text'>Gunung Agung</title><content type='html'>Gunung Agung adalah gunung tertinggi di pulau Bali dengan ketinggian 3.142 mdpl. Gunung ini terletak di kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem - Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Agung adalah gunung berapi tipe stratovolcano, gunung ini memiliki kawah yang sangat besar dan sangat dalam yang terkadang mengeluarkan asap dan uap air. Dari Pura Besakih gunung ini nampak dengan kerucut runcing sempurna, tetapi sebenarnya puncak gunung ini memanjang dan berakhir pada kawah yang melingkar dan lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari puncak gunung Agung kita dapat melihat puncak Gunung Rinjani yang berada di pulau Lombok, meskipun kedua gunung tertutup awan karena kedua puncak gunung tersebut berada di atas awan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar isi:&lt;br /&gt;1. Kepercayaan masyarakat&lt;br /&gt;2. Jalur pendakian&lt;br /&gt;3. Lihat pula&lt;br /&gt;4. Pranala luar&lt;br /&gt;Gunung Agung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketinggian  3.031 meter (9.944 kaki)&lt;br /&gt;Garis Lintang  8° 342′ LS&lt;br /&gt;Garis Bujur  115° 508′ BT&lt;br /&gt;Lokasi  Bali, Indonesia&lt;br /&gt;Jenis  stratovolcano&lt;br /&gt;Letusan terakhir  1964&lt;br /&gt;1. Kepercayaan masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Hindu Bali percaya bahwa Gunung Agung adalah tempat bersemayamnya dewa-dewa, dan juga masyarakat mempercayai bahwa digunung ini terdapat istana dewata. Oleh karena itu, masyarakat bali menjadikan tempat ini sebagai tempat kramat yang disucikan.&lt;br /&gt;2. Jalur pendakian&lt;br /&gt;Gunung Api (kiri) adalah titik tertinggi di Bali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendakian menuju puncak gunung ini dapat dimulai dari tiga jalur pendakian yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Dari selatan adalah dari selat lewat sangkan kuasa.&lt;br /&gt;    * Dari tenggara ialah dari Budakeling lewat nangka&lt;br /&gt;    * Dari barat daya yang merupakan jalur pendakian yang umum digunakan oleh para pendaki yaitu dari Pura Besakih.&lt;br /&gt;    * Disarankan bagi para pendaki untuk tidak membawa makanan berbahan sapi, karena areal gunung ini sangat disucikan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2004672938421045134-2058456711530229475?l=satoesyndicate.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/feeds/2058456711530229475/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2004672938421045134&amp;postID=2058456711530229475' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/2058456711530229475'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/2058456711530229475'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/2009/05/gunung-agung.html' title='Gunung Agung'/><author><name>satoe syndicate</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08856438899076171009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2004672938421045134.post-7698116970078151189</id><published>2009-05-14T08:44:00.000-07:00</published><updated>2009-05-14T08:55:27.800-07:00</updated><title type='text'>MANAJEMEN PERJALANAN</title><content type='html'>Ketika anda memutuskan untuk melakukan perjalanan dalam suatu kegiatan, tentu anda seharusnya mempersiapkan segala sesuatunya secara matang, baik personil, logistik, perlengkapan maupun pengetahuan medan .Ketika anda merencanakan untuk kegiatan keluar, tentu anda juga akan menyiapkan tim yang ideal dan solid menurut anda, dan anda tahu betul kemampuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbekalan dan peralatan yang cukup juga situasi medan dan route yang akan anda lalui, kemudian anda siap untuk melakukan perjalanan. Bahaya tentu saja akan selalu ada baik itu dari anda dan tim anda yang menyangkut kesiapan perlengkapan dan peralatan tim maupun pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki tim dalam melakukan perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahaya dari luar akan selalu ada, tergantung kesiapan tim dan kesolidan tim dalam menghadapinya. Mental akan sangat berpengaruh dalam perjalanan anda. Sejauh mana kemampuan leader dalam memimpin tim dan raspect tim terhadap leader dengan segala keputusannya. Bagaimana sesama anggota tim saling mendukung dan membantu satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Crash akan sangat mudah terjadi dalam perjalanan, mengingat kondisi tim yang lelah akibat perjalanan, yang akan sangat mempengaruhi emosi. Masalah kecil akan menjadi besar jika tidak diselesaikan secara bijaksana. Seperti halnya ketika dalam perjalanan menuju puncak, dan anda menemui persimpangan jalan dimana anggota tim masing-masing memiliki pendapat yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini peran leader sangat menentukan, bukan untuk membetulkan salah satu pihak dan menyalahkan pihak lainnya, tetapi bagaimana sang leader dapat menentukan pilihan yang tepat dengan alasan yang dapat diterima oleh seluruh anggota tim. Yang namanya tim, anda berangkat 5 orang maka yang 5 orang pula yang mencapai target anda, dan 5 orang pula yang kembali, idealnya. Bukannya karena ada anggota tim yang tidak sependapat maka ia ditinggalkan ataupun ia memutuskan untuk turun kembali, kecuali ada yang sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncak tidak selalu menjadi target, Prestise tidak selalu menjadi nomor satu tetapi kekompakan dan keakraban yang utama. Bagaimana anggota tim saling berbagi beban, ataupun ketika ada anggota tim ada yang tidak menyukai salah satu jenis makanan. Anda tidak akan mendapat apa-apa ketika masing-masing anggota tim punya tujuan yang berbeda dan rasa yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan anda akan menjadi hambar tampa arti. Siapkan tim anda satukan beban, asa dan rasa dengan semangat dan mental yang padu menempuh hujan dan badai sejauh tim anda berjalan, itulah puncak dari tim anda. Lanjutkan perjalanan yang masih panjang …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERSIAPAN&lt;br /&gt;Untuk merencanakan suatu kegiatan ke alam bebas harus ada persiapan dan penyusunan secara matang. ada rumusan yang umum digunakan yaitu 4W &amp; 1 H, yang kepanjangannya adalah Where, Who, Why, When dan How. Berikut ini aplikasi dari rumusan tersebut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Where (Dimana), untuk melakukan suatu Kegiatan alam kita harus mengetahui dimana yang akan kita digunakan, Contoh: Pendakian Gunung Ungaran, Susur Gua Kiskendo Kendal.&lt;br /&gt;   2. Who (Siapa), apakah anda akan melakukan Kegiatan alam tersebut sendiri atau dengan berkelompok. Contoh: Satu Kelompok ( 25 Personil) Terdiri dari 5 Orang panitia dan 20 Orang peserta.&lt;br /&gt;   3. Why (Mengapa), ini adalah pertanyaan yang cukup panjang dan bisa bermacam-macam jawaban. Contoh : Untuk melakukan DIKSAR dan Petualangan.&lt;br /&gt;   4. When (Kapan) waktu pelaksanaan Kegiatan tersebut, berapa lama?&lt;br /&gt;      Contoh: 10 November 2008 sampai dengan 20 Desember 2008&lt;br /&gt;   5. Untuk How/Bagaimana merupakan suatu pembahasan yang lebih komprehensif dari jawaban pertanyaan diatas ulasannya adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;      • Bagaimana kondisi Tempat&lt;br /&gt;      • Bagaimana cuaca disana&lt;br /&gt;      • Bagaimana perizinannya&lt;br /&gt;      • Bagaimana mendapatkan air&lt;br /&gt;      • Bagaimana pengaturan tugas panitia&lt;br /&gt;      • Bagaimana Acara DIKSAR berlangsung&lt;br /&gt;      • Bagaimana materi yang disampaikan&lt;br /&gt;      • Dan masih banyak Bagaimana ? (silahkan anda dapat mengembangkannya lagi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang timbul itulah kita dapat menyusun Rencana Kegiatan yang didalamnya mencakup rincian :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Pemilihan medan, dengan memperhitungkan lokasi basecamp panitia, pembagian waktu dan sebagainya.&lt;br /&gt;   2. Pengurusan perizinan (Kepolisian, Kepala Sekolah, Orang Tua, Kepala Desa Setempat)&lt;br /&gt;   3. Pembagian tugas panitia.&lt;br /&gt;   4. Penyusunan Rencana Kegiatan.&lt;br /&gt;   5. Perencanaan kebutuhan peralatan, perlengkapan dan Transportasi.&lt;br /&gt;   6. dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang tidak kalah pentingnya adalah anda akan mendapatkan point-point bagi kalkulasi biaya yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;( Sumber : Dari Berbagai Sumber )&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2004672938421045134-7698116970078151189?l=satoesyndicate.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/feeds/7698116970078151189/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2004672938421045134&amp;postID=7698116970078151189' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/7698116970078151189'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/7698116970078151189'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/2009/05/manajemen-perjalanan.html' title='MANAJEMEN PERJALANAN'/><author><name>satoe syndicate</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08856438899076171009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2004672938421045134.post-481370433649362548</id><published>2009-05-14T08:41:00.000-07:00</published><updated>2009-05-14T08:42:51.330-07:00</updated><title type='text'>PENGETAHUAN DASAR NAVIGASI DARAT</title><content type='html'>Navigasi darat adalah ilmu praktis. Kemampuan bernavigasi dapat terasah jika sering berlatih. Pemahaman teori dan konsep hanyalah faktor yang membantu, dan tidak menjamin jika mengetahui teorinya secara lengkap, maka kemampuan navigasinya menjadi tinggi. Bahkan seorang jago navigasi yang tidak pernah berlatih dalam jangka waktu lama, dapat mengurangi kepekaannya dalam menerjemahkan tanda-tanda di peta ke medan sebenarnya, atau menerjemahkan tanda-tanda medan ke dalam peta. Untuk itu, latihan sesering mungkin akan membantu kita untuk dapat mengasah kepekaan, dan pada akhirnya navigasi darat yang telah kita pelajari menjadi bermanfaat untuk kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada prinsipnya navigasi adalah cara menentukan arah dan posisi, yaitu arah yang akan dituju dan posisi keberadaan navigator berada dimedan sebenarnya yang di proyeksikan pada peta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa media dasar navigasi darat adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peta adalah penggambaran dua dimensi (pada bidang datar) dari sebagian atau keseluruhan permukaan bumi yang dilihat dari atas, kemudian diperbesar atau diperkecil dengan perbandingan tertentu. Dalam navigasi darat digunakan peta topografi. Peta ini memetakan tempat-tempat dipermukaan bumi yang berketinggian sama dari permukaan laut menjadi bentuk garis kontur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa unsur yang bisa dilihat dalam peta :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Judul peta; biasanya terdapat di atas, menunjukkan letak peta&lt;br /&gt;    * Nomor peta; selain sebagai nomor registrasi dari badan pembuat, kita bisa menggunakannya sebagai petunjuk jika kelak kita akan mencari sebuah peta&lt;br /&gt;    * Koordinat peta; penjelasannya dapat dilihat dalam sub berikutnya&lt;br /&gt;    * Kontur; adalah merupakan garis khayal yang menghubungkan titik titik yang berketinggian sama diatas permukaan laut.&lt;br /&gt;    * Skala peta; adalah perbandingan antara jarak peta dan jarak horizontal dilapangan. Ada dua macam skala yakni skala angka (ditunjukkan dalam angka, misalkan 1:25.000, satu senti dipeta sama dengan 25.000 cm atau 250 meter di keadaan yang sebenarnya), dan skala garis (biasanya di peta skala garis berada dibawah skala angka).&lt;br /&gt;    * Legenda peta ; adalah simbol-simbol yang dipakai dalam peta tersebut, dibuat untuk memudahkan pembaca menganalisa peta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, peta yang lazim digunakan adalah peta keluaran Direktorat Geologi Bandung, lalu peta dari Jawatan Topologi, yang sering disebut sebagai peta AMS (American Map Service) dibuat oleh Amerika dan rata-rata dikeluarkan pada tahun 1960.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peta AMS biasanya berskala 1:50.000 dengan interval kontur (jarak antar kontur) 25 m. Selain itu ada peta keluaran Bakosurtanal (Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional) yang lebih baru, dengan skala 1:50.000 atau 1:25.000 (dengan interval kontur 12,5 m). Peta keluaran Bakosurtanal biasanya berwarna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koordinat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peta Topografi selalu dibagi dalam kotak-kotak untuk membantu menentukan posisi dipeta dalam hitungan koordinat. Koordinat adalah kedudukan suatu titik pada peta. Secara teori, koordinat merupakan titik pertemuan antara absis dan ordinat. Koordinat ditentukan dengan menggunakan sistem sumbu, yakni perpotongan antara garis-garis yang tegak lurus satu sama lain. Sistem koordinat yang resmi dipakai ada dua macam yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Koordinat Geografis (Geographical Coordinate) ; Sumbu yang digunakan adalah garis bujur (bujur barat dan bujur timur) yang tegak lurus dengan garis khatulistiwa, dan garis lintang (lintang utara dan lintang selatan) yang sejajar dengan garis khatulistiwa. Koordinat geografis dinyatakan dalam satuan derajat, menit dan detik. Pada peta Bakosurtanal, biasanya menggunakan koordinat geografis sebagai koordinat utama. Pada peta ini, satu kotak (atau sering disebut satu karvak) lebarnya adalah 3.7 cm. Pada skala 1:25.000, satu karvak sama dengan 30 detik (30"), dan pada peta skala 1:50.000, satu karvak sama dengan 1 menit (60").&lt;br /&gt;   2. Koordinat Grid (Grid Coordinate atau UTM) ; Dalam koordinat grid, kedudukan suatu titik dinyatakan dalam ukuran jarak setiap titik acuan. Untuk wilayah Indonesia, titik acuan berada disebelah barat Jakarta (60 LU, 980 BT). Garis vertikal diberi nomor urut dari selatan ke utara, sedangkan horizontal dari barat ke timur. Sistem koordinat mengenal penomoran 4 angka, 6 angka dan 8 angka. Pada peta AMS, biasanya menggunakan koordinat grid. Satu karvak sebanding dengan 2 cm. Karena itu untuk penentuan koordinat koordinat grid 4 angka, dapat langsung ditentukan. Penentuan koordinat grid 6 angka, satu karvak dibagi terlebih dahulu menjadi 10 bagian (per 2 mm). Sedangkan penentuan koordinat grid 8 angka dibagi menjadi sepuluh bagian (per 1 mm).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisa Peta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu faktor yang sangat penting dalam navigasi darat adalah analisa peta. Dengan satu peta, kita diharapkan dapat memperoleh informasi sebanyak-banyaknya tentang keadaan medan sebenarnya, meskipun kita belum pernah mendatangi daerah di peta tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Unsur dasar peta ; Untuk dapat menggali informasi sebanyak-banyaknya, pertama kali kita harus cek informasi dasar di peta tersebut, seperti judul peta, tahun peta itu dibuat, legenda peta dan sebagainya. Disamping itu juga bisa dianalisa ketinggian suatu titik (berdasarkan pemahaman tentang kontur), sehingga bisa diperkirakan cuaca, dan vegetasinya.&lt;br /&gt;   2. Mengenal tanda medan ; Disamping tanda pengenal yang terdapat dalam legenda peta, kita dapat menganalisa peta topografi berdasarkan bentuk kontur. Beberapa ciri kontur yang perlu dipahami sebelum menganalisa tanda medan :&lt;br /&gt;          * Antara garis kontur satu dengan yang lainnya tidak pernah saling berpotongan&lt;br /&gt;          * Garis yang berketinggian lebih rendah selalu mengelilingi garis yang berketinggian lebih tinggi, kecuali diberi keterangan secara khusus, misalnya kawah&lt;br /&gt;          * Beda ketinggian antar kontur adalah tetap meskipun kerapatan berubah-ubah&lt;br /&gt;          * Daerah datar mempunyai kontur jarang-jarang sedangkan daerah terjal mempunyai kontur rapat.&lt;br /&gt;          * Beberapa tanda medan yang dapat dikenal dalam peta topografi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         1. Puncak bukit atau gunung biasanya berbentuk lingkaran kecil, tertelak ditengah-tengah lingkaran kontur lainnya.&lt;br /&gt;         2. Punggungan terlihat sebagai rangkaian kontur berbentuk U yang ujungnya melengkung menjauhi puncak&lt;br /&gt;         3. Lembahan terlihat sebagai rangkaian kontur berbentuk V yang ujungnya tajam menjorok kepuncak. Kontur lembahan biasanya rapat.&lt;br /&gt;         4. Saddle, daerah rendah dan sempit diantara dua ketinggian&lt;br /&gt;         5. Pass, merupakan celah memanjang yang membelah suatu ketinggian&lt;br /&gt;         6. Sungai, terlihat dipeta sebagai garis yang memotong rangkaian kontur, biasanya ada di lembahan, dan namanya tertera mengikuti alur sungai. Dalam membaca alur sungai ini harap diperhatikan lembahan curam, kelokan-kelokan dan arah aliran.&lt;br /&gt;         7. Bila peta daerah pantai, muara sungai merupakan tanda medan yang sangat jelas, begitu pula pulau-pulau kecil, tanjung dan teluk&lt;br /&gt;         8. Pengertian akan tanda medan ini mutlak diperlukan, sebagai asumsi awal dalam menyusun perencanaan perjalanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompas adalah alat penunjuk arah, dan karena sifat magnetnya, jarumnya akan selalu menunjuk arah utara-selatan (meskipun utara yang dimaksud disini bukan utara yang sebenarnya, tapi utara magnetis). Secara fisik, kompas terdiri dari :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Badan, tempat komponen lainnya berada&lt;br /&gt;    * Jarum, selalu menunjuk arah utara selatan, dengan catatan tidak dekat dengan megnet lain/tidak dipengaruhi medan magnet, dan pergerakan jarum tidak terganggu/peta dalam posisi horizontal.&lt;br /&gt;    * Skala penunjuk, merupakan pembagian derajat sistem mata angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis kompas yang biasa digunakan dalam navigasi darat ada dua macam yakni kompas bidik (misal kompas prisma) dan kompas orienteering (misal kompas silva, suunto dll). Untuk membidik suatu titik, kompas bidik jika digunakan secara benar lebih akurat dari kompas silva. Namun untuk pergerakan dan kemudahan ploting peta, kompas orienteering lebih handal dan efisien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam memilih kompas, harus berdasarkan penggunaannya. Namun secara umum, kompas yang baik adalah kompas yang jarumnya dapat menunjukkan arah utara secara konsisten dan tidak bergoyang-goyang dalam waktu lama. Bahan dari badan kompas pun perlu diperhatikan harus dari bahan yang kuat/tahan banting mengingat kompas merupakan salah satu unsur vital dalam navigasi darat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cttn: saat ini sudah banyak digunakan GPS [global positioning system] dengan tehnologi satelite untuk mengantikan beberapa fungsi kompas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orientasi Peta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orientasi peta adalah menyamakan kedudukan peta dengan medan sebenarnya (atau dengan kata lain menyamakan utara peta dengan utara sebenarnya). Sebelum anda mulai orientasi peta, usahakan untuk mengenal dulu tanda-tanda medan sekitar yang menyolok dan posisinya di peta. Hal ini dapat dilakukan dengan pencocokan nama puncakan, nama sungai, desa dll. Jadi minimal anda tahu secara kasar posisi anda dimana. Orientasi peta ini hanya berfungsi untuk meyakinkan anda bahwa perkiraan posisi anda dipeta adalah benar. Langkah-langkah orientasi peta:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Usahakan untuk mencari tempat yang berpemandangan terbuka agar dapat melihat tanda-tanda medan yang menyolok.&lt;br /&gt;   2. Siapkan kompas dan peta anda, letakkan pada bidang datar&lt;br /&gt;   3. Utarakan peta, dengan berpatokan pada kompas, sehingga arah peta sesuai dengan arah medan sebenarnya&lt;br /&gt;   4. Cari tanda-tanda medan yang paling menonjol disekitar anda, dan temukan tanda-tanda medan tersebut di peta. Lakukan hal ini untuk beberapa tanda medan&lt;br /&gt;   5. Ingat tanda-tanda itu, bentuknya dan tempatnya di medan yang sebenarnya. Ingat hal-hal khas dari tanda medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda sudah lakukan itu semua, maka anda sudah mempunyai perkiraan secara kasar, dimana posisi anda di peta. Untuk memastikan posisi anda secara akurat, dipakailah metode resection.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resection&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip resection adalah menentukan posisi kita dipeta dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan yang dikenali. Teknik ini paling tidak membutuhkan dua tanda medan yang terlihat jelas dalam peta dan dapat dibidik pada medan sebenarnya (untuk latihan resection biasanya dilakukan dimedan terbuka seperti kebun teh misalnya, agar tanda medan yang ekstrim terlihat dengan jelas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak setiap tanda medan harus dibidik, minimal dua, tapi posisinya sudah pasti.&lt;br /&gt;Langkah-langkah melakukan resection:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Lakukan orientasi peta&lt;br /&gt;   2. Cari tanda medan yang mudah dikenali di lapangan dan di peta, minimal 2 buah&lt;br /&gt;   3. Dengan busur dan penggaris, buat salib sumbu pada tanda-tanda medan tersebut (untuk alat tulis paling ideal menggunakan pensil mekanik-B2).&lt;br /&gt;   4. Bidik tanda-tanda medan tersebut dari posisi kita dengan menggunakan kompas bidik. Kompas orienteering dapat digunakan, namun kurang akurat.&lt;br /&gt;   5. Pindahkan sudut back azimuth bidikan yang didapat ke peta dan hitung sudut pelurusnya. Lakukan ini pada setiap tanda medan yang dijadikan sebagai titik acuan.&lt;br /&gt;   6. Perpotongan garis yang ditarik dari sudut-sudut pelurus tersebut adalah posisi kita dipeta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intersection&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip intersection adalah menentukan posisi suatu titik (benda) di peta dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan yang dikenali di lapangan. Intersection digunakan untuk mengetahui atau memastikan posisi suatu benda yang terlihat dilapangan tetapi sukar untuk dicapai atau tidak diketahui posisinya di peta. Syaratnya, sebelum intersection kita sudah harus yakin terlebih dahulu posisi kita dipeta. Biasanya sebelum intersection, kita sudah melakukan resection terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah-langkah melakukan intersection adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Lakukan orientasi peta&lt;br /&gt;   2. Lakukan resection untuk memastikan posisi kita di peta.&lt;br /&gt;   3. Bidik obyek yang kita amati&lt;br /&gt;   4. Pindahkan sudut yang didapat ke dalam peta&lt;br /&gt;   5. Bergerak ke posisi lain dan pastikan posisi tersebut di peta. Lakukan langkah 1-3&lt;br /&gt;   6. Perpotongan garis perpanjangan dari dua sudut yang didapat adalah posisi obyek yang dimaksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azimuth - Back Azimuth&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azimuth adalah sudut antara satu titik dengan arah utara dari seorang pengamat. Azimuth disebut juga sudut kompas. Jika anda membidik sebuah tanda medan, dan memperolah sudutnya, maka sudut itu juga bisa dinamakan sebagai azimuth. Kebalikannya adalah back azimuth. Dalam resection back azimuth diperoleh dengan cara:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Jika azimuth yang kita peroleh lebih dari 180º maka back azimuth adalah azimuth dikurangi 180º. Misal anda membidik tanda medan, diperoleh azimuth 200º. Back azimuthnya adalah 200º- 180º = 20º&lt;br /&gt;    * Jika azimuth yang kita peroleh kurang dari 180º, maka back azimuthnya adalah 180º ditambah azimuth. Misalkan, dari bidikan terhadap sebuah puncak, diperoleh azimuth 160º, maka back azimuthnya adalah 180º+160º = 340º&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengetahui azimuth dan back azimuth ini, memudahkan kita untuk dapat melakukan ploting peta (penarikan garis lurus di peta berdasarkan sudut bidikan). Selain itu sudut kompas dan back azimuth ini dipakai dalam metode pergerakan sudut kompas (lurus/ man to man-biasa digunakan untuk “Kompas Bintang”). Prinsipnya membuat lintasan berada pada satu garis lurus dengan cara membidikaan kompas ke depan dan ke belakang pada jarak tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Titik awal dan titik akhir perjalanan di plot di peta, tarik garis lurus dan hitung sudut yang menjadi arah perjalanan (sudut kompas). Hitung pula sudut dari titik akhir ke titik awal. Sudut ini dinamakan back azimuth.&lt;br /&gt;   2. Perhatikan tanda medan yang menyolok pada titik awal perjalanan. Perhatikan tanda medan lain pada lintasan yang dilalui.&lt;br /&gt;   3. Bidikkan kompas seusai dengan arah perjalanan kita, dan tentukan tanda medan lain di ujung lintasan/titik bidik. Sudut bidikan ini dinamakan azimuth.&lt;br /&gt;   4. Pergi ke tanda medan di ujung lintasan, dan bidik kembali ke titik pertama tadi, untuk mengecek apakah arah perjalanan sudah sesuai dengan sudut kompas (back azimuth).&lt;br /&gt;   5. Sering terjadi tidak ada benda/tanda medan tertentu yang dapat dijadikan sebagai sasaran. Untuk itu dapat dibantu oleh seorang rekan sebagai tanda. Sistem pergerakan semacam ini sering disebut sebagai sistem man to man.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merencanakan Jalur Lintasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam navigasi darat tingkat lanjut, kita diharapkan dapat menyusun perencanaan jalur lintasan dalam sebuah medan perjalanan. Sebagai contoh anda misalnya ingin pergi ke suatu gunung, tapi dengan menggunakan jalur sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyusunan jalur ini dibutuhkan kepekaan yang tinggi, dalam menafsirkan sebuah peta topografi, mengumpulkan data dan informasi dan mengolahnya sehingga anda dapat menyusun sebuah perencanaan perjalanan yang matang. Dalam proses perjalanan secara keseluruhan, mulai dari transportasi sampai pembiayaan, disini kita akan membahas khusus tentang perencanaan pembuatan medan lintasan. Ada beberapa hal yang dapat dijadikan bahan pertimbangan sebelum anda memplot jalur lintasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, anda harus membekali dulu kemampuan untuk membaca peta, kemampuan untuk menafsirkan tanda-tanda medan yang tertera di peta, dan kemampuan dasar navigasi darat lain seperti resection, intersection, azimuth back azimuth, pengetahuan tentang peta kompas, dan sebagainya, minimal sebagaimana yang tercantum dalam bagian sebelum ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, selain informasi yang tertera dipeta, akan lebih membantu dalam perencanaan jika anda punya informasi tambahan lain tentang medan lintasan yang akan anda plot. Misalnya keterangan rekan yang pernah melewati medan tersebut, kondisi medan, vegetasi dan airnya. Semakin banyak informasi awal yang anda dapat, semakin matang rencana anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang jalurnya sendiri, ada beberapa macam jalur lintasan yang akan kita buat. Pertama adalah tipe garis lurus, yakni jalur lintasan berupa garis yang ditarik lurus antara titik awal dan titik akhir. Kedua, tipe garis lurus dengan titik belok, yakni jalur lintasan masih berupa garis lurus, tapi lebih fleksibel karena pada titik-titik tertentu kita berbelok dengan menyesuaian kondisi medan. Yang ketiga dengan guide/patokan tanda medan tertentu, misalnya guide punggungan/guide lembahan/guide sungai. Jalur ini lebih fleksibel karena tidak lurus benar, tapi menyesuaikan kondisi medan, dengan tetap berpatokan tanda medan tertentu sebagai petokan pergerakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membuat jalur lintasan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Usahakan titik awal dan titik akhir adalah tanda medan yang ekstrim, dan memungkinkan untuk resection dari titik-titik tersebut.&lt;br /&gt;   2. Titik awal harus mudah dicapai/gampang aksesnya&lt;br /&gt;   3. Disepanjang jalur lintasan harus ada tanda medan yang memadai untuk dijadikan sebagai patokan, sehingga dalam perjalanan nanti anda dapat menentukan posisi anda di peta sesering mungkin.&lt;br /&gt;   4. Dalam menentukan jalur lintasan, perhatikan kebutuhan air, kecepatan pergerakan vegetasi yang berada dijalur lintasan, serta kondisi medan lintasan. Anda harus bisa memperkirakan hari ke berapa akan menemukan air, hari ke berapa medannya berupa tanjakan terjal dan sebagainya.&lt;br /&gt;   5. Mengingat banyaknya faktor yang perlu diperhatikan, usahakan untuk selalu berdiskusi dengan regu atau dengan orang yang sudah pernah melewati jalur tersebut sehingga resiko bisa diminimalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penampang Lintasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penampang lintasan adalah penggambaran secara proporsional bentuk jalur lintasan jika dilihat dari samping, dengan menggunakan garis kontur sebagai acuan. Sebagaimana kita ketahui bahwa peta topografi yang dua dimensi, dan sudut pendangnya dari atas, agak sulit bagi kita untuk membayangkan bagaimana bentuk medan lintasan yang sebenarnya, terutama menyangkut ketinggian. Dalam kontur yang kerapatannya sedemikian rupa, bagaimana kira-kira bentuk di medan sebenarnya. Untuk memudahkan kita menggambarkan bentuk medan dari peta topografi yang ada, maka dibuatlah penampang lintasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa manfaat penampang lintasan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun perencanaan perjalanan&lt;br /&gt;   2. Memudahkan kita untuk menggambarkan kondisi keterjalan dan kecuraman medan&lt;br /&gt;   3. Dapat mengetahui titik-titik ketinggian dan jarak dari tanda medan tertentu&lt;br /&gt;   4. Untuk menyusun penampang lintasan biasanya menggunakan kertas milimeter block, guna menambah akurasi penerjemahan dari peta topografi ke penampang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah-langkah membuat penampang lintasan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Siapkan peta yang sudah diplot, kertas milimeter blok, pensil mekanik/pensil biasa yang runcing, penggaris dan penghapus&lt;br /&gt;   2. Buatlah sumbu x, dan y. sumbu x mewakili jarak, dengan satuan rata-rata jarak dari lintasan yang anda buat. Misal meter atau kilometer. Sumbu y mewakili ketinggian, dengan satuan mdpl (meter diatas permukaan laut). Angkanya bisa dimulai dari titik terendah atau dibawahnya dan diakhiri titik tertinggi atau diatasnya.&lt;br /&gt;   3. Tempatkan titik awal di sumbu x=0 dan sumbu y sesuai dengan ketinggian titik tersebut. Lalu peda perubahan kontur berikutnya, buatlah satu titik lagi, dengan jarak dan ketinggian sesuai dengan perubahan kontur pada jalur yang sudah anda buat. Demikian seterusnya hingga titik akhir.&lt;br /&gt;   4. Perubahan satu kontur diwakili oleh satu titik. Titik-titik tersebut dihubungkan sat sama lainnya hingga membentuk penampang berupa garis menanjak, turun dan mendatar.&lt;br /&gt;   5. Tembahkan keterangan pada tanda-tanda medan tertentu, misalkan nama-nama sungai, puncakan dan titik-titik aktivitas anda (biasanya berupa titik bivak dan titik istirahat), ataupun tanda medan lainnya. Tambahan informasi tentang vegetasi pada setiap lintasan, dan skala penampang akan lebih membantu pembaca dalam menggunakan penampang yang telah dibuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah hai engkau penjelahan alam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Take nothing, but pictures [jangan ambil sesuatu kecuali gambar]&lt;br /&gt;   2. Kill nothing, but times [jangan bunuh sesuatu kecuali waktu]&lt;br /&gt;   3. Leave nothing, but foot-print [jangan tinggalkan sesuatu kecuali jejak kaki]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2004672938421045134-481370433649362548?l=satoesyndicate.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/feeds/481370433649362548/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2004672938421045134&amp;postID=481370433649362548' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/481370433649362548'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/481370433649362548'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/2009/05/pengetahuan-dasar-navigasi-darat.html' title='PENGETAHUAN DASAR NAVIGASI DARAT'/><author><name>satoe syndicate</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08856438899076171009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2004672938421045134.post-2757265388841693719</id><published>2009-05-14T08:38:00.001-07:00</published><updated>2009-05-14T08:39:41.625-07:00</updated><title type='text'>Tumbuhan Hutan ( Survival I )</title><content type='html'>Aktivitas di alam terbuka sering memunculkan situasi darurat. Tersesat, terhadang cuaca buruk, atau kehabisan bekal. Jangan panik, tumbuhan liar hutan menyediakan aneka daun, buah, umbi, batang yang bisa dimakan, asalkan kita mengenal ciri-cirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arbei hutan (Rubus) rasanya menggiurkan. Kalau Anda mengaku pencinta alam yang doyan menempuh rimba atau mendaki gunung, pasti kenal dengan istilah survival, yaitu upaya untuk bisa bertahan hidup di alam liar. Pengetahuan survival wajib dikuasai oleh para petualang untuk menghadapi situasi darurat lantaran kehilangan orientasi atau kehabisan bekal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiat hidup darurat ini penting, soalnya alam kerap sulit diprediksi perilakunya, walaupun sejak awal Anda telah mempersiapkan segala sesuatu secermat mungkin. Misalnya peta lokasi, kompas, global positioning system (alat untuk mengetahui posisi sesaat dengan bantuan satelit), alat komunikasi (HT, HP), bekal, dan obat-obatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pengetahuan survival yang andal, Anda seperti mempunyai jurus pamungkas yang sewaktu-waktu bisa dikeluarkan di saat posisi terjepit.  Sebagian dari ilmu survival itu adalah pengetahuan tentang aneka tumbuhan liar yang layak dan aman untuk dimakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut para ahli, 10% dari keseluruhan jenis tumbuhan berbunga di dunia ada di Indonesia. Artinya kita memiliki kurang lebih 25.000 jenis tumbuhan berbunga. Jika ditambah dengan tumbuhan tak berbunga dan jamur, maka jumlahnya akan berlipat-lipat. Dari keseluruhan jenis tumbuhan itu ada yang beracun, ada yang bisa dimakan, dan ada yang disarankan untuk dimakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak beracun = dimakan satwa&lt;br /&gt;Untuk mengetahui apakah suatu jenis tumbuhan di hutan aman atau tidak untuk dimakan, ada beberapa kunci yang bisa dijadikan pegangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumbuhan yang daun, bunga, buah, atau umbinya biasa dimakan oleh satwa liar, adalah tumbuhan yang tidak beracun. Jadi kita bisa mengkonsumsinya.  Sementara, tumbuhan yang berbau tidak sedap dan bisa membuat pusing, serta tidak disentuh oleh binatang liar, sebaiknya jangan disentuh. Juga tumbuhan bergetah yang membikin kulit gatal, dianjurkan untuk dihindari.  Buah senggani (Melastoma sp.) boleh dimakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumbuhan lain yang perlu disingkirkan adalah tanaman yang daunnya bergetah pekat, berwarna mencolok, berbulu, atau permukaannya kasar. Tanaman dengan daun yang keras atau liat juga jangan dikonsumsi. Jika mendapatkan tumbuhan kemaduh (Laportea stimulans) waspadalah lantaran bulu pada daunnya membuat kulit gatal dan panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu beberapa jenis tumbuhan yang mungkin ditemui di hutan dan dapat dimakan meliputi beragam jenis. Di antaranya keluarga palem-paleman, misalnya kelapa, kelapa sawit, sagu, nipah, aren, dan siwalan. Bukan hanya bagian umbutnya (bagian ujung batang muda dan berwarna putih) yang bisa dimakan, tapi juga buahnya (seperti kelapa dan siwalan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis jambu-jambuan yang masuk dalam keluarga Myrtaceae juga banyak dijumpai di hutan. Ciri-ciri Myrtaceae adalah daunnya berbau agak manis jika diremas.  Bunganya memiliki banyak sekali benang sari dengan buah yang enak dimakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumbuhan semak dari keluarga begonia juga bisa jadi penyelamat dalam keadaan darurat. Daun begonia umumnya berbentuk jantung tidak simetris. Beberapa jenis dijadikan tanaman hias. Bila tangkai daunnya yang masih muda dikupas dan dimakan, rasanya masam dan sedikit pahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa jenis keladi umbinya bisa dimakan, meski pada jenis lain umbinya menyebabkan gatal di mulut dan bibir. Untuk itu dianjurkan untuk tidak sembarangan melahap keladi hutan. Sebaiknya dicoba dulu dalam jumlah kecil.  Hindari makan iles-iles (Amorphophallus sp.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumbuhan merambat dan melilit di pohon lain, bisa dimakan jika lilitan batang ke arah kanan (searah dengan jarum jam). Di antaranya gembili (Dioscorea aculeata), gembolo (Dioscorea bulbifera), ubi rambat. Tapi bila arah lilitannya ke kiri (berlawanan arah jarum jam) dan batangnya berduri, harus ekstrahati-hati. Jenis yang kedua ini misalnya gadung (Dioscorea hispida), yang beracun, walau tetap dapat dimakan setelah melalui proses pengolahan khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara keluarga rumput-rumputan seperti tebu dan beberapa jenis bambu, rebungnya enak dimakan. Demikian pula pisang hutan bisa langsung dikonsumsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat yang lembap dan tinggi, jenis paku-pakuan tunas dan daun mudanya enak dimakan. Tumbuhan lain yang buahnya juga bisa dimakan misalnya markisa (Passiflora sp.). Markisa ini adalah tumbuhan merambat dengan bunga khas.  Beberapa anggota keluarga sirsak (Annonaceae), misalnya Annona muricata, daging buahnya segar. Buah lainnya semisal senggani (Melastoma sp.), arbei hutan (Rubus), dan anggur hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hindari warna mencolok&lt;br /&gt;Selain tumbuhan di atas, jamur juga bisa menjadi dewa penyelamat bila tersesat. Menurut literatur, sudah ditemukan 38.000 jenis jamur di seantero dunia. Di antaranya ada yang enak dimakan, tapi sayang, yang tidak boleh dimakan karena beracun lebih banyak lagi. Tidak heran bila budaya makan jamur yang layak konsumsi konon sudah ada sejak jaman Mesir Kuno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengetahui jamur itu beracun atau tidak, bisa dilihat dari bentuk, warna, dan tempat tumbuhnya. Sementara di laboratorium, bisa dilakukan analisis secara kimiawi maupun dengan hewan percobaan. Tetapi jika sedang dihadapkan pada masalah mendesak survival di hutan belantara, mustahil bisa pergi ke laboratorium dulu untuk memastikan apakah jamur yang ditemukan itu beracun atau tidak. Karena itu kita perlu mengenal jamur-jamur yang biasa dikonsumsi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghindari makan jamur liar beracun, perlu diketahui ciri-cirinya.  Yaitu, warna payungnya gelap atau mencolok misalnya biru, kuning, jingga, merah. Perkecualian untuk jamur kuping dengan payung coklat yang toh juga dapat dimakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bau tidak sedap lantaran kandungan asam sulfida atau amonia juga sekaligus menunjukkan jamur tersebut tak layak konsumsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah Anda, beberapa jenis jamur ada yang memiliki cincin atau cawan pada tangkainya, misalnya jenis Amanita muscaria, dalam bahasa Jawa disebut supa-upas. Bentuknya seperti payung putih kekuningan, bagian payungnya warna merah bintik-bintik putih. Awas, racun pada jamur ini tergolong racun kuat.  Beda dengan jamur merang (Volvariella volvacea), meski mempunyai cincin tetapi bisa dimakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jamur beracun umumnya tumbuh di tempat kotor, misalnya pada kotoran hewan dsb. Mereka dapat berubah warna jika dipanasi. Jika diiris dengan pisau perak atau digoreskan pada perkakas perak akan meninggalkan warna biru.  Warna biru ini disebabkan kandungan sianida atau sulfida, yang beracun.  Sementara nasi akan berwarna kuning jika dicampur jamur beracun. Petunjuk lain, ia juga tidak dimakan oleh hewan liar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Repotnya jenis jamur ini juga berbahaya kalau sampai sporanya menempel pada kulit, karena dapat menyebabkan kulit gatal, bahkan melepuh. Bagaiamana ciri-ciri orang yang keracunan jamur? Selidikilah, apakah ia pusing, perut sakit terutama ulu hati, mual, sering buang air kecil, tubuh lemas, pucat?  Jika ia muntah, adakah darah pada muntahannya? Racun akibat jamur cukup ganas juga, kalau tidak tertolong korban bisa meninggal setelah 3 - 7 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum dimakan, tumbuhan liar di hutan sebaiknya dimasak dulu untuk mengurangi dampak buruk seperti diare dan alergi. Bagaimana kalau sedang coba-coba makan tumbuhan hutan lantas keracunan? Masih ada upaya menetraliskan. Upayakan untuk memuntahkannya dengan jalan "dipancing-pancing". Jika sudah muntah minumlah air kelapa. Pil norit mungkin bisa juga membantu mengurangi kadar racun, kalau ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adi Mustika - Pencinta Alam, Alumnus Fak. Biologi UGM&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2004672938421045134-2757265388841693719?l=satoesyndicate.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/feeds/2757265388841693719/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2004672938421045134&amp;postID=2757265388841693719' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/2757265388841693719'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/2757265388841693719'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/2009/05/tumbuhan-hutan-survival-i.html' title='Tumbuhan Hutan ( Survival I )'/><author><name>satoe syndicate</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08856438899076171009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2004672938421045134.post-3287652869177054667</id><published>2009-04-27T08:18:00.000-07:00</published><updated>2009-04-27T08:23:39.774-07:00</updated><title type='text'>Senyum atau seringai</title><content type='html'>sebar senyum ditelevisi, janji sana sini, koalisi sana sini.&lt;br /&gt;terlihat bodoh dan tolol ketika tersenyum, tapi malah lebih tampak menyeringai&lt;br /&gt;semua sibuk demi si bodoh&lt;br /&gt;tak sadar suatu saat dia dimakan yang menyeringai&lt;br /&gt;tak perlu berdalih...!!!&lt;br /&gt;aku tahu semua itu hanya sandiwara&lt;br /&gt;mengapa harus aku yang mau kau makan&lt;br /&gt;tidak..!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2004672938421045134-3287652869177054667?l=satoesyndicate.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/feeds/3287652869177054667/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2004672938421045134&amp;postID=3287652869177054667' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/3287652869177054667'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/3287652869177054667'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/2009/04/senyum-atau-seringai.html' title='Senyum atau seringai'/><author><name>satoe syndicate</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08856438899076171009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2004672938421045134.post-5020977897136652756</id><published>2009-01-07T21:17:00.000-08:00</published><updated>2009-01-07T21:18:17.307-08:00</updated><title type='text'>Dobrak</title><content type='html'>Catatan Oposisi&lt;br /&gt;==============&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanti, …Badai di Tengah Bisingnya Kehidupan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita datang dari peradaban purba, dimana ratusan tahun lalu nenek&lt;br /&gt;moyang bangsa kita bangun termegap-megap dari rimba kedunguan,&lt;br /&gt;kepandiran dan segala ketololan mereka. Ratusan tahun yang lalu pula&lt;br /&gt;setelah melewati tidur panjang yang akut pada sebuah jaman yang gelap,&lt;br /&gt;mereka mampu bangun dengan cita-citanya yang besar. Jayalah Nusantara&lt;br /&gt;pada jaman Majapahit dan Sriyijawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejayaan yang pernah mereka bangun dan citakan ternyata tidak bertahan&lt;br /&gt;lama. Merosotnya moral dan peradaban purba kembali menyelimuti mereka,&lt;br /&gt;karena memang bibit-bibit peradaban purba yang sepertinya telah&lt;br /&gt;mendarah daging itu tidak bisa dibasmi begitu saja. Dengan naiknya&lt;br /&gt;raja-raja lokal ke tahta kuasa yang hanya membawa&lt;br /&gt;pertikaian-pertikaian yang berkelanjutan hanya membawa mereka kembali&lt;br /&gt;ke jaman purba yang dulunya pernah ditinggalkan para pendahulu mereka.&lt;br /&gt;Datangnya kekuasan kulit putih dengan bedil dan logika mereka yang&lt;br /&gt;jalan, tentunya membawa bangsa kita ke lembah pejajahan dan penindasan&lt;br /&gt;yang sangat sedih dan memilukan. Tiga ratus lima puluh tahun kita&lt;br /&gt;ditindas sampai modar minta ampun, barulah kita bangkit dengan sebuah&lt;br /&gt;cita-cita yang luhur: Sebuah bangsa yang berpribadi dan merdeka!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua puluh tahun kemudian, tepatnya tiga puluh dua tahun sekarang ini.&lt;br /&gt;Setelah bangsa ini merdeka dari kolonialisme lima puluh tiga tahun&lt;br /&gt;yang lalu. Sang Angkara Murka, sisa-sisa keakutan dari masa purba&lt;br /&gt;unjuk gigi lagi setelah kudeta berdarah tahun ‘65 yang berbutut dengan&lt;br /&gt;pembantaian saudara sebangsa dan setanah airnya sendiri. Adakah di&lt;br /&gt;jaman moderen ini peradaban purba yang tidak mengenal logika dan akal&lt;br /&gt;sehat bisa berkuasa lagi? Jawabannya adalah: Orde Baru!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meniru salah satu ucapan Alber Camus, sastrawan Prancis yang namanya&lt;br /&gt;harum dalam kesustraan dunia dan perjuangan kemanusiaan itu, Camus&lt;br /&gt;berkata, “di dalam kebisingan di mana kita sekarang hidup, cinta&lt;br /&gt;mustahil dan keadilan tak mencukupi”. Inilah hidup yang bising, antara&lt;br /&gt;mimpi dan kenyataan sangat tipis bedanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga puluh dua tahun kita hidup dibawah rezim yang menjalankan&lt;br /&gt;kekuasaannya dengan menepiskan logika dan hati nurani. Kekuasaan yang&lt;br /&gt;datang dari jaman purba. Tentunya di jaman yang penuh dengan logika&lt;br /&gt;ini, adalah ibarat sebuah mimpi ada rezim yang seperti ini. Tapi&lt;br /&gt;jangan tepiskan Bung, ini bukan sekedar mimpi. Ini sebuah kenyataan&lt;br /&gt;yang pahit dan sangat tragik. Lima puluh tahun lebih bangsa ini&lt;br /&gt;membebaskan dirinya dari kolonialisme, tapi bangsa ini belum mampu&lt;br /&gt;membebaskan jiwa dan pikiran mereka dari mental perbudakan. Inilah&lt;br /&gt;sebuah kenyataan dimana kita membiarkan diri dan hati nurani kita&lt;br /&gt;ditindas oleh sebuah kuasa yang maha dasyat yang datang dari jaman&lt;br /&gt;purba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang kawan yang penyair, Saut Situmorang dalam sajaknya ‘Badai&lt;br /&gt;Penantian’ mencoba melukiskan perjalanan bangsa yang panjang dan&lt;br /&gt;menyedikan ini, entah kapan berakhirnya. Bangsa yang hidup antara&lt;br /&gt;mimpi dan kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;langit sunyi. terbakar&lt;br /&gt;matahari, dan angin mati.&lt;br /&gt;terpaku semua yang hidup di bumi.&lt;br /&gt;menanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;badai sembunyi di gunung gunung&lt;br /&gt;badai sembunyi di hutan hutan&lt;br /&gt;badai sembunyi di mata air&lt;br /&gt;di danau danau di sungai sungai&lt;br /&gt;badai sembunyi di kampung kampung gersang&lt;br /&gt;di gunung gunung tumbang di hutan hutan arang&lt;br /&gt;di tepi mata air polusi di tepi danau polusi di tepi sungai polusi&lt;br /&gt;badai sembunyi di pantai pantai di laut sembilu&lt;br /&gt;di kota kota hangus tak lagi dikenal&lt;br /&gt;kota kecil kota besar&lt;br /&gt;kotamu kotaku&lt;br /&gt;badai sembunyi di rumah rumah berdinding beratap debu&lt;br /&gt;di didih aspal jalanan&lt;br /&gt;di kerikil kerikil tajam mimpimu&lt;br /&gt;dalam lagu bosan anak anakmu&lt;br /&gt;di uban pertama istrimu yang tak mau&lt;br /&gt;lagi ketawa&lt;br /&gt;badai sembunyi di aspal jalanan&lt;br /&gt;kerikil kerikil tajam kampung kampung terlantar&lt;br /&gt;kota kota terbongkar&lt;br /&gt;yang milikmu yang milikku&lt;br /&gt;badai sembunyi di kampus kampus wesel terlambat&lt;br /&gt;di pabrik pabrik keringat menyengat&lt;br /&gt;di penjara penjara berkakus tumpat lantai bau pantat&lt;br /&gt;milikmu milikku milik kau dan aku&lt;br /&gt;badai sembunyi di mata mata itu&lt;br /&gt;yang tertunduk memandang bumi itu&lt;br /&gt;di dada dada itu&lt;br /&gt;yang tertunduk mendekap bumi itu&lt;br /&gt;di kaki kaki itu&lt;br /&gt;yang tertunduk menekuk bumi itu&lt;br /&gt;di tangan tangan itu&lt;br /&gt;yang terkepal menahan bumi itu&lt;br /&gt;dan di kuburan pun sembunyi badai&lt;br /&gt;antara nisan nisan berhuruf&lt;br /&gt;merah jingga&lt;br /&gt;dan bunga kemboja rusak daunnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;badai sembunyi di negeri ini&lt;br /&gt;negerimu,&lt;br /&gt;negeriku ini. dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menanti. menanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, dalam hidup yang bising ini, dibawah cekikan rezim yang&lt;br /&gt;datang dari masa purba. Badai-badai bersembunyi dari Sabang-Merauke,&lt;br /&gt;dari gunung-gunung yang mengalir ke sungai-sungai menuju samudra luas.&lt;br /&gt;bersembunyi di desa-desa yang subur namun rakyat negeri ini miskin&lt;br /&gt;melata menjadi kurban-kurban tumbal buat sebuah ambisi rezim yang&lt;br /&gt;berkuasa yang bernama: pembangunan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai kapankah kita akan menanti? Apakah kita akan membiarkan bangsa&lt;br /&gt;ini berlarut-larut tenggelam dalam peradaban purba yang hanya akan&lt;br /&gt;mematikan daya hidup, dan akhirnya kita terkapar sunyi dalam tidur&lt;br /&gt;panjang bersama kematian hati nurani kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin (?) memang hati nurani kita belum mati, dan rasanya tidak&lt;br /&gt;perlu menunggu terlalu lama lagi, karena seperti kata kawan Saut bahwa&lt;br /&gt;badai itu ada dimana-mana. Sekaranglah saatnya kita untuk bangun dari&lt;br /&gt;setengah kematian ini. Bukankah dengan membiarkan segala kejahatan&lt;br /&gt;yang diperbuat rezim ini selama tiga puluh tahun lebih kita telah&lt;br /&gt;mengalami setengah kematian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat kita yang hidup dalam jaman yang bising ini, kita-kita yang belum&lt;br /&gt;mengalami kematian penuh dalam hati nurani kita. Bangkitlah kita untuk&lt;br /&gt;menghadang dan merubuhkan rezim yang semakin akut ini. Tentunya kita&lt;br /&gt;tidak salah jika berpihak pada akal sehat dan hati nurani kita. Itu&lt;br /&gt;juga kalau kita tidak mau mati dan ambruk bersama rezim ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucok Dobrak Nasution&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2004672938421045134-5020977897136652756?l=satoesyndicate.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/feeds/5020977897136652756/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2004672938421045134&amp;postID=5020977897136652756' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/5020977897136652756'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/5020977897136652756'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/2009/01/dobrak.html' title='Dobrak'/><author><name>satoe syndicate</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08856438899076171009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2004672938421045134.post-5761959401949054984</id><published>2009-01-07T21:16:00.000-08:00</published><updated>2009-01-07T21:17:26.560-08:00</updated><title type='text'>dongeng urang Subang</title><content type='html'>sampurasun….&lt;br /&gt;bade ngadongeng ah…&lt;br /&gt;judulna terserah naon weh..ku,aha anu maca&lt;br /&gt;kieu caritana….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;si aceng lulumpatan bari seuri bangun hate anu bungah rek ngamprokan indungna. ma…ema..ma…si aceng kokotetengan neangan indungna. naon ceng, tembal si ema. ma, urang ayeuna mah moal sangara deui jiga ayeuna ceuj si aceng bari nyuruput kopi sesa kamari. naon kitu ceng, silaing meunang lauk emas diwalungan? tembal deui si ema. leuwih ti eta ma…ceuk si aceng negeskeun. aceng ditunjuk ku ki demang pikeun jadi wakilna di pamarentahan urang ieu. bakal beunghar urang ma…ceuk si aceng bari melak cangkeng. naha, pedah naon ki demang nunjuk silaing ceng..? asa araneh ema mah..maneh sakola ge henteu, boro-boro sakola. ayeuna wae maneh kudu mantuan ema neangan pisangueun, ceuj si ema heraneun. teu pira ma…ki demang nunjuk aceng jadi wakilna pedah aceng daek dititah ungkug-ungkugan. nalahan nah, ki demang ngomong kieu ‘bageur maneh ceng, sing nurut ka kawula’ bari ngusap hulu aceng, tembal si aceng. ema teu loba carita ngan bengong anggeur teu ngarti…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.satoesyndicate.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2004672938421045134-5761959401949054984?l=satoesyndicate.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/feeds/5761959401949054984/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2004672938421045134&amp;postID=5761959401949054984' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/5761959401949054984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/5761959401949054984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/2009/01/dongeng-urang-subang.html' title='dongeng urang Subang'/><author><name>satoe syndicate</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08856438899076171009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2004672938421045134.post-9184636432937071555</id><published>2009-01-07T21:14:00.000-08:00</published><updated>2009-01-07T21:16:27.456-08:00</updated><title type='text'>wawar keur urang Subang</title><content type='html'>sampurasun…&lt;br /&gt;reuseup ah ayeuna mah palay ngobrol jeung urang subang deui teh asa garampil. bade wawar ka sadaya urang subang, “dulur…tong kabeh hayang jadi PNS. komo kudu sugak-sogok mah. hayu urang babarengan neangan rizki ku cara dagang. loba anu bisa dikembangkeun dikota urang ieu. jeung ulah poho jajaten urang sunda. duduluran, sauyunan, tong loba kapiweuruh ku adat urang kapitalis. silih angkat, silih tulung, gotongroyong jadikeun jajaten dikabeh diri urang subang. anu leutik hormat ka nu leuwih kolot, nu leuwih kolot nyaah ka nu leuwih leutik. anu leuwih mere ka nu kurang. kade bahaya laten kapitalis, nu beunghar makin beunghar, nu kakurangan kapaehan kalaparan. pajabat korup haha hihi meuli taneh di ditu di dieu, teu inget ka rahayat subang anu keur ngabangingis ceurik kalaparan. ka dulur kabeh, hayu urang tekadkeun ka hate bararea, SUBANG ANU URANG, ALUS GORENGNA KUMAHA URANG. SUBANG LAIN ANU PAJABAT, TAPI PAJABAT KUDU MANTUAN URANG KEUR NGAJADIKEUN ALUS KOTA URANG. nuhun ah…&lt;br /&gt;permios…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2004672938421045134-9184636432937071555?l=satoesyndicate.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/feeds/9184636432937071555/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2004672938421045134&amp;postID=9184636432937071555' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/9184636432937071555'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/9184636432937071555'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/2009/01/wawar-keur-urang-subang.html' title='wawar keur urang Subang'/><author><name>satoe syndicate</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08856438899076171009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2004672938421045134.post-8413424107891738100</id><published>2008-10-13T00:02:00.000-07:00</published><updated>2009-04-27T08:17:49.389-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_IgD-3m4EkeY/SPLyy2YEQdI/AAAAAAAAAAk/QrdN5BU5COU/s1600-h/gelar+satoe.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_IgD-3m4EkeY/SPLyy2YEQdI/AAAAAAAAAAk/QrdN5BU5COU/s200/gelar+satoe.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5256530670498628050" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Go green for the universe&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2004672938421045134-8413424107891738100?l=satoesyndicate.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/feeds/8413424107891738100/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2004672938421045134&amp;postID=8413424107891738100' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/8413424107891738100'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2004672938421045134/posts/default/8413424107891738100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satoesyndicate.blogspot.com/2008/10/gelar.html' title=''/><author><name>satoe syndicate</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08856438899076171009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_IgD-3m4EkeY/SPLyy2YEQdI/AAAAAAAAAAk/QrdN5BU5COU/s72-c/gelar+satoe.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
